Redaksiku.com – Kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan berbagai wilayah Indonesia telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan akibat fenomena El Nino yang kuat, memicu perjuangan berat bagi ribuan petugas pemadam di garis depan. Sepanjang tahun 2026 ini, para petugas harus berjibaku dengan suhu ekstrem, kabut asap pekat, serta kelangkaan air bersih demi mengendalikan api yang terus merembet mendekati permukiman warga.
Petugas pemadam menyemprotkan air untuk memadamkan karhutla di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 11 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)
Skala Kebakaran dan Dampak Fenomena El Nino
Kementerian Kehutanan mencatat lebih dari 200.000 hektare lahan di Indonesia telah terbakar sepanjang Januari hingga Juli 2026. Angka tersebut menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 69 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi ini diperparah oleh musim kemarau panjang yang dipicu oleh El Nino kuat. Suhu di sejumlah daerah rawan seperti Sumatra Selatan dan Kalimantan Barat dilaporkan telah menembus 38 derajat Celsius, membuat vegetasi menjadi sangat kering dan mudah terbakar.
Dua petugas pemadam menyemprotkan air untuk memadamkan karhutla di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 12 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)
Pemerintah dan aparat gabungan terus berupaya mengerahkan sumber daya maksimal untuk mengatasi krisis lingkungan ini. Namun, tantangan di lapangan tetap tinggi mengingat karakteristik lahan gambut yang menyimpan bara api di dalam tanah.
Lebih dari 200.000 hektare lahan hangus terbakar dari Januari hingga Juli 2026 akibat cuaca ekstrem.
Tantangan Berat di Lapangan dan Risiko Keselamatan
Petugas pemadam seperti Rahmat Hadi Wijaya dan rekan-rekannya harus menghadapi berbagai hambatan fisik yang menguras tenaga setiap hari. Mereka sering kali harus bekerja sejak pagi hingga larut malam tanpa jeda yang memadai.
Beberapa kendala utama yang dihadapi tim pemadam di antaranya meliputi:
- Kelangkaan sumber air akibat menyusutnya debit sungai dan danau di sekitar lokasi kebakaran.
- Karakteristik lahan gambut yang membuat api merambat di bawah tanah dan sulit dideteksi.
- Jarak pandang yang sangat terbatas akibat kabut asap tebal, yang juga menghambat operasi helikopter water bombing.
Seorang petugas membawa selang saat timnya menangani karhutla di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 12 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)
Risiko pekerjaan ini juga mengancam keselamatan jiwa para petugas. Sedikitnya empat petugas pemadam dilaporkan meninggal dunia saat menjalankan tugas penanggulangan karhutla sepanjang tahun ini akibat kelelahan dan gangguan pernapasan.
Penegakan Hukum dan Upaya Penanggulangan Pemerintah
Di tengah rasa frustrasi karena sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia, aparat kepolisian terus memproses hukum pihak-pihak yang bertanggung jawab. Hingga awal September 2026, ratusan orang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pembakaran lahan.
Seorang warga menyaksikan karhutla yang berkobar hingga mendekati rumahnya di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 12 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa penyelidikan terhadap temuan titik api masih terus dikembangkan di berbagai daerah. Pelaku pembakaran sengaja terancam sanksi berat sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
Petugas pemadam Rahmat Hadi Wijaya, 48, tengah menangani panggilan ketiganya malam itu saat foto ini diambil di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 11 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)
Badan Nasional Penanggulangan Bencana bersama instansi terkait juga mengoptimalkan pengerahan armada darat dan udara. Dukungan masyarakat setempat yang menyambut para petugas dengan hangat turut menjadi dorongan moral bagi para pejuang di garis depan.
Karhutla berkobar di belakang sebuah warung di tepi jalan desa di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 12 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)
Pengendara melintasi asap tebal akibat karhutla di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 11 September 2026. Jarak pandang yang terbatas akibat kondisi seperti ini terkadang membuat helikopter water bombing tidak dapat beroperasi. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)
Karena bekerja berhari-hari jauh dari rumah, petugas pemadam terkadang harus tidur di aspal dan trotoar, seperti terlihat di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 10 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)
Petugas pemadam Zulkarnain sudah lebih dari sepekan tidak pulang ketika foto ini diambil di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 12 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)
Petugas pemadam berupaya mengendalikan karhutla di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 12 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)
Pertanyaan Umum
Apa penyebab utama parahnya karhutla di Indonesia tahun ini?
Kebakaran diperparah oleh fenomena El Nino kuat yang memicu kekeringan berkepanjangan dan suhu ekstrem, sementara sebagian besar titik api tetap disebabkan oleh aktivitas manusia.
Berapa luas lahan yang terbakar sepanjang awal tahun 2026?
Kementerian Kehutanan mencatat lebih dari 200.000 hektare lahan terbakar dari Januari hingga Juli 2026, naik 69 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Bagaimana upaya penanganan yang dilakukan pemerintah di lapangan?
Pemerintah mengerahkan ribuan personel gabungan, helikopter water bombing, serta melakukan operasi darat untuk memadamkan api di wilayah terdampak parah.
Ringkasan
Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Kementerian Kehutanan mencatat lebih dari 200.000 hektare lahan di Indonesia hangus akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 69 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya. Krisis lingkungan ini dipicu oleh fenomena El Nino kuat yang menyebabkan musim kemarau panjang serta suhu ekstrem hingga menembus 38 derajat Celsius di sejumlah daerah rawan seperti Sumatra Selatan dan Kalimantan Barat.
Para petugas pemadam di garis depan harus menghadapi tantangan fisik yang sangat berat setiap hari, mulai dari kelangkaan air bersih, jarak pandang terbatas akibat kabut asap, hingga karakteristik lahan gambut yang menyimpan bara api di dalam tanah. Risiko tinggi di lapangan bahkan telah merenggut nyawa sedikitnya empat petugas akibat kelelahan dan gangguan pernapasan saat menjalankan tugas penanggulangan.
Sebagai langkah penanganan, aparat gabungan termasuk Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoptimalkan pengerahan armada darat dan udara serta memproses hukum ratusan tersangka pembakaran lahan. Di bawah komando Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, penyelidikan terus dikembangkan untuk memberikan sanksi berat kepada pihak-pihak yang terbukti memicu titik api melalui aktivitas manusia.






