Saham COCO.
Redaksiku.com – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait resmi melepas seluruh kepemilikan sahamnya di PT Wahana Interfood Nusantara Tbk berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 31 Agustus 2026. Langkah divestasi ini terjadi di tengah dinamika pasar dan aksi korporasi besar yang melibatkan emiten produsen makanan tersebut.
Nama politisi yang juga kader Partai Gerindra tersebut sudah tidak tercantum lagi dalam daftar pemegang saham pengendali maupun minoritas di atas 1% pada penutupan bulan lalu. Padahal, berdasarkan catatan transaksi bulan sebelumnya, ia tercatat menggenggam porsi kepemilikan yang signifikan di perusahaan berkode saham COCO tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hilangnya nama sang menteri dari daftar pemegang saham menandai berakhirnya portofolio investasinya di emiten tersebut. Perubahan komposisi kepemilikan ini langsung memicu perhatian para pelaku pasar modal yang memantau pergerakan saham lapis kedua.
Berdasarkan data perdagangan bursa per 2 September 2026, saham COCO berada di level Rp 120 dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 1,71 triliun. Pergerakan harga saham emiten ini menunjukkan tren fluktuatif dalam berbagai rentang waktu pengamatan.
Dalam catatan perdagangan, saham ini sempat mengalami lonjakan harga sebesar 20% dalam sepekan terakhir sebelum akhirnya dilepas oleh sang pejabat publik.
Secara bulanan, saham tersebut mencatatkan penguatan sebesar 14,29%. Namun, kinerja secara tahun berjalan atau year to date masih menunjukkan koreksi tajam sebesar 64,29%.
Aksi Korporasi Rights Issue
Sebelum pelepasan saham oleh Maruarar Sirait, manajemen PT Wahana Interfood Nusantara Tbk lebih dulu menggelar aksi korporasi berupa penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Aksi korporasi ini mengubah struktur permodalan dan peta kekuatan pemegang saham secara drastis.
Dalam skema tersebut, perseroan menetapkan harga pelaksanaan di level Rp 120 per saham dengan rasio pembagian yang telah ditentukan. Setiap pemegang satu saham lama berhak mendapatkan tiga HMETD untuk ditebus pada periode penawaran.
Jumlah saham baru yang diterbitkan mencapai kisaran maksimal 10,67 miliar lembar. Total potensi dana segar yang dibidik dari perhelatan korporasi ini menembus angka Rp 1,28 triliun.
Penggunaan Dana dan Akuisisi Momogi
Sebagian besar dana yang dihimpun dari aksi penambahan modal ini dialokasikan untuk membiayai strategi ekspansi bisnis. Manajemen mengarahkan dana tersebut untuk memperkuat posisi di industri makanan olahan nasional.
Dana sekitar Rp 1,17 triliun disiapkan khusus untuk mengakuisisi PT Sari Murni Abadi yang dikenal sebagai produsen makanan ringan merek Momogi. Sisa dana hasil pencatatan saham baru akan dialokasikan untuk memperkuat modal kerja operasional perseroan.
Akuisisi merek makanan ringan populer ini diproyeksikan menjadi katalis utama perubahan fundamental keuangan emiten dalam jangka panjang.
Langkah strategis ini dinilai sebagai upaya diversifikasi dan perluasan pangsa pasar produk konsumer di dalam negeri. Manajemen berharap sinergi ini mendongkrak kinerja keuangan secara keseluruhan.
Perubahan Struktur Pengendali
Masuknya pemegang saham pengendali baru turut mengubah konstelasi kepemilikan saham di dalam tubuh emiten makanan tersebut. Mahogany Global Investment kini memegang kendali penuh atas perusahaan.
Perusahaan investasi tersebut tercatat menguasai sebanyak 7,42 miliar saham atau setara dengan porsi mayoritas 52,16%. Selain itu, institusi keuangan asing DBS Bank juga tercatat memiliki kepemilikan sebanyak 697,77 juta saham atau 4,90%.
Pengendali baru tersebut menyatakan kesiapan penuh untuk mengeksekusi seluruh haknya dalam hajatan pasar modal ini. Mereka bahkan bertindak sebagai pembeli siaga untuk menyerap sisa HMETD hingga kisaran 4,3 miliar lembar.
Dampak Dilusi bagi Pemegang Saham
Aksi penambahan modal ini membawa konsekuensi langsung bagi para pemegang saham lama yang memilih tidak mengeksekusi haknya. Porsi kepemilikan mereka di dalam perusahaan akan mengalami penurunan persentase.
Pemegang saham minoritas yang tidak mengambil bagian dalam penebusan hak akan menghadapi tingkat dilusi hingga 75%. Angka penurunan potensi kepemilikan tersebut dihitung setelah seluruh instrumen HMETD selesai dilaksanakan.
Tingkat dilusi kepemilikan saham dapat membengkak hingga maksimal 75,61% jika seluruh waran seri pertama ikut dieksekusi oleh para pemegang hak.
Kondisi ini menuntut kehati-hatian dari investor ritel dalam mencermati risiko penurunan porsi kepemilikan. Analis pasar modal menyarankan agar pemegang saham mencermat prospektus secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.
Pertanyaan Umum
Mengapa Maruarar Sirait melepas saham COCO?
Pelepasan seluruh kepemilikan saham tersebut tercatat dalam data resmi bursa per 31 Agustus 2026, seiring dengan berlangsungnya aksi korporasi besar dan restrukturisasi kepemilikan oleh pengendali baru.
Berapa dana yang dihimpun dari rights issue COCO?
Perseroan membidik potensi perolehan dana segar hingga sekitar Rp 1,28 triliun dari penerbitan maksimal 10,67 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 120 per saham.
Untuk apa dana hasil rights issue digunakan?
Sebagian besar dana sejumlah sekitar Rp 1,17 triliun dialokasikan untuk mengakuisisi PT Sari Murni Abadi selaku pemilik merek makanan ringan Momogi, sementara sisanya untuk modal kerja.
Ringkasan
Menteri Maruarar Sirait resmi menjual habis seluruh saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) di tengah aksi korporasi dan akuisisi Momogi.












