Melihat sahabatnya terkejut seperti itu, Ayyara pun ikut penasaran dan menoleh ke arah pandang Manda. Dia terkesiap, lalu refleks berdiri. Seketika badannya terasa lemas sehingga sedikit terhuyung-huyung. Manda bergerak cepat, menahan tubuh sahabatnya agar jangan sampai ambruk di lantai, lalu memapahnya untuk duduk kembali.
Ayyara menatap ke luar jendela dengan sorot tak percaya, bibirnya sedikit menganga. Seorang perempuan tengah berlari kecil menyambut kedatangan Abyan yang baru saja keluar dari mobilnya.
“Itu cewek yang sama, kan?” Manda seakan bertanya pada diri sendiri untuk mengkonfirmasi hasil penglihatan matanya.
“Iya, namanya Lidya,” jawab Ayyara pelan sambil mata tetap fokus menatap sang suami di luar sana.
Ketika melihat Lidya datang menghampiri, bibir Abyan tersenyum lebar. Namun, betapa terkejutnya dia ketika melihat perempuan itu hampir terjatuh saat berada tepat di depannya. Saking terburu-buru, hak sepatunya menyelip ke dalam paving block.
Abyan spontan menahan kedua bahu Lidya. Kemudian, berjongkok di hadapannya dan mencoba mengeluarkan hak sepatunya yang terselip. Setelah itu, menuntun perempuan tersebut masuk ke dalam mobil.
“Ay, ayo kita labrak perempuan itu!” ajak Manda yang sudah siap melangkah, tapi kemudian dengan cepat Ayyara meraih lengannya agar berhenti.
“Nggak perlu!” tegas Ayyara.
Tidak berselang lama, notifikasi di ponsel Ayyara kembali berbunyi. Mata perempuan itu langsung melirik tampilan di layar dan nama Abyan yang muncul sebagai pengirim pesan terebut Tanpa ekspresi ibu dua anak ini langsung nembuka ruang obrolan dengan suaminya.
Rupanya, lelaki itu mengirimkan pesan suara. Ayyara pun menekan tanda segitiga untuk memutar rekaman pesan tersebut.
“Sayang, maaf, ya … hari ini, kayaknya aku pulang agak telat, deh. Aku harus antar teman dulu ke dokter.”
Ayyara membisu. Saat rekaman suara Abyan itu berputar, secara bersamaan ada suara orang lain yang ikut berbicara. Meskipun kecil, tapi Ayyara masih bisa dengan jelas mendengarnya. “Mas, aku nggak kuat ini, sakit banget.”
Mata Ayyara mendelik tajam ke arah luar di mana mobil Abyan baru saja bergerak menjauh dari parkiran. Seakan ada benda tajam yang kembali menusuk-nusuk hatinya, terasa nyeri sampai ke ubun-ubun.
“Lo kenapa nggak mau labrak dia, sih?” Manda bertanya dengan nada ketus.
“Karena nggak akan mengubah situasi, Man. Justru itu hanya akan menunjukkan kalau gue lemah, dan dia menang,” ungkap Ayyara. “Memang lo pikir, Mas Aby bakal belain gue kalau tadi kita keluar?”
“Tapi seenggaknya itu cewek gatel tahu diri! Ada seorang istri dan ibu yang sedang dia lukai perasaannya,” ujar Manda bersungut-sungut.
Ayyara tersenyum mengejek. “Lo pikir, selama ini dia nggak tahu kondisi itu?” tanyanya. “Kalau semua pelakor sadar akan semua itu … ya, nggak akan adalah yang namanya perselingkuhan,” imbuhnya sarkastik.
“Iya, juga, sih. Tapi gue sebal bin muak lihat tuh cewek,” cercanya. “Lebih kesel lagi sama laki lo!” sentak Manda sembari menatap sahabatnya dengan sorot mata tajam. “Lo juga! Kenapa selalu percaya dengan ucapan Aby yang bilang, kalau hubungan mereka sebatas pekerjaan?”
Ayyara manarik napas cukup panjang, memandangi langit yang seketika menghitam. Seolah alam ikut mendukung suasana hatinya, rintik hujan pun mulai turun membasahi Kota Bogor.
“Karena ini bukan kali pertama terjadi dalam pernikahan gue, Man. Lo sendiri tahu persis akan hal ini. Kita selalu mendapati kebenaran ucapan Abyan, iya kan?” tutur Ayyara dengan nada datar. Pikirannya kembali teringat saat tak sengaja memergoki seorang perempuan seksi yang terekam dalam kamera CCTV kantor lama Abyan.
Ketika itu, Abyan membela diri bahwa dirinya tidak melakukan perbuatan tercela. Dia mengatakan kalau perempuan itu pemilik butik di lantai satusedang berkonsultasi tentang bisnisnyadan sekaligus orang yang mengontrak kamar di sebelah kantornya.
“Salahkan saja perempuan itu kalau dia berpakaian minim, bukan aku!” dalihnya kala Ayyara mempertanyakan kenapa menerima kedatangannya yang berpakaian serba terbuka begitu.
Permasalahan itupun berlalu tanpa ada konfrontasi yang berarti di antara keduanya. Abyan kembali mengikuti keinginan sang istri untuk memindahkan lokasi kantornya. Apalagi, perkembangan perusahaan dia semakin pesat dan Hardi ikut bergabung untuk mengelolanya. Kantor mereka pun akhirnya pindah ke Jakarta Selatan, tepatnya di pusat bisnis yang berada di kawasan Sudirman.
“Tapi cewek yang ini agak lain, Ay!” Manda kembali berpendapat dan pernyataannya itu mengembalikan kesadaran Ayyara.
“Iya, gue udah lama nggak lihat Mas Aby tersenyum seperti tadi pada cewek itu. Tatapan yang sama saat pertama kali dia ketemu gue.”
“Wah, wah, perlu waspada ini. Siaga satu kayaknya, Ay … ayo, lo jangan diam saja!” Manda begitu berapi-api.
“Entahlah, gue merasa miris pada diri sendiri. Barusan, dengan bangganya gue bilang ke sepupu kalau pernikahan gue sudah lebih baik, tapi ternyata? Nggak perlu waktu lama untuk kembali meragukannya,” keluh Ayyara. “Gue ngerasa nggak PD pada pernikahan gue sendiri.”
Desahan napas Manda terdengar kasar. Dia ikut prihatin kala mendengar ada pergolakan dalam nada bicara sahabatnya ini, antara nada marah, sedih, kecewa, dan juga tak perdaya.
“Terus, langkah lo selanjutnya apa?” Manda kembali bertanya.
Ayyara menggelengkan kepalanya. “Nggak tahu.”
Lagi-lagi Manda menarik napasnya cukup panjang. “Ya, sudah … sekarang, kita balik saja dulu. Entar, gue diskusiin ini sama Mas Hardi, kali dia bisa bantu kasih solusi,” ungkapnya sembari bangkit dari kursi.
Dia kemudian membantu Ayyara untuk berdiri. Tubuh sahabatnya itu masih terlihat lemas. Mereka pun keluar dari kafe tersebut menuju kediaman Pak Bagja karena anak-anak Ayyara dijemput Gita dan diantarkan ke sana.
Sementara Abyan, selepas keluar dari kafe tersebut, langsung membawa Lidya ke rumah sakit besar di daerah Sentul. Dia sengaja membawanya ke sana karena lokasinya lebih dekat dengan tempat tinggal perempuan itu.
Begitu tiba di depan lobi rumah sakit, Abyan turun terlebih dahulu untuk meminta kursi roda pada petugas. Setelah itu, dia terpaksa menggendong Lidya saat keluar dari mobil dan mendudukkannya di kursi roda. Wanita ini mengeluh tak sanggup berjalan karena kakinya terasa sakit sekali.
Dia membawa Lidya ke ruangan IGD rumah sakit tersebut. Ternyata Antrean cukup panjang sehingga perempuan itu harus menunggu lama dalam keadaan kesakitan. Lidya mencengkeram kuat lengan Abyan yang berada pada pegangan kursi roda saat menahan rasa sakitnya.
“Sabar, ya, Li …,” ucapnya ketika melihat Lidya terus meringis kesakitan.
Lidya hanya menanggapi dengan anggukan. Rasa sakitnya memang sangat luar biasa, tapi dia tak bisa membohongi diri bahwa hatinya berbunga-bunga. Bagaimanapun, kejadian tersebut membuatnya bisa lebih berlama-lama dengan Abyan.
Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa Lidya mengalami yang namanya keseleo sedang. Sebagian ligamen pergelangan kakinya robek sehingga menyebabkan rasa sakit dan pembengkakkan yang berkepanjangan.
Liganem ini merupakan jaringan ikat kuat yang menghubungkan tulang dan menstabilkan kaki. Pada saat hak sepatu Lidya menyelip di paving block itulah telapak kakinya menyentuh tanah dengan posisi miring sehingga menyebabkan robekan pada ligamen pergelangan kakinya.
Dokter membalut pergelangan kaki Lidya yang keseleo dengan perban elastis selama 4872 jam. Hal ini bertujuan untuk meredakan pembengkakan dan membantu sendi beristirahat.
“Nanti, tolong dijaga istrinya agar tidak banyak bergerak, ya, Pak,” ujar Dokter itu pada Abyan. “Selama 2 atau 3 hatilah, tergantung kondisinya.”
Abyan langsung salah tingkah mendengar ucapan Dokter tersebut. Dia tak mampu mengelak karena kalau jujur malah menimbulkan prasangka. Sedangkan Lidya berusaha menahan senyum, meksipun dalam hatinya bersorak-sorai.
“Untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan pada pergelang kakinya, nanti di rumah bisa mengompres dingin bagian yang keseleo itu,” tunjuk Dokter pada kaki Lidya. “Lakukan selama 15-20 menit, sebanyak 3-4 kali sehari dalam 72 jam pertama.”
“Baik, Dok, terima kasih banyak,” ucap Abyan senatural mungkin, meskipun degup jantungnya tidak bisa tenang.
“Oh, iya, Anda juga bisa membantu mengangkat pergelangan kaki istrinya melebihi dada atau panggul saat berbaring untuk mengurangi pembengkakan dan memar,” ungkapnya lagi.
Abyan mengangguk dan bersiap untuk mendorong kursi roda Lidya keluar dari ruangan dokter.
“Eh, satu lagi, selama minimal 3 hari jangan dulu diajak berendam air hangat, ya, Pak.” Dokter itu menggoda Abyan sembari senyum-senyum.
Sontak saja wajah lelaki itu langsung bersemu merah. Dia tidak mampu berkata-kata, hanya anggukan kecil dan bergegas keluar. Kali ini, Lidya merasa melayang di atas awan. Harapannya perlahan mulai menuju kenyataan.