Redaksiku.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan keras terkait gelombang protes yang tengah melanda Republik Islam tersebut.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada Jumat, Trump mengancam akan memberikan dukungan kepada para demonstran Iran jika aparat keamanan setempat melepaskan tembakan terhadap warga sipil.
Pernyataan ini muncul di tengah situasi yang memanas, menyusul laporan korban jiwa dan kerusuhan yang disebut-sebut sebagai tantangan domestik terbesar bagi otoritas Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Melalui unggahan di media sosial, Trump menyampaikan pesan bernada konfrontatif yang langsung menuai perhatian internasional. Kami dalam posisi siaga penuh dan siap bertindak, tulisnya, tanpa merinci langkah konkret apa yang dimaksud. Ancaman tersebut mempertegas sikap keras Washington terhadap Teheran, terutama setelah hubungan kedua negara memburuk dalam beberapa tahun terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Komentar Trump tidak dapat dilepaskan dari konteks eskalasi militer sebelumnya. Pada Juni lalu, Amerika Serikat ikut serta dalam serangan udara Israel yang menargetkan fasilitas nuklir Iran serta sejumlah tokoh penting militer dan program strategis negara tersebut. Langkah itu menandai salah satu fase paling tegang dalam hubungan AS-Iran sejak penarikan Washington dari kesepakatan nuklir 2015.
Respons Keras dari Teheran
Pemerintah Iran segera merespons ancaman Trump. Ali Larijani, pejabat tinggi Iran sekaligus penasihat utama Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan bahwa campur tangan Amerika Serikat dalam urusan domestik Iran berpotensi mengguncang stabilitas seluruh kawasan Timur Tengah. Iran sendiri dikenal memiliki pengaruh regional yang luas melalui dukungannya terhadap kelompok sekutu di Lebanon, Irak, dan Yaman.
Peringatan itu diperkuat dengan langkah diplomatik. Dalam surat resmi yang dikirimkan kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa serta Presiden Dewan Keamanan PBB, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, mendesak agar pernyataan Trump dikecam secara internasional. Ia menegaskan bahwa Iran akan menggunakan haknya secara tegas dan proporsional serta menyatakan bahwa Amerika Serikat harus bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang mungkin timbul akibat ancaman tersebut.
Di dalam negeri, sikap aparat keamanan Iran juga menunjukkan garis keras. Seorang pejabat lokal di wilayah barat Iran, daerah yang dilaporkan mencatat sejumlah korban jiwa, mengatakan bahwa setiap bentuk kerusuhan atau perkumpulan ilegal akan ditindak secara tegas tanpa toleransi. Pernyataan itu disiarkan oleh media pemerintah dan menegaskan pendekatan keamanan yang kerap digunakan Teheran untuk meredam gejolak sosial.

Akar Protes dan Korban Jiwa
Gelombang protes kali ini dipicu oleh lonjakan inflasi dan tekanan ekonomi yang kian membebani masyarakat. Meski skalanya disebut lebih kecil dibandingkan beberapa gelombang unjuk rasa sebelumnya, aksi demonstrasi ini menyebar ke berbagai wilayah dan memicu bentrokan mematikan, terutama di provinsi-provinsi barat Iran.
Media yang berafiliasi dengan negara dan kelompok hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 10 orang tewas sejak Rabu. Di antara korban terdapat dua pria yang menurut otoritas merupakan anggota Basij, pasukan paramiliter yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran. Informasi ini menambah kompleksitas situasi, mengingat bentrokan melibatkan baik warga sipil maupun aparat keamanan.
Dalam beberapa dekade terakhir, kepemimpinan ulama Iran telah berulang kali menghadapi dan memadamkan gelombang protes melalui pengerahan kekuatan keamanan dan penangkapan massal. Namun, krisis ekonomi yang berkepanjangan dinilai membuat posisi pemerintah lebih rentan dibandingkan sebelumnya.
Para pengamat menilai protes kali ini sebagai yang terbesar sejak demonstrasi nasional tahun 2022, yang dipicu oleh kematian seorang perempuan muda dalam tahanan dan melumpuhkan aktivitas di berbagai kota selama berminggu-minggu. Pada periode tersebut, kelompok hak asasi manusia melaporkan ratusan korban tewas.
Suara dari Lapangan
Rekaman video yang diverifikasi oleh Reuters memperlihatkan puluhan orang berkumpul di depan sebuah kantor polisi yang terbakar pada malam hari. Dalam video tersebut, terdengar suara tembakan yang sesekali menggema, sementara massa meneriakkan kata-kata kecaman kepada pihak berwenang.
Di kota Zahedan, wilayah selatan Iran yang mayoritas penduduknya berasal dari etnis Baluch, kelompok pemantau HAM Hengaw melaporkan bahwa para demonstran meneriakkan slogan-slogan keras, termasuk seruan menentang kepemimpinan tertinggi negara. Hengaw juga mencatat sedikitnya 133 orang telah ditangkap sejauh ini, dengan sebagian besar penahanan terjadi di wilayah barat Iran.
Televisi pemerintah Iran melaporkan penangkapan sejumlah orang di kota Kermanshah yang dituduh memproduksi bom molotov dan senjata rakitan. Media Iran juga mengabarkan penangkapan dua individu bersenjata berat di wilayah tengah dan barat negara tersebut sebelum mereka sempat melancarkan serangan.
Laporan mengenai aksi protes juga bermunculan dari berbagai kota lain, termasuk beberapa distrik di ibu kota Teheran. Di kawasan Narmak, timur Teheran, demonstran dilaporkan membakar kendaraan polisi dan sepeda motor. Namun demikian, Reuters menyatakan tidak dapat memverifikasi seluruh laporan terkait kerusuhan, penangkapan, maupun jumlah korban secara independen.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






