Redaksiku.com – Refleksi filosofis mengenai kecerdasan buatan terus berkembang di kalangan pemikir kontemporer, salah satunya datang dari filsuf Italia Giorgio Agamben. Melalui catatan lepasnya yang dipublikasikan pada 3 Agustus 2026, ia menyoroti bagaimana teknologi modern tidak sekadar menjadi alat bantu, melainkan mulai menggeser esensi dasar dari cara manusia berpikir dan berimajinasi.
Dalam pandangan Agamben, fenomena kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memiliki kemiripan struktural dengan konsep intellectus agens yang pernah dikemukakan oleh filsuf abad pertengahan, Averroes. Keduanya merujuk pada kekuatan berpikir aktif yang bekerja di luar pikiran sadar manusia, bertindak sebagai entitas impersonal yang mampu mengatur serta mengarahkan aktivitas mental.
Persoalan mendasar yang diangkat bukan sekadar kehadiran kecerdasan eksternal tersebut, melainkan bagaimana intelek universal berhubungan dengan subjek manusia. Dalam tradisi filsafat, penyatuan antara intelek dan manusia dijembatani oleh imajinasi atau phantasia yang mengolah pengalaman indrawi menjadi bentuk yang dapat dipahami.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Transformasi Aktivitas Berpikir Manusia
Ketika manusia menggunakan AI sebagai tumpuan utama dalam mengolah informasi, terjadi sebuah pergeseran peran yang signifikan. Manusia tidak lagi menggunakan instrumen teknologi untuk memperluas kapasitas refleksi diri, melainkan menyerahkan keseluruhan proses kognitif tersebut kepada mesin.
Ketergantungan pada sistem artifisial berpotensi mengubah status manusia dari subjek yang aktif berpikir menjadi sekadar penerima pasif dari hasil olahan data digital.
Perubahan ini mendegradasi prinsip klasik hic homo intelligit—bahwa manusia ini sungguh-sungguh berpikir—menjadi kondisi sebaliknya. Akibatnya, masyarakat modern menjadi lebih rentan terjebak dalam sikap mental yang instan, puas dengan hasil jadi, dan kehilangan kepekaan analitis.
Mesin memang mampu menyusun argumen, merumuskan bahasa, hingga memetakan alternatif jawaban secara cepat. Namun, seluruh proses tersebut didasarkan pada simulasi statistik dan pengolahan pola dalam pangkalan data besar, bukan melalui pengalaman eksistensial yang dihayati.
Hilangnya Daya Imajinasi Mandiri
Kritik yang lebih tajam menyoroti runtuhnya daya imajinasi di dalam diri manusia modern itu sendiri. Imajinasi sesungguhnya berfungsi sebagai jembatan penting yang menghubungkan realitas partikular dengan pemahaman universal, memungkinkan seseorang melihat berbagai kemungkinan baru secara kreatif.
- Imajinasi mengolah kesan indrawi dan pengalaman hidup menjadi bentuk yang dapat dicerna oleh akal budi.
- AI bekerja melalui rekombinasi simbolik dan data historis tanpa memiliki kesadaran atau pengalaman hidup nyata.
- Ketergantungan berlebihan pada sistem digital mengikis kapasitas individu untuk membayangkan solusi secara mandiri.
Ketika ruang batin dan daya cipta tersebut kosong oleh paparan instan dari media maupun algoritma, manusia kehilangan dorongan untuk mempertanyakan kenyataan secara mendalam. Mesin akhirnya bukan lagi penolong, melainkan pengganti bagi kerja reflektif yang membentuk kedewasaan intelektual.
Merosotnya Kebajikan Intelektual
Dari sudut pandang etika kebajikan, kemunduran cara berpikir ini berdampak langsung pada hilangnya kualitas moral dan intelektual seperti nous, sophia, dan phronesis. Kebijaksanaan praktis atau phronesis tidak dapat direduksi sekadar menjadi aturan mekanis yang diprogram ke dalam sistem komputer.
Keputusan yang bijaksana lahir dari keterlibatan langsung seseorang dalam situasi konkret yang penuh ketidakpastian. Manusia mengalami keraguan moral, menanggung akibat dari pilihannya, dan membentuk karakter melalui proses latihan serta refleksi yang konsisten sepanjang hidup.
Meskipun agen artifisial dapat dirancang untuk mematuhi norma dan menghasilkan keputusan yang tampak adil secara statistik, kepatuhan tersebut tidak pernah sama dengan kebajikan sejati yang berakar dari hati nurani.
Bahaya terbesar dari dominasi teknologi saat ini bukanlah potensi kesalahan yang dilakukan oleh mesin, melainkan keengganan manusia untuk terus mengasah nalar kritisnya sendiri. Ketika seluruh pertimbangan hidup diserahkan kepada algoritma, kesempatan untuk mengenali diri dan membangun kebijaksanaan perlahan musnah.
Memulihkan Peran Subjek Berpikir
Menghadapi tantangan era digital tentu tidak harus berujung pada penolakan total terhadap kemajuan teknologi. Langkah korektif yang perlu ditempuh adalah mengembalikan posisi instrumen digital pada batas fungsionalnya yang wajar tanpa merusak ruang kognitif manusia.
Pemulihan kemampuan imajinatif dapat dimulai dengan membiasakan diri membaca karya sastra, mendalami refleksi filosofis, menghargai karya seni, serta melatih kepekaan dalam menafsirkan pengalaman hidup. Upaya ini menjaga agar individu tidak sekadar menjadi objek dari sistem otomatisasi.
Dengan demikian, manusia dapat kembali meneguhkan posisinya sebagai subjek aktif yang merumuskan pertanyaan, memahami konteks sosial, dan bertanggung jawab penuh atas setiap keputusan yang diambil demi masa depan peradaban yang lebih bermakna.
Pertanyaan Umum
Apakah Giorgio Agamben menolak kehadiran kecerdasan buatan secara mutlak?
Tidak. Kritik yang disampaikan berfokus pada bentuk penggunaan teknologi yang keliru, di mana mesin tidak lagi berfungsi sebagai alat bantu melainkan mengambil alih seluruh kapasitas refleksi dan tanggung jawab berpikir manusia.
Mengapa imajinasi dianggap penting dalam proses berpikir manusia?
Imajinasi bertindak sebagai jembatan perantara yang mengolah pengalaman indrawi menjadi pemahaman universal, memungkinkan seseorang melihat situasi secara utuh dan menemukan perspektif baru yang tidak dapat dihasilkan oleh mesin berbasis data.
Apa dampak utama dari ketergantungan penuh pada sistem AI?
Dampak utamanya adalah melemahnya kebajikan intelektual seperti kearifan praktis dan kemampuan menilai secara mandiri, sehingga manusia cenderung pasif dan menyerahkan otoritas pertimbangan hidupnya kepada sistem artifisial.
Ringkasan
Menurut Giorgio Agamben, kecerdasan buatan (AI) menggeser esensi berpikir manusia dan mengancam hilangnya daya imajinasi mandiri serta kebajikan intelektual akibat ketergantungan berlebihan pada sistem digital.
Kondisi ini mengubah status manusia dari subjek aktif menjadi penerima data pasif. Untuk mengatasinya, manusia perlu membatasi fungsi teknologi dan melatih kembali kepekaan analitis serta reflektif.






