Reaksi Publik: Pro dan Kontra
Meski sudah ada dasar hukum yang jelas, fakta bahwa ribuan WNA ikut BPJS tetap memicu diskusi hangat di masyarakat. Ada yang menganggap hal ini wajar, bahkan positif.
Menurut kelompok yang pro, WNA yang bayar iuran berarti turut berkontribusi buat keberlangsungan program JKN. Artinya, mereka ikut urunan membiayai sistem kesehatan yang manfaatnya dirasakan semua peserta, termasuk warga Indonesia.
Namun, ada juga yang kontra. Sebagian netizen mempertanyakan apakah dengan masuknya WNA sebagai peserta, nantinya nggak bikin fasilitas kesehatan makin penuh? Ada kekhawatiran kalau tenaga medis atau kamar rumah sakit jadi terbagi antara WNI dan WNA.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
BPJS Tegaskan: Semua Sesuai Regulasi
Menanggapi keraguan itu, pihak BPJS menegaskan bahwa keikutsertaan WNA sama sekali nggak merugikan WNI. Sebab, mereka masuk program lewat jalur resmi, bayar iuran penuh, dan ikut menanggung beban pembiayaan kesehatan.
Dr. Endang juga bilang, justru makin banyak peserta aktif, sistem gotong royong dalam BPJS jadi lebih kuat. Karena prinsip utama BPJS Kesehatan adalah dari kita untuk semua, makin banyak yang ikut, makin besar pula dana kolektif buat membiayai peserta lain yang sakit.
Tren Global: Asuransi Kesehatan Inklusif
Kalau dilihat dari kacamata lebih luas, kebijakan ini sejalan sama tren global. Banyak negara juga membuka layanan jaminan kesehatan buat warga asing yang tinggal lama di wilayah mereka.
Contohnya di Eropa, beberapa negara mewajibkan ekspatriat punya asuransi kesehatan lokal sebagai syarat tinggal. Di Amerika Serikat, meski sistemnya berbeda, warga asing yang legal juga bisa akses layanan kesehatan dengan premi tertentu.
Jadi, langkah Indonesia lewat BPJS sebenarnya nggak jauh beda. Bedanya, sistem di sini berbasis gotong royong, sehingga partisipasi WNA malah menambah kekuatan finansial program.
Perspektif WNA: Kenapa Mereka Pilih BPJS?
Kalau kita balik lihat dari sisi WNA, ada beberapa alasan kenapa mereka akhirnya daftar BPJS Kesehatan:
-
Harga lebih terjangkau dibandingkan asuransi swasta internasional.
-
Jaringan fasilitas luas karena hampir semua rumah sakit dan klinik di Indonesia sudah kerja sama dengan BPJS.
-
Perlakuan setara dengan WNI, jadi nggak ada diskriminasi.
Buat mereka yang sudah lama tinggal, sistem ini terasa lebih praktis dan aman dibanding terus-menerus pakai asuransi luar negeri.
Harapan ke Depan
Dengan lebih dari 15 ribu WNA yang sudah terdaftar, fenomena ini bisa jadi contoh bahwa BPJS Kesehatan makin dipercaya, bukan cuma oleh masyarakat lokal tapi juga komunitas internasional.
Ke depan, tantangannya ada pada bagaimana sistem bisa tetap memberikan layanan berkualitas, meski jumlah peserta terus bertambah. Apalagi, kesehatan adalah kebutuhan dasar semua orang, tanpa memandang kewarganegaraan.
Penutup
Fenomena WNA ikut BPJS di Bali memang unik sekaligus jadi bukti nyata inklusivitas program jaminan kesehatan di Indonesia. Selama mereka memenuhi syarat, membayar iuran, dan mengikuti aturan, nggak ada salahnya mereka ikut merasakan manfaat layanan yang sama.
Pada akhirnya, prinsip BPJS adalah gotong royong. Dan semakin banyak orang yang bergabung, semakin kuat pula fondasi sistem kesehatan nasional kita. Jadi, daripada melihatnya sebagai ancaman, mungkin lebih bijak kalau kita melihatnya sebagai bentuk kontribusi global buat kesehatan di Indonesia.
Ikuti berita terkini dari Redaksiku di Google News atau Whatsapp Channels
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2







Jadilah yang pertama berkomentar
Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.