Lalu, tanpa bertanya aku mau makan apa atau mau makan di mana, Reivan langsung berbelok ke sebuah restoran yang kebetulan terlewati di jalur kepulangan kami. Ia mengajakku turun lalu berjalan mendahuluiku. Astaga, di mana sopan santunnya? Andai saja Papa lihat kelakuannya, pasti Papa akan marah juga!
Saat aku memasuki area restoran, Reivan sudah duduk menghadap buku menu yang belum terbuka. Tangan kanannya menyangga kepala sementara kaki kirinya bergerak naik turun dengan gelisah, seperti kaki orang yang sedang menggerakkan roda mesin jahit.
Kamu pesan, gih, katanya sambil menyodorkan buku menu itu ke arahku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari seberangnya, aku bisa melihat wajah Reivan yang memucat. Keningnya berkerut, seperti sedang menahan sakit.
Kamu kenapa?
Reivan menggeleng sembari kembali ke posisi semula.
Kenapa? Kutarik tangan kanannya, jelas sekali Reivan sedang kesakitan.
Ia menghela napas. Tolong pesankan teh manis hangat, saya mual, katanya dengan jemari yang gemetar.
Aku baru melihatnya seperti itu. Karena panik, segera kupesankan permintaannya. Tidak lama kemudian, kusodorkan teh manis hangat itu ke hadapannya.
Kamu kenapa, sih? Karena Reivan diam, kutambahkan pernyataan, Jangan diem gitu, aku takut kamu kenapa-kenapa!
Kopi.
Hah?
Tadi Papa kamu nyuruh saya minum kopi. Saya enggak biasa, langsung mual.
Astaga ¦ dasar lemah!
Kalau udah tahu enggak kuat minum kopi kenapa masih diminum juga kopinya? Aneh!
Reivan kembali menghela napas. Supaya Papa kamu berhenti marah-marah. Udah, saya udah enggak apa-apa, kamu makan dulu.
Ada rasa haru yang menyelusup ke dasar hatiku. Jika itu dilakukan Reivan demi mendapat simpati dariku, ia berhasil.
Tepat pukul setengah sembilan malam, kami meninggalkan restoran. Hanya aku yang pesan makanan, aku jadi curiga sebetulnya Reivan tidak benar-benar peduli apakah aku sudah makan atau belum. Kurasa dia mengajakku ke restoran itu hanya supaya dirinya bisa memulihkan diri.
Aku aja yang nyetir.
Aku meminta kunci mobil dari Reivan dan langsung bejalan ke balik kursi kemudi. Tanpa banyak bicara Reivan duduk di sebelahku.
Di perjalanan, kulirik sesekali suamiku itu. Seperti sebelumnya, dia tidak banyak bicara. Ketika aku hendak menyalakan radio, tiba-tiba saja Reivan berkata, Maaf.
Untuk apa?
Karena saya udah bikin kamu nangis semalam.
Kamu tahu, Papa ngajarin aku untuk bersikap ksatria. Saat kita punya salah, kita harus berani minta maaf. Tapi, Papa juga ngajarin supaya enggak ngejadiin kata maaf itu sebagai lip service semata. Tiap kali aku minta maaf, aku harus benar-benar paham salahku apa, aku harus benar-benar menyesalinya, dan benar-benar berjanji enggak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Kalau kamu bilang maaf cuma karena aku nangis, aku enggak yakin kamu betul-betul paham salahmu apa.
Pandangan mataku dan Reivan beradu tanpa sengaja lewan kaca spion depan. Aku mendengus, harga diri Reivan yang terlalu tinggi pasti membuatnya
Saya minta maaf karena sudah bilang kamu perempuan enggak baik dan semacamnya. Saya minta maaf karena sudah ngebentak kamu. Saya juga salah karena bilang kamu cuma numpang di rumah saya. Kamu pantas marah dan sakit hati. Selama kamu jadi istri saya, rumah itu rumah kita. Saya cuma minta tolong kamu mau ngejaga sikap selama ada di rumah kita.
Aku diam, diam-diam menikmati posisiku yang berada di atas angin. Asyik juga kalau aku bisa pakai air mata dan amarah untuk bikin Reivan menyerah. Kalau begitu, aku bisa menguasai Reivan tanpa harus melancarkan aksi balas dendam seperti yang disarankan Alston.
Aku juga. Maaf karena sikapku dan Alston bikin kamu kesal.
Reivan mengangguk. Saat itu kurasakan dinding tebal di antara kami terkikis perlahan-lahan.
Mulai besok kamu pakai mobil ini. Jangan pesan taksi online lagi kalau mau pergi, saya enggak mau lagi dibilang mengabaikan istri.
Siapa yang bilang kamu kayak gitu? Meski Reivan tidak menjawab, sebetulnya aku sudah tahu jawabannya. Pasti Papa.
Kemudian, Reivan membalikkan badan untuk mengambil sesuatu di kursi belakang. Ia kembali ke posisinya sambil menyodorkan sebuah kartu ATM.
Ini. Simpan ini buat pegangan. Mulai sekarang kamu yang atur uang belanja Bu Lia sama Dewi di rumah, kamu juga boleh pakai buat beli kebutuhanmu. Nanti saya isi sebulan sekali.
Oh my God! Serius? Ah, apakah kalau aku sering-sering bertengkar dengan Reivan aku akan jadi lebih cepat kaya?
Aku menerima pemberian Reivan sambil mengucapkan terima kasih. Susah payah kukendalikan suaraku agar tidak melaungkan kegirangan yang berlebihan. []
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






