Novel: Nayanika (Part 9)

- Penulis

Minggu, 29 September 2024 - 16:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: Nayanika (Part 9)

Hari pertama aku menjadi ibu untuk Ren dan Hime. Karena semalam tidur di rumah ibu mertuaku, pagi sekali mereka diantar sopir dan langsung mandi. Tugas pertamaku adalah menyiapkan sarapan dan membantu mereka memasang pakaian seragam. Sedikit ribet, karena ada dua anak sekaligus, tapi ternyata menyenangkan juga. Bagian paling kusuka adalah saat Ren yang malu-malu memintaku memasangkan jam tangan berbentuk pesawat di tangan kanannya. Menggemaskan.

Hal menyenangkan lainnya adalah ketika Hime memintaku merapikan rambutnya dengan kepang di kedua sisi belahan, lalu menyempurnakan dengan jepitan lucu dari kotak aksesorisnya. Kata Arya, Hime tidak suka jika model rambutnya disamakan di hari yang berturut-turut. Maunya dalam seminggu, dia memiliki model rambut yang berbeda. Hal ini menyebabkan aku harus mencari referensi lebih banyak dan menyimpan tutorialnya di hapeku.

Setelah keduanya selesai sarapan, Arya mengantar kami ke PAUD anak-anak. Dia akan menjemput saat jam pulang sekolah. Arya juga berpesan untuk tidak sembarangan membelikan si kembar jajan, karena mereka mudah batuk setelah minum yang manis-manis. Aku mencatat semua pesan itu di kepalaku.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah turun dari mobil, aku memegang Ren dan Hime, dengan posisiku berada di tengah-tengah. Ketika tiba di gerbang sekolah, seorang bapak penjaga menyapa kami, mempersilahkan memasuki laman.

Mataku menemukan seorang wanita yang tampak seusia denganku, tersenyum ketika kami mendekat.

Selamat pagi, Ren. Hime.

Selamat pagi, Bu Aulia, jawab Ren dan Hime bersamaan.

Wah, Hime. Rambutnya cantik banget. Siapa yang kepangin?

Hime tersenyum ceria, lalu memeluk lenganku. Tante Naya.

Ibu Aulia kini menatapku lurus, kesempatan aku mengenalkan diri dengan mengulurkan tangan. Saya Naya, Bu Aulia. Mulai sekarang, saya yang akan menemani Ren dan Hime.

Ibu Aulia menyambut uluran tanganku, tersenyum menampilkan deretan gigi yang rapih. Salam kenal. Saya senang anak-anak diantar lagi sama ibunya.

Oh, rupanya guru si kembar sudah paham dengan pernikahanku dan Arya. Mungkin saja ibu mertuaku yang memberitahukannya. Sebelum kami menikah, anak-anak memang ditemani oleh neneknya.

Iya, Bu. Terima kasih. Kalau ada sesuatu hal yang sekiranya penting, tolong saya dikabari.

Nanti kami masukkan ke grup obrolan ya, Bu. Ibu Aulia kembali menatap Ren dan Hime. Yuk, udah siap masuk kelas?

Yuk! teriak Hime, sementara Ren hanya mengekori masuk ke ruangan mereka.

Aku menatap sekelilingku, mendapati taman yang sudah disiapkan oleh beberapa orangtua dan pengasuh untuk menunggu. Kulangkahkan kaki untuk bergabung, menyapa beberapa di antara mereka.

Ibu barunya kembar ya? tanya perempuan yang memakai tunik berwarna biru.

Aku tersenyum sambil duduk di kursi yang masih kosong. Betul, Bu. Saya Naya.

Tapi kok mirip banget ya sama Mba Diandra? Saya kira tadi dia loh, ucap salah satu di antara mereka. Kali ini perempuan bertubuh mungil dengan wajah bulat.

Iya ya? Mirip banget, timpal yang lain.

Kami memang kembar, jawabku masih dengan senyuman.

Ooooh, turun ranjang. Tanpa dikomando, mereka menegaskan secara bersamaan. Aku sampai kagum terpana, betapa luar biasanya chemistry mereka.

Enak ya? Udah dapat kakaknya, sekarang dapat adeknya, kata ibu-ibu pemakai tunik.

Aku paham mereka sedang bercanda, tapi kok nada suaranya sudah tidak enak didengar ya? Duh, jangan bilang mereka sekumpulan ibu-ibu julid yang gemar mengurusi urusan rumah tangga orang lain. Bagaimana cara Diandra mengatasinya dulu?

Mba Diandra dulu tuh baik banget loh, Mba. Dia sering ngasih info seputar kesehatan secara gratis. Dokter kan dia? Tanya pemilik tubuh mungil.

Iya, jawabku singkat. Masih berusaha tersenyum ramah, meski yang terlihat mungkin adalah ringisan.

Kalau Mba kerjanya apa? salah satu dari mereka bertanya lagi.

Saya illustrator, Bu. Sekarang sudah nggak kerja kantoran lagi, nerima kerjaan dari rumah.

Ooohh. Ngegambar-gambar gitu ya? tanya si tubuh mungil kembali, yang kujawab hanya dengan anggukan.

Melihatku yang sudah tidak antusias diwawancara, mereka memilih beralih topik pembicaraan. Mungkin tidak ada yang menarik dari diriku, atau profesiku tidak memberikan keuntungan bagi hidup mereka? Entahlah.

Aku memilih mengeluarkan ponsel, lalu mengirimkan pesan ke Arya.

Mas, nanti siang makan di rumah nggak?

Karena memiliki waktu luang daripada saat kerja kantoran, aku bisa memasak. Mas Arya memiliki asisten rumah tangga, namun hanya diminta untuk membersihkan rumah, dan melakukan pekerjaan lainnya. Bibi tidak menginap dan datang pagi sebelum anak-anak berangkat ke sekolah, dan pulang di jam lima sore.

Tidak lama berselang, Arya menjawab pesanku.

Nanti siang makan di mall saja.

Belanja bahan makanan sekaligus baju tidur buat kamu.

Belanja baju tidur? Mengingat hal itu wajahku kembali memanas. Padahal tadi pagi aku sudah melupakannya, mengapa Arya membahasnya lagi?

***

Sekitar pukul sepuluh lewat lima menit, Arya datang menjemput kami. Giliran Ren yang duduk di depan, sementara aku dan Hime di belakang. Setelah aku memastikan Hime dan Ren memasang seatbelt-nya, mobil perlahan berjalan.

Sepanjang perjalanan, Hime bercerita soal di kelas tadi waktu ditanya soal hobi oleh gurunya. Dia menjawab ingin menjadi dokter seperti ibunya, supaya bisa membantu orang sakit katanya.

Kalau Ren jawab apa? Aku duduk di belakang kursi kemudi, hingga bisa melihat raut wajah Ren. Anak itu hanya melirikku, lalu menatap jalanan di depannya.

Ren, ditanya Mama. Kok nggak dijawab? Arya ikut menoleh melihat Ren. Dijawab, Nak.

Ren kembali melirikku, lalu menghela napas seperti orang dewasa. Pilot.

Arya mengacak rambutnya. Dari dulu dia senang sama pesawat.

Aku mengangguk paham. Makanya kok di rumah banyak banget mainan pesawat.

Kalau tante mau jadi apa? Hime memandangku. Sepasang matanya berbinar-binar ingin tahu.

Mulanya aku tidak paham dengan maksud pertanyaannya, namun setelah dipikir-pikir, ibunya bekerja sebagai dokter, ayahnya pengusaha, mungkin aku yang berada di rumah dia pahami sebagai bentuk tidak menjadi apa-apa.

Bilangnya Mama, Sayang. Bukan tante. Arya dari depan menimpali.

Dengan raut malu-malu, Hime menatapku lagi. Mama mau jadi apa?

Aku tersenyum lalu menyangga daguku, pura-pura berpikir. Apa ya? Mama suka ngegambar nih, enaknya jadi apa ya?

Mendengarku, Ren sontak menoleh. Aku yang menangkap pergerakannya ikut menatap, namun setelah menatapku cukup lama, anak itu kembali menghadap ke depan.

Suka ngegambar apa? Hime kembali bertanya.

Hmm. Ada banyak. Nanti deh Mama kasih lihat.

Mama bisa gambarin aku nggak? Hime kini mengubah posisinya menghadapku, yang kemudian mendapat teguran oleh ayahnya. Ketika sudah memperbaiki posisi, anak itu kembali bertanya. Mama bisa gamba raku?

Bisa dong! Nanti Mama gambar kamu pakai seragam sekolah.

Hime berteriak senang. Lalu mengusulkan rambutnya nanti memakai aksesori yang dia suka, lengkap dengan tas dan sepatu yang dipakainya. Sementara Ren kembali melirikku malu-malu, dan berpaling ketika aku melihatnya.

Sama Ren juga nanti, ucapku. Kini anak itu terang-terangan melihatku. Ya? Mau nggak Mama gambar?

Dia mengangguk meski raut wajahnya tetap kecut. Aku mengulum senyum lalu tanpa sengaja bertemu pandang dengan Arya melalui spion. Meski hanya diam tanpa ekspresi seperti itu, tanpa mengatakan hal romantis, jantungku masih saja dibuat berdebar hanya dengan tatapannya yang tajam sekaligus hangat.

Duh. Sampai kapan jantungku akan cupu seperti ini?

***

Kami tiba di rumah sekitar pukul dua belas siang. Arya kembali ke kantor, sementara aku dibantu Bik Marni mengemas bahan makanan dan memisahkannya untuk disimpan di kulkas. Anak-anak langsung ke ruang keluarga dan membuka mainan yang mereka beli di mall di depan TV.

Sayang, ganti baju dulu yuk? Aku menyusul mereka beberapa saat kemudian.

Hime dan Ren tidak menjawab. Hime tampak seru mencoba mainan alat kedokteran di depannya, sementara Ren sibuk menata robot-robot serta pesawat-pesawatnya di rak mainan.

Sayang, ganti baju dulu ya? ulangku. Tadi Ayah bilang kalian tidur siang dulu, baru main.

Bentar, Ma. Ini lagi benerin stetoskop dulu. Aku awalnya kaget ketika Hime dengan lugas menyebut kata stetoskop di tangannya, tapi mengingat Diandra adalah ibu kandungnya, itu sangat wajar.

Nanti, Nak. Nanti Mama bantuin pasang mainannya. Sekarang ganti baju dulu.

Dengan cepat Hime berhasil merakit mainannya, mencoba stetoskop dengan menempelkan ke kedua telinga layaknya seorang dokter. Sementara itu, Ren masih sibuk dengan berbagai model pesawat di hadapannya.

Ren? Yuk! Ganti baju dulu.

Ren menoleh sebentar untuk melihatku, dasi kupu-kupunya sudah terlepas dan jatuh ke laintai, namun anak itu tak acuh dan memilih melanjutkan keseruannya.

Aku kadang dibuat berpikir atas tingkah laku Ren. Dia bisa dibilang pendiam jika dihadapanku. Kadang seolah tertarik, tapi lebih banyak cuek dan terkesan juteknya. Mungkin dia belum bisa menerimaku, bisa jadi dia masih menganggapku orang asing yang tiba-tiba menyatu dengannya.

Ren? Ayuk! Ajakku lagi.

Tapi kali ini bahkan menoleh pun tidak. Anak itu malah menambah kerjaan lain dengan menghitung mainannya berulang-ulang. Setelah bosan, pesawat satunya diambil dan posisinya diganti dengan pesawat lainnya. Dia mengatur posisi mainan tanpa ada habisnya.

Yaudah kalau begitu. Hime mau duluan ganti baju?

Hime menatapku cemberut, seolah tidak setuju dengan usulku.

Baju Hime dan Ren udah kotor loh. Tadi dipakai main di sekolah.

Hime yang tadinya ingin mengeluarkan mainan lain mendadak berhenti. Ma. Kata Bu Aulia kalau kotor itu banyak kumannya.

Aku tersenyum tipis. Pancinganku berhasil. Anak ini memang terkadang harus dipancing dengan informasi menarik dulu. Tidak apa-apa, yang penting aku sudah tahu celahnya.

Betul. Bajunya kan udah dipakai main di sekolah. Lari-larian. Pasti sudah kotor dan banyak kumannya, ucapku menegaskan, kuharap Ren akan mendengarkan juga. Nanti kalau udah bobok siang, kita nanam tanaman yuk! Tadi Mama beli bibit bunga, mau ditanam di halaman depan, tambahku lagi.

Berhasil. Anak itu menoleh menatapku, mengerutkan dahi sembari memicingkan mata tidak suka, namun ketika aku membawa Hime untuk berjalan ke arah tangga, Ren lebih dulu berlari kecil melewatiku. Menapaki satu persatu anak tangga.

Pelan, Ren! Awas jatuh! teriakku, yang tentu saja tidak dipedulikan anak itu.

Mungkin aku harus mengobrol dengan Arya terkait karakter Ren. Jauh berbeda dengan Hime, Ren agak susah dibujuk dan diluluhkan hatinya. Sejauh ini aku belum menemukan cara supaya dia bisa percaya padaku. Ketika aku mendekatinya, dia akan menolak secara langsung dan memilih ayahnya, namun ketika aku dan Hime seru akan sesuatu, Ren tampak memperhatikan dan menaruh minat, meski tidak ingin terlihat.

Part sebelum dan selanjutnya ->Nayanika

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)
Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 7)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Senin, 20 Januari 2025 - 10:31 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)

Berita Terbaru

Dinas Pemadam Kebakaran Bondowoso menghadapi krisis armada yang menghambat penanganan darurat di wilayah yang luas.

Kebebasan Pers

Damkar Bondowoso Krisis Armada dan Butuh Tambahan Mobil Pemadam

Jumat, 18 Sep 2026 - 16:31 WIB

error: Content is protected !!