Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Sudah dua bulan sejak Arya datang memintaku di malam itu. Selama itu juga aku membereskan semua pekerjaanku di Jakarta begitu memutuskan untuk menerima lamarannya, karena tidak mungkin kami hidup terpisah setelah menikah. Sama saja aku tidak berperan menjadi istri dan seorang ibu.
Selama itu pula aku tidak pernah bertemu dengan Ghani lagi. Laki-laki itu sibuk menyiapkan album baru bersama band-nya. Terakhir aku telepon, dia memintaku untuk membiarkannya terbiasa tanpaku.
Cari aku, kalau kamu tidak bahagia bersamanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku tidak bisa lebih terharu lagi saat dia mengatakan itu. Ghani teramat baik padaku. Aku bahkan mungkin bisa belajar untuk menyayanginya lebih dari ini lagi andai saja dia bisa memeluk masa lalunya. Semoga suatu saat dia bisa berdamai dengan lukanya.
Sekarang aku fokus dengan hidupku. Sudah tiga hari aku di Surabaya. Malam ini keluarga Arya akan datang melamarku secara resmi. Meski begitu lamaran dilakukan secara sederhana, didatangi oleh keluarga inti saja, toh masing-masing keluarga sudah saling mengenal.
Walau begitu, ini adalah pengalaman pertamaku. Tentu saja aku didera oleh rasa khawatir. Aku begitu berbeda dengan hal perangai, meski kami tumbuh bersama sejak dalam kandungan.
Sedari tadi aku mondar-mandir. Dari meja makan, kembali ke kamar, lalu kembali ke meja makan. Ibu yang menyiapkan makanan di dapur bahkan dengan iseng menghitung frekuensi aku bolak-balik.
Yang tenang, Nay. Keluarga Arya nggak gigit kok.
Aku makin cemberut ketika Mama menggodaku. Ibunya galak nggak, Ma?
Mamaku mengangkat bahu. Tergantung siapa yang dihadapinya kayakanya, Nay. Kalau orangnya nggak mau diam dan suka panikan gitu kayaknya bakal dijutekin.
Mamaaa. Ih. Bukannya bikin anaknya tenang malah dibecandain.
Wanita yang tampak bahagia itu tertawa renyah, lalu mendekatiku dan merapikan pinggiran kebayaku. Lagian, apa yang kamu khawatirkan sih, Nay? Ini persiapannya udah lengkap, keluarga yang datang juga bukan orang baru, kamu pun udah cantik begini. Apa lagi yang kurang?
Aku memegang tangan kanan Mama, seolah ingin mengambil sebagian kekuatan darinya. Takut tiba-tiba orangtua Mas Arya batalin lamaran, Ma.
Hush! Nggak boleh ngomong gitu. Arya udah ngomong kok kalau ibu dan ayahnya setuju dengan kamu. Acara ini kan inti sebenarnya keluarga mau nentuin tanggalnya, tapi nggak enak kalau kamu belum diminta secara resmi. Sudah, percaya diri saja.
Mamaku benar-benar menularkan energi positifnya. Aku jadi sedikit tenang meski masih sedikit gugup. Tidak lama kemudian, rombongan keluarga Arya datang. Disambut oleh pamanku, saudara dari Ayah. Laki-laki yang juga dulu menikahkan Diandra.
Diam-diam aku melirik Arya. Malam ini laki-laki itu begitu tampan, meski biasanya memang tampan. Rambut-rambut halus didagunya dicukur, hingga meninggalkan warna kehijauan di kulitnya yang sawo matang. Masih maskulin. Hanya saja aura maskulinnya sedikit intimidatif, padahal dia mengenakan batik berwarna dasar abu muda, bukan warna hitam atau putih seperti biasanya. Untungnya aku mengenakan kebaya berwarna ice blue, tampak serasi padahal kami tidak seragaman dan tidak janjian.
Ren dan Hime tidak bisa datang. Kata Arya jika keduanya ikut, dikhawatirkan akan rewel dan meminta tidur saat acara masih berlangsung, padahal aku tidak keberatan, toh mereka bisa tidur di kamar Diandra.
Setelah berbasa-basi seperti menanyakan kabar, mereka duduk di kursi yang sudah disiapkan. Ruang tamu rumah ini cukup lapang untuk menampung kursi sebanyak tiga puluh, sedangkan dari pihak Arya hanya membawa sepuluh orang, dan dari pihakku ada empat belas termasuk aku.
Kami duduk berhadap-hadapan, dengan aku diatur untuk berada di tengah-tengah, begitu pun dengan Arya. Tidak lama kemudian, ayah Arya mulai berbicara, menjelaskan maksud kedatangan mereka. Beberapa saat kemudian, terjadi diskusi waktu pernikahan yang tepat sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga, lalu ditutup dengan melemparkan candaan. Singkatnya, proses lamaran ini berjalan dengan baik.
Kecuali satu. Ibu Arya tidak pernah tersenyum ketika melihatku.
***
Arya lebih dulu menyelesaikan makannya. Dia menghampiriku yang ikut membantu Mama menyiapkan makanan ringan di meja ruang tamu. Meminta ijin ke Mama untuk mengajakku berbicara di teras depan.
Kenapa, Mas? Tanyaku kembali gugup. Entah kenapa setelah kejadian saat Arya datang ke Jakarta menjadikanku mudah gugup saat bersamanya.
Kita nggak duduk dulu?
Aku meringis, tanpa sadar menggigit bibir bawahku. Nggak enak sama orang di dalam. Mereka masih makan dan ngumpul, sementara kita malah ngobrol di sini.
Arya hanya mengangguk ringan. Karena tanggal nikahnya udah ditentuin, aku mau diskusiin soal WO. Kamu sepakat kan? Kalau kita pakai jasa mereka aja?
Aku ngikut aja, Mas. Keluarga kan nggak mungkin juga bisa ngurus semua. Aku nggak mau mereka capek.
Mungkin kamu ada saran atau kenalan orang WO?
Aku menggeleng. Kalau di sini aku nggak tahu, Mas. Aku serahin semuanya ke kamu. Boleh?
Boleh. Kebetulan aku masih menyimpan kontak WO yang kemarin. Nggak pa-pa?
Oh, kontak WO yang meng-handle pernikahannya dengan Diandra kemarin? Tidak masalah. Aku tidak akan sentimentil pada hal sekecil itu.
Nggak pa-pa.
Arya hanya terdiam, menatap wajahku lekat-lekat. Seperti menginspeksi hal-hal yang tidak simetris di sana.
Aku spontan memegang wajah. Kenapa? Make up-ku jelek ya? Alisku nggak sama?
Tadinya aku memang ragu memakai jasa makeup rekomendasi Mama. Tahu sendiri, selera ibu-ibu jaman dulu terkadang tidak up to date.
Bukannya menjawab, Arya justru tersenyum sambil mengulum bibirnya, seperti menertawakanku. Jadilah aku membalikkan badan, menatap jendela di belakangku. Sialnya tidak terlihat jelas wajahku di sana.
Mas, ada apa sih? Aku kembali menghadapnya. Gemas karena sedari tadi dia cuma tersenyum menyebalkan.
Nggak ada apa-apa.
Trus kenapa ketawa?
Arya pura-pura bingung. Memang nggak boleh ketawa?
Ya ketawanya nggak gitu juga, balasku dengan nada kesal.
Emang ketawaku kayak gimana?
Aku memicingkan mata. Resek banget sih, Mas.
Arya kembali ingin menimpali, tapi terhenti ketika seseorang muncul dari arah dalam.
Hayo, pada ngapain berduaan di sini? Nggak boleh loh. Belum halal.
Dia adalah Ayah Arya, yang berdasarkan penilaianku sekali lihat cukup ramah dan fleksibel. Ha! Dia tidak tahu saja anaknya pernah mengunjungiku di malam hari untuk memintaku menjadi istrinya.
Bicara soal WO.
Bapak-bapak dengan perawakan tinggi dengan perut sedikit buncit itu menatap anaknya seolah tidak percaya, lalu bergantian menatapku. Ada sebuah senyuman di sana. Senyuman tulus dan berbentuk penerimaan.
Jangan mau diajak ngapa-ngapain dulu sama Arya.
Ayah, tegur Arya dengan raut wajah datar. Bekas seringai menyebalkannya tadi sudah tidak tersisa di wajahnya.
Ayahnya mencolek lengan atas anaknya. Becanda. Kamu itu loh, Mas. Kaku banget kalau soal gini-gini. Kasihan Naya nanti.
Aku cukup lega melihat pribadi Ayah Arya yang seperti itu. Setidaknya di keluarga mereka ada yang bisa mencairkan suasana. Jika mendengar obrolan teman-temanku yang sudah menikah, mertua itu ada saja bentuk dan rupanya.
Kami kembali ke dalam karena yang lain sudah mulai kumpul di ruang tamu untuk menikmati sajian penutup. Aku menunduk ketika banyak pasang mata melihat kami datang dari arah luar, bersama ayahnya Arya pula. Tatapan mereka seperti memiliki arti, rasanya seolah tertangkap basah sedang melakukan hal-hal yang tidak senonoh.
Dengan perasaan malu, aku kembali duduk di samping Mama yang sedari tadi ikut tersenyum menggoda. Jika saja tubuhku bisa menyusut sekecil semut, maka aku akan berubah dan segera mencari lubang untuk menghilang.
***
Arya dan keluarganya sudah pulang, keluarga dari pihakku pun ikut pamit, tinggal aku, Mama yang kini memilah makanan yang masih bisa dipanaskan dan Bibik yang sibuk mencuci piring bekas pakai.
Aku sedang sibuk memisahkan piring bersih dan kotor untuk dicuci, namun pikiranku tidak pada benda-benda rapuh itu. Entah kenapa aku masih terganggu dengan sikap ibu Arya tadi. Sangat kontras dengan suaminya. Ibu Arya bahkan sempat menatapku lama tanpa ekspresi, seperti tidak menaruh minat padaku.
Entah apa yang salah, karena sebelumnya aku tidak pernah berinteraksi dengannya. Bahkan tadi adalah pertemuan kedua kami setelah kematian Diandra dulu. Jadi aku merasa tidak memiliki latar belakang masalah dengannya. Selama lamaran tadi pun rasanya aku cukup sopan dan tidak melakukan kebodohan seperti biasanya. Atau apakah hanya dengan diam aura kebodohanku nampak di matanya?
Mbak? Ada lagi piring kotornya?
Aku tersadar dengan panggilan Bibik. Aku melihat piring bersih yang sedari tadi kupegang, dan beberapa diantaranya yang sudah kotor.
Ada, Bi. Bentar.
Segera kubereskan kerjaanku, lalu menyerahkan semua piring kotor yang tersisa. Setelah tidak ada lagi, aku meminta ijin pada Mama untuk kembali duluan ke kamar. Aku sangat lelah malam ini, padahal dibandingkan Mama, kesibukanku tidak ada apa-apanya.
Aku berdiri di depan cermin, kembali meneliti wajahku dengan polesan hiasan. Tidak ada yang aneh, bahkan aku percaya diri mengatakan jika bayanganku di cermin tampak cantik malam ini. Lalu mengapa Arya menatapku seperti itu?
Kubuka jepitan rambut yang membentuk sanggul sederhana di rambutku. Kuraih kapas dan pembersih make up di meja rias, lalu mengusap wajah dengan memulai di bagian pipi kanan. Ketika hampir selesai, ketukan dari luar pintu kamar terdengar, dan tidak lama kemudian sosok Mama muncul di baliknya.
Udah bersih-bersih aja, Nay.
Aku tersenyum tipis. Capek banget, Ma. Habis ini mau mandi, lalu tidur.
Mama ikut membantuku melepas kancing kebaya yang berada di punggung. Mama sedari tadi perhatikan, kamu kok murung? Kenapa?
Aku menoleh sebentar melihat Mama, lalu kembali menatap cermin sambil menggeleng. Cuma capek, Ma.
Kenapa, Nay? Kali aja Mama bisa bantu? desaknya.
Sejujurnya aku mulai takut dengan keputusan yang kuambil. Apakah Arya dan keluarganya akan baik memperlakukanku? Apakah aku bisa memenuhi harapan mereka? Bisa menjadi ibu yang baik untuk Ren dan Hime? Duh, kenapa keraguan kembali muncul di saat seperti ini?
Ma, kok Naya jadi gimana ya? Takut kalau keluarga Arya nantinya nggak bisa Nerima Naya. Mamanya terutama. Aku memilih duduk di kursi rias, memutuskan untuk menceritakan kegelisahanku.
Mama menunduk, dahinya berkerut penuh tanya. Kenapa sama mamanya?
Aku mengangkat bahu. Kayak galak gitu loh, Ma.
Masa sih? Nggak kok. Selama Diandra menjadi menantunya, hubungan keduanya baik-baik aja. Mama dan dia juga sering saling mengunjungi. Ya, mungkin adalah beberapa masalah, namanya juga ibu mertua dan mantu, tapi rasanya bukan masalah yang besar juga.
Diandra nggak mau cerita mungkin, Ma, desakku lagi.
Kalau kayak gitu berarti Mama nggak bisa tahu. Mama merapikan rambutku, yang masih keras karena semprotan hair spray. Kenapa kamu nggak ngomongin ini ke Arya saja?
Aku menggeleng lemah. Nggak enak.
Mama mendesah, memegang kedua bahuku. Kalau udah nikah, nggak boleh ada kata nggak enak sama suami kamu sendiri. Masalah bagaimana pun harus kamu diskusikan. Biar plong. Nggak makan hati.
Meski tidak yakin bisa melakukannya, aku mengangguk patuh. Lalu memeluk perut Mama yang kini tepat berada depan wajahku. Apakah ini yang dimaksud oleh orang-orang? Ada semacam kebimbangan ketika menjelang hari pernikahan?
Part sebelum dan selanjutnya ->Nayanika






