Jangan lama-lama di sininya. Cepat pulang ke Riyadh, supaya kita bisa ngomongin dan menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Aku mengiyakan dan bergerak mengantarkannya sampai batas imigrasi. Meskipun sering bertengkar, tapi tak bisa kupungkiri ada sebagian hatiku yang ikut pergi bersama Mas Bayu. Ada rasa nyeri bermain di dada. Biar bagaimanapun, kami masih suami istri dan saling mencintai. Tatapanku tak lepas dari sosoknya sampai Mas Bayu menghilang di balik batas imigasi, meninggalkan rasa kosong yang tiba-tiba hadir di hati.
Aku segera menghampiri Ibu dan kedua adikku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kamu jangan lama-lama pisah sama Nak Bayu, Nduk! Ndak baik. Kasihan suamimu sendirian di sana, tutur Ibu begitu aku duduk di sampingnya.
Ibu bener, Mbak. Nggak baik suami istri hidup jauh-jauhan. Sasha ikut bersuara.
Ah, sok tahu kamu! Punya pacar aja belum, mau sok nasihatin kakaknya, jawabku sambil mencolek pipinya. Oya, kata Ibu kamu sering pulang malam, ya? Selama Mbak di rumah, kita belum sempat ngobrol sama cerita-cerita.
Pulang malam kan karena kerja. Ibu ih, kan Sha udah izin, jawabnya cemberut sambil memandang Ibu.
Ibu hanya tersenyum tipis.
Ibu juga udah bilang Mbak, kok! Makanya Mbak tanya sama kamu. Kami berjalan menuju tempat parkir mobil. Nanti cerita sama Mbak, ya?
Sasha masih merajuk. Ia segera membuka pintu belakang dan mengempaskan tubuhnya di kursi. Shanaz menahan senyum sembari melirikku penuh arti saat aku masuk dan duduk di belakang kemudi. Ibu duduk di belakang bersama Sasha. Kulirik Sasha dari spion tengah. Pasti ada sesuatu dengan adik kembarku itu. Aku berjanji akan mengajaknya bicara soal kegemarannya pulang malam.
-bersambung-
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






