Redaksiku.com – Hari ini, Senin, 21 September 2026, menjadi momen bersejarah bagi dunia pelayanan rohani di tanah Papua dengan dirayakannya empat dekade pengabdian Pater Willem Warat Bungan, OFM. Sebagai seorang imam Fransiskan, ia telah mendedikasikan hidupnya selama 40 tahun untuk melayani umat di berbagai pelosok Papua, sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari tanah kelahirannya di Lepanbatan, Nusa Tenggara Timur.
Jejak Panggilan dari Lepanbatan
Kisah pelayanan Pater Willem bermula dari latar belakang keluarga sederhana di Lepanbatan, sebuah wilayah yang dikenal sebagai nusa para lamafa atau juru tikam paus. Sejak usia dini, ia telah menunjukkan keteguhan hati untuk mengikuti jalan pelayanan gerejani, sebuah panggilan yang ia yakini sebagai bisikan Ilahi yang menuntunnya meninggalkan kampung halaman demi menimba ilmu di Seminari.
Keputusannya untuk bergabung dengan Ordo Saudara Dina (Ordo Fratrum Minorum/OFM) menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Ia memilih jubah cokelat sebagai simbol kesederhanaan, mengikuti jejak Santo Fransiskus dari Asisi yang menekankan cinta kasih bagi sesama dan kepedulian terhadap semesta. Jalan kedinaan ini menuntut pengorbanan besar, namun ia menjalaninya dengan ketulusan yang konsisten selama puluhan tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Empat puluh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi seorang misionaris untuk meleburkan diri dalam budaya dan kehidupan masyarakat lokal di Papua.
Pengabdian di Tanah Papua
Tanah Papua menjadi ladang pengutusan utama bagi Pater Willem. Salah satu masa pelayanan yang membekas dalam memori umat adalah ketika ia berkarya di Gereja Santa Maria Immaculata, Moanemani, di wilayah Dogiyai. Di sana, ia tidak hanya hadir sebagai seorang imam, tetapi juga sebagai gembala yang bersahaja, merangkul masyarakat dengan pendekatan yang penuh kasih dan belas kasih.
- Ia melayani dengan semangat misioner yang menembus batas geografis, mulai dari wilayah Timika, Agats, Merauke, hingga Jayapura.
- Pelayanannya dikenal luas karena kemampuannya dalam memahami dinamika sosial dan spiritual masyarakat lokal Papua.
- Kesetiaannya dalam memegang teguh kaul Fransiskan menjadi inspirasi bagi banyak imam muda dan umat yang ia layani sepanjang empat dekade.
Perayaan Yubileum 40 tahun imamat ini merupakan bentuk syukur atas kesetiaan seorang Fransiskan yang telah mengabdikan hampir separuh hidupnya bagi pertumbuhan iman di tanah Papua.
Refleksi Perayaan Yubileum
Peringatan 40 tahun hidup membiara ini dirayakan dengan penuh sukacita oleh berbagai kalangan, termasuk rekan sesama pelayan Tuhan seperti Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Ungkapan syukur ini diwujudkan melalui doa-doa yang dipanjatkan oleh masyarakat Papua, diiringi dengan tradisi budaya setempat seperti tarian Gowai, Tupe, dan Ugaa.
Bagi Pater Willem, perjalanan ini adalah manifestasi dari Mazmur syukur yang tak berkesudahan kepada Sang Pencipta. Dukungan dari masyarakat dan alam Papua yang memeluknya selama ini menjadi kekuatan tersendiri dalam menjalankan tugas perutusan. Harapan besar dari umat adalah agar terang pelayanan yang ia bawa tetap menyala dan menjadi berkat bagi tanah Papua di masa depan.
“Kipo Moti Wauwa, Pater Willem!”
— Yance Dou
Pertanyaan Umum
Siapakah Pater Willem Warat Bungan, OFM?
Beliau adalah seorang imam dari Ordo Saudara Dina (Fransiskan) yang merayakan 40 tahun masa pengabdiannya di tanah Papua pada 21 September 2026.
Di mana saja wilayah pelayanan Pater Willem selama 40 tahun terakhir?
Sepanjang masa pelayanannya, beliau telah berkarya di berbagai wilayah di Papua, termasuk Moanemani (Dogiyai), Timika, Agats, Merauke, dan Jayapura.
Apa makna dari perayaan 40 tahun hidup membiara ini?
Perayaan ini merupakan bentuk syukur atas keteguhan panggilan Pater Willem dalam menghidupi semangat kesederhanaan dan kedinaan Fransiskan di tengah tantangan pelayanan di tanah Papua.
Ringkasan
Pada 21 September 2026, Pater Willem Warat Bungan, OFM, merayakan 40 tahun masa pengabdian imamatnya di tanah Papua. Perayaan yubileum ini menjadi momen refleksi atas empat dekade dedikasi sang misionaris Fransiskan yang berasal dari Lepanbatan, Nusa Tenggara Timur, dalam melayani umat di berbagai wilayah pelosok Papua.
Sepanjang karier pelayanannya, Pater Willem telah berkarya di berbagai daerah strategis seperti Moanemani (Dogiyai), Timika, Agats, Merauke, hingga Jayapura. Ia dikenal karena pendekatan pastoralnya yang bersahaja serta kemampuannya dalam mengintegrasikan semangat spiritualitas Fransiskan dengan dinamika sosial dan budaya masyarakat lokal Papua, yang diwujudkan melalui perayaan syukur bersama umat setempat.






