Redaksiku.com – Perjalanan rohani dua dekade lebih mempertemukan Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou bersama rekan seperjuangannya dalam sebuah ikatan iman yang melampaui batas-batas darah biologis. Dikenal luas melalui karya sastra lirik yang mendalam, tulisan ini merekam jejak panggilan imamat yang berakar kuat di tanah Papua, mulai dari masa pembentukan di Abepura hingga dinamika pelayanan di berbagai pelosok wilayah keuskupan.
Jalinan Budi Ilahi di Tanah Abepura
Ikatan antara Kaka Bas dan Adik Hila bukan terbentuk dalam hitungan hari, melainkan ditempa melalui proses panjang selama lebih dari dua dekade. Meskipun terlahir dari jalur keluarga yang berbeda secara biologis, keduanya dipersatukan oleh nilai-nilai rohani yang mendalam di bawah naungan pembinaan rohani setempat.
Masa pembentukan di STFT Fajar Timur dan Paroki Gembala Baik Abepura menjadi titik awal pertemuan mereka. Di tempat inilah kedekatan emosional dan spiritual mulai terajut erat, membentuk fondasi kuat bagi pelayanan pastoral yang kelak mereka jalani di tengah umat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perjalanan panggilan sekawan rohani ini merefleksikan dedikasi panjang dalam melayani umat di tanah Papua dan sekitarnya.
Perkembangan panggilan ini turut disaksikan oleh berbagai pihak, termasuk keterlibatan penulis sendiri yang merekam dinamika tersebut melalui sudut pandang sastra dan pengalaman langsung sebagai pelayan altar.
Pengabdian di Lembah Baliem hingga Pegunungan Bintang
Setelah melewati masa pembinaan yang matang, masing-masing imam melangkah ke medan pelayanan yang penuh tantangan geografis maupun kultural. Penugasan membawa mereka ke berbagai wilayah pedalaman Papua untuk menggembalakan umat.
- Kaka Bas menjalankan tugas pelayanan di Lembah Baliem, membaur bersama kehidupan masyarakat setempat.
- Kaka Hila mengabdikan diri di wilayah adat Aplim-Apom dengan semangat pewartaan yang sama.
- Dukungan dari komunitas imam dan adik-adik rohani memperkuat langkah mereka di kebun anggur Tuhan.
Pengalaman langsung di lapangan menunjukkan bagaimana pelayanan pastoral menuntut ketahanan fisik dan mental yang tinggi. Interaksi dengan masyarakat lokal di daerah terpencil membentuk karakter kepemimpinan rohani yang tangguh dan penuh empati.
Karya dan refleksi ini disusun oleh figur yang telah mendedikasikan lebih dari satu dekade dalam formasi rohani di Tanah Papua sejak penahbisan imamatnya pada 13 Februari 2011.
Rekam Jejak Pelayanan Pastor Yance Dou
Latar belakang penulis karya ini, Romo Yance Dou, memberikan kedalaman otentik dalam memahami dinamika formasi calon imam di Papua. Lahir di Deiyai pada 5 September 1980, ia menempuh jalur pendidikan teologi yang komprehensif baik di dalam maupun luar negeri.
Studi lanjut di Universitas Navarra, Spanyol, serta pengalamannya memimpin Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua memperkaya wawasan teologisnya. Keterlibatan langsung dalam pendampingan kaum muda Katolik dan calon imam menjadi dasar kuat dalam menyusun catatan reflektif ini.
Berikut adalah beberapa rekam jejak pelayanan utama dalam perjalanan rohaninya:
- Menjabat sebagai Pastor Paroki Santo Petrus Oklip di Dekanat Pegunungan Bintang pada tahun 2010 hingga 2013.
- Mengemban tugas sebagai Direktur Spiritual TOR Regio Papua selama delapan tahun dari 2017 hingga 2025.
- Dipercaya memangku jabatan sebagai Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura sejak tahun 2025.
Pertanyaan Umum
Siapakah sosok di balik penulisan kisah persaudaraan rohani ini?
Tulisan ini merupakan karya reflektif dari Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr, yang akrab disapa Romo Yance Dou, seorang imam diosesan Keuskupan Jayapura dengan pengalaman panjang di bidang pembinaan rohani.
Apa makna di balik sebutan Bas-Hila dalam narasi tersebut?
Sebutan tersebut merujuk pada ikatan persaudaraan yang terjalin erat di antara para imam bukan berdasarkan hubungan darah biologis, melainkan melalui kesatuan iman, panggilan rohani, dan pengabdian bersama di dalam Gereja.
Di mana saja pusat pelayanan utama dari para tokoh yang diceritakan?
Wilayah pelayanan mereka mencakup kawasan strategis di Papua, mulai dari Abepura, Lembah Baliem, Pegunungan Bintang, hingga keterlibatan dalam jejaring pastoral yang lebih luas di tingkat nasional.
Ringkasan
Artikel ini merupakan resensi prosa lirik karya Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou (Romo Yance Dou) yang merekam perjalanan rohani dua dekade lebih tentang persaudaraan iman dan panggilan imamat di tanah Papua. Karya ini menyoroti ikatan erat antara para imam—yang disebut sebagai Kaka Bas dan Adik Hila—yang ditempa sejak masa pembentukan di STFT Fajar Timur dan Paroki Gembala Baik Abepura.
Romo Yance Dou, yang lahir di Deiyai pada 5 September 1980 dan ditahbiskan sebagai imam pada 13 Februari 2011, menghadirkan kedalaman otentik berbekal latar belakang pendidikan teologinya dari Universitas Navarra, Spanyol. Ia memiliki rekam jejak luas termasuk menjabat sebagai Direktur Spiritual TOR Regio Papua (2017–2025) dan Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura sejak 2025.
Melalui tulisan reflektif ini, dipaparkan pula dinamika pelayanan pastoral para imam di berbagai medan menantang di pedalaman Papua, mulai dari Lembah Baliem hingga wilayah adat Aplim-Apom di Pegunungan Bintang. Pengabdian tersebut mencerminkan ketahanan fisik dan mental yang membentuk kepemimpinan rohani tangguh bagi umat Katolik di tanah Papua.






