Novel : Room for Two Bab 30: Merayakan Kematian

Brengsek!
Aku bisa jelasin
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kamu bilang ibumu sakit, Bee, kamu nyumpahin orang sehat jadi sakit beneran? Kamu bilang cuma sebentar di sini! Kamu bilang kamu mau nikah sama aku! Kamu ¦ kamu ternyata udah punya istri! Tega kamu bohongin aku selama ini! Aku percaya sama kamu, Bee! Aku selalu percaya sama kamu! Apa pun yang kamu minta aku selalu kasih karena aku percaya sama kamu!
Hana, maaf
Maaf?! Aku hamil! Aku hamil gara-gara kamu!
Sst!
Alston merangsek lalu membekap mulutku. Ia menyeretku menjauhi kediamannya, tetapi baru beberapa langkah, Alston langsung terjengkang. Reivan telah menarik kaus yang Alston kenakan lalu menonjoknya di pipi.
Jangan kasar sama perempuan!
Alston segera berdiri. Ia mengusap-usap pipi kirinya sesaat. Oh, terus yang elu lakuin ke Hana waktu ngusir dia dari rumah lu itu enggak termasuk kategori ˜kasar sama perempuan™? Bisa aja lu ngomong, dasar banci! Tau enggak waktu lu usir itu dia tidur di mana, sama siapa? Tau enggak siapa yang nampung dia? Gue! Kalau enggak ada gue dia luntang-lantung di jalan. Padahal udah punya suami, tapi istri lu milih sama gue.
Bee!
Iya, Ishana pilih kamu. Jadi silakan kamu tanggung jawab. Anak yang ada di perutnya itu anak kamu.
Alston melirikku. Ia terlihat sangat salah tingkah.
Hana, maaf, aku enggak bisa. Kamu lihat, kan, kondisiku? Sekarang aku bener-bener enggak punya apa-apa lagi. Anakku sakit keras, Han, cerebral palsy. Dia butuh pengobatan maksimal. Aku enggak bisa ninggalin keluargaku, Han. Anakku butuh aku
Tapi di perutku ini juga anak kamu, Bee!
Iya aku tau
Aku hamil karena kamu! Kamu yang bujukin aku untuk ngelakuin itu.
Jangan sembarangan, Hana, kita sama-sama mau waktu itu
Aku udah bilang itu salah, tapi kamu selalu bilang, sekarang atau nanti sama aja karena aku akan tetap jadi istri kamu. Sekarang apa buktinya? Aku minta kamu tanggung jawab, Bee! Pernikahan aku hancur gara-gara kamu!
Aku enggak bisa, Hana! Anak aku sakit
Aku juga sakit! Aku sakit lahir batin karena harus mengandung anak kamu, Bee!
Setop panggil aku kayak gitu, Hana! Aku udah bilang di telepon waktu itu, aku enggak bisa tanggung jawab
Ini anak kamu juga! Ini anak kamu! Kamu yang bikin dia ada di perutku! Gimana bisa kamu bilang enggak bisa tanggung jawab?! Seenaknya kamu
Iya, tapi sekarang dia belum ada, kan, Han? Tolong, demi aku, demi pernikahan kamu, kamu bisa gugurin kandungan itu
Sialan! Seenaknya ngomong gitu! Berani berbuat harus berani tanggung jawab juga!
Untuk kali kedua, Reivan kembali melayangkan bogem mentah kepada Alston. Namun, kali itu Alston tidak diam saja. Ia berbalik lalu balas memukuli Reivan sambil berguling-guling di jalanan.
Keributan itu langsung menarik perhatian orang-orang yang lewat. Beberapa warga yang sebelumnya tidak ada di sekitar kami pun segera bermunculan, seperti semut yang memanggil kawanannya ketika bertemu dengan madu.
Berhenti! Hei, setop!
Berlarian keluar dari dalam rumah Alston, si ibu dan si perempuan kurus. Perempuan kurus itu menatapku dengan rona wajah kebingungan, mungkin dalam hatinya bertanya-tanya mengapa aku menangis tersedu-sedu sementara suaminya dan suamiku bergelung jadi satu di tanah yang penuh debu.
Reivan dan Alston kemudian dipisahkan oleh beberapa pria. Saat itu darah segar mengucur dari kening Reivan sementara Alston sendiri mengalami mimisan. Aku mantap mendekati Reivan dan menariknya mundur sementara istri Alston mendekati suaminya, memegangi tangannya dengan gestur posesif.
Ada apa ini? Kenapa kamu pukul anak saya? tanya ibu Alston dengan kepanikan dan amarah yang tergambar jelas di wajahnya.
Jangan main fisik! Perempuan Kurus turut menimpali. Kalian ini debt collector, ya? Saya laporin ke polisi baru tahu rasa kalian!
Berani-beraninya lu bikin ribut di tempat orang! seru Alston, suaranya sengau. Bilang aja lu cemburu!
Tidak menimpali pancingan Alston, Reivan malah bertanya, Kamu mau tanggung jawab, enggak?
Enggak! Ngapain? Kan ada elu!
Reivan kembali merangsek menyasar Alston, tapi aku menahannya. Kami sudah kalah, dua orang lawan satu rumah dan tetangga-tetangganya, tidak ada yang bisa diperjuangkan lagi di sana.
Enggak tahu malu, ya, kamu! Kalau enggak berani tanggung jawab minimal tahu diri!!
Tanggung jawab apa? tanya Perempuan Kurus. Suami saya salah apa? Kalian butuh apa dari suami saya?
Kalian ini siapa sebetulnya? Ibu Reivan kembali bertanya. Datang-datang main kasar! Kalian bisa saya laporin ke polisi sekarang juga!
Reivan, terengah-engah dan berantakan, berkata lantang di depan semua orang. Sebelum Ibu laporin saya ke polisi, sebaiknya Ibu didik dulu anak Ibu.
Sembarangan
Dengar, Bu, dengar! Anak Ibu, si Alston ini, dia menghamili istri saya. Dan dia enggak mau tanggung jawab!
Si perempuan kurus terkesiap dan tergagap. Ia tergugu sambil melempar tatapan kebingungan ke wajah suaminya, ke wajahku, lalu ke perutku.
Jangan tanya saya gimana atau kenapa bisa sampai kayak gini, tanya sama dia! Telunjuk Reivan mengarah lurus ke wajah Alston. Harusnya jadi orang kamu sadar diri! Tau udah punya istri, tau punya anak yang sakit, tau Ishana udah nikah ¦ tau kalau miskin, harusnya jangan banyak gaya! Bisa-bisanya numpang hidup dari duit saya! Dia ini makan minum tidur semua pakai duit saya, Bu! Saya punya semua buktinya! Sebelum Ibu laporin saya ke polisi, saya duluan yang bakal laporin anak Ibu ke polisi. Bisa apa Ibu? Bisa apa kamu di Bandung kalau enggak dikasih makan istri saya?!
Halaman : 1 2 Selanjutnya






