Novel: Nayanika (Part 11)

- Penulis

Jumat, 4 Oktober 2024 - 08:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: Nayanika (Part 11)

Kata orang kebanyakan, pernikahan itu indah-indahnya ada di bagian permulaan, romantis-romantisnya ada di satu tahun awal pernikahan, lepas dari itu mulai muncul ketidakcocokan, perbedaan karakter yang menonjol dan lainnya. Lalu mengapa di aku tidak merasakan itu? Di awal saja aku tidak merasakan romantisme bersama Arya.

Sudah seminggu usia pernikahan kami, namun aku belum sama sekali pernah disentuhnya. Jadi sacara fisik, aku masih lajang, hanya statusnya yang bersuami. Sejauh ini aku tidak berani menanyakan perihal itu, takutnya aku dikatakan perempuan yang begitu haus belaian laki-laki, padahal jika dipikir-pikir itu adalah salah satu hak istri bukan?

Aku paham, mungkin Arya belum bisa sepenuhnya melupakan Diandra. Bisa saja ketika timbul hasrat ingin mendatangiku, dia tiba-tiba mengingat bayangan saudaraku itu. Terlebih wajah kami yang mirip. Entah pergulatan batin apa yang terjadi dalam diri suamiku, namun bagaimana denganku?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lelah memikirkannya, aku kembali fokus dengan hidangan di depanku. Aku menyiapkan sarapan di dapur, sembari mengawasi pengasuh anak-anak yang baru saja memulai hari pertamanya hari ini. Sedari tadi Ren berlarian bolak-balik dari ruang keluarga ke arah kolam renang, mengajak ayahnya untuk segera ikut sarapan, sementara Hime masih duduk manis di sofa, mengajak kenalan pengasuhnya.

Hime, sarapan dulu yuk! Aku menghampiri Hime dan menyodorkan tangan untuk dia pegang. Anak itu segera turun dari sofa lalu memegang tanganku, tersenyum senang begitu melihat hidangan di atas meja.

Ren! Ada nugget! teriaknya pada Ren yang masih menunggu ayahnya di tepi kolam.

Duduknya yang baik, Nak. Nanti jatuh. Aku memperbaiki posisi kursi Hime yang sudah miring, lalu sedikit memajukan ke arah meja hingga dia nyaman.

Tidak lama kemudian, Ren datang sambil menarik tangan ayahnya, menduduki kursi di sebelah Hime, sementara Arya duduk di seberangnya.

Kamu nggak ikut sarapan? tanyanya.

Nanti. Bareng Bik Marni dan Mba Ika aja, jawabku sambil menyendokkan nasi ke piring Arya, lalu ke piring Ren dan Hime.

Mereka nggak akan keberatan kalau kamu makan duluan, ucap Arya lagi.

Nggak, Mas. Nanti aja.

Di tengah mereka sedang makan, Ren asik bercerita tentang temannya yang juga memiliki mainan pesawat yang sama dengannya, dia berjanji akan membawa mainan itu ke sekolah hingga bisa main bersama.

Makan dulu, Ren. Nanti ceritanya.

Ren langsung terdiam dan melanjutkan makannya. Sementara itu, Hime memakan nuggetnya dengan dengan mulut penuh, seolah besok-besok tidak akan lagi menjumpai makanan itu.

Pelan-pelan, Nak. Aku membantu memotongkan nugget menjadi kepingan kecil di piringnya Hime.

Assalamualaikum, suara seseorang yang tidak asing di telingaku terdengar dari arah ruang tamu. Tidak lama kemudian sosok ibu mertuaku muncul diikuti Bi Marni di belakangnya.

Nenek! Ren kini turun dari kursi, begitupun Hime. Mereka tidak menghiraukan larangan ayahnya untuk menghabiskan makanan dulu.

Keduanya memeluk neneknya, memberitahu jika mereka sedang sarapan dengan makanan kesukaannya. Mertuaku mendekati dapur, dan menemukan sepiring nugget di atas meja.

Kok makan nugget? Anak-anak kok dikasih makanan olahan seperti itu? tanyanya, sambil memandangku penuh tanya. Garis wajahnya yang sedikit tegas memberi kesan aristokrat, ditambah model pakaiannya yang biasa saja namun memberi kesan mahal di tubuhnya. Usianya yang sudah memasuki kepala enam, masih terlihat bugar dengan postur yang masih bagus. Bagaimana hal itu tidak mengintimidasiku?

Tidak segera menjawab, aku mendekati mertuaku itu lalu menyalami dan mencium tangannya. Apa kabar, Bu?

Mertuaku berdeham. Baik. Dia melirik Arya yang masih anteng melanjutkan sarapannya.

Sejujurnya aku masih canggung dengan mertuaku. Entah kenapa aku merasa beliau tidak menyukaiku, meski selama ini tidak pernah dia ungkapkan secara terang-terangan.

Kok anak-anak makan nugget? ulangnya lagi. Kali ini menatap Arya dengan raut wajah tidak suka.

Nggak pa-pa, Bu. Sesekali.

Tidak puas dengan jawaban Arya, kini Ibu menatapku. Kamu tahu kan nugget itu bukan makanan sehat. Diandra loh nggak sembarangan ngasih makanan ke anaknya.

Dan ini lah yang kukhawatirkan. Dia membawa-bawa Diandra. Seolah aku tidak berperan menjadi ibu yang baik, justru merusak konsep pengasuhan saudaraku selama ini. Malunya itu dikatakan di depan Arya dan anak-anak. Daripada aku salah bicara, aku memilih diam.

Tidak usah dibesar-besarkan, Bu. Diandra pun ngasih nugget ke anak-anak. Ini juga mereka sudah lama tidak makan. Arya menatap Ren dan Hime. Ayo kembali lanjutkan makanan kalian.

Aku yang masih merasa canggung memilih membantu Hime kembali ke kursinya, walaupun kenyataannya anak itu bisa melakukannya sendiri.

Nay. Ayo duduk. Makan bareng kami. Nada suara Arya yang tidak terdengar keras namun terasa dingin membuatku tidak bisa menolak. Sebelum dia marah, aku segera meraih kursi di sebelahnya.

Ibu, ikut sarapan bareng kami ya? Aku tidak jadi duduk setelah mengingat mertuaku masih berdiri sembari memandangi kami. Segera aku meraih piring kosong untuk mengambilkannya makanan.

Tidak usah. Kalian saja. Saya tunggu di luar, ucapnya, lalu berlalu ke arah ruang tamu.

Duduk, Nay, perintah Arya kembali.

Aku pun mengambil piring lalu menyendokkan nasi. Tidak lama kemudian aku ikut makan bersama yang lain, di tengah suasana canggung. Bahkan anak-anak pun tidak ada yang berani berceloteh lagi. Mereka hanya bergantian melirik ke arah Arya secara sembunyi-sembunyi.

***

Selesai makan, aku menyerahkan sisanya ke Bik Marni. Memintanya untuk membuatkan minum untuk mertuaku. Setelah mencuci tangan di bak cucian, aku segera menyusul Arya dan anak-anak di ruang tamu.

Tiba di sana, aku melihat Ren dan Hime duduk di lantai dengan mainannya, sementara Ibu dan Arya sedang membicarakan sesuatu yang tidak kutahu secara serius. Ketika melihatku, Ibu seolah tertangkap basah melakukan kesalahan, lalu berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

Kok nggak pernah ngunjungi Ibu? tanyanya, matanya mengikuti pergerakanku yang kemudian duduk di sisi Arya.

Aku sedikit ragu menjawab, sebab Arya sendiri belum pernah mengajakku untuk menemui orangtuanya semenjak selesai akad. Tapi di mata mertua, aku pasti salah karena tidak inisiatif untuk mengunjunginya sendiri. Aku salah karena toh bisa berkunjung tanpa harus diantar Arya lagi.

Belum ada waktu, Bu, jawabku standar.

Ya diadain dong. Masa nggak bisa nyempetin sama sekali. Nggak nginap kan juga nggak masalah, Ibu maklum.

Saya masih sibuk, Bu. Naya juga baru bisa sedikit santai karena pengasuh kembar sudah ada.

Aku sungguh terharu dengan sikap Arya yang selalu membantuku menjawab pertanyaan intimidatif dari ibunya. Belum sebulan aku sudah merasakan ketidaknyamanan jika dekat dengan mertua, bagaimana nantinya. Padahal kupikir selama ini aku adalah orang yang cukup mudah untuk bersosialisasi, selama lawan interaksiku juga asik.

Dulu Diandra malah tiap libur ke rumah Ibu, padahal nggak dibantu pengasuh.

Mungkin helaan napasku cukup terdengar di ruangan yang bisa dibilang tidak begitu luas ini, sampai-sampai Arya dan Ibu menoleh menatapku secara bersamaan. Biarkan saja. Aku sudah tidak peduli jika dikatakan tidak sopan, selama ini aku selalu diam jika Diandra diungkit di depanku. Tidak masalah jika saja aku tidak dibandingkan dengan dirinya.

Maaf, Bu. Lain kali kalau anak-anak libur, saya akan sempatkan waktu kunjungi Ibu.

Jangan merasa terpaksa seperti itu. Kesannya Ibu mengemis untuk kalian datang.

Astaga! Aku penasaran bagaimana perasaan Diandra memiliki mertua seperti ini, karena dengan karakter saudaraku yang seperti itu, aku yakin dia juga tidak begitu nyaman. Bagaimana pun dia bisa mengendalikan semua masalah dengan tenang, aku berani bertaruh dia pernah tersakiti setidaknya sekali dengan omongan mertuanya.

Nggak ada yang terpaksa, Bu. Ini memang belum punya waktu aja. Atau mungkin bisa gantian Ibu yang nginap di sini.

Ibu terdiam. Wajahnya sudah kusut dari tadi, untungnya Ren mengalihkan perhatiannya. Anak itu melaporkan jumlah mainannya yang bertambah, sementara Hime memintanya untuk dijadikan pasien bohongan.

Sementara itu, otakku berpikir keras bagaimana caranya aku bisa menaklukkan mertuaku ini? Kalau di minggu pertamaku sebagai menantunya saja sudah membuatnya marah seperti itu.

Part sebelum dan selanjutnya -> Nayanika

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)
Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 7)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Senin, 20 Januari 2025 - 10:31 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)

Berita Terbaru

IndoBuildTech Surabaya 2026 resmi digelar untuk memperkuat sektor konstruksi di Jawa Timur.

Teknologi

IndoBuildTech Surabaya 2026 Perkuat Sektor Konstruksi Jatim

Jumat, 18 Sep 2026 - 17:04 WIB

Dinas Pemadam Kebakaran Bondowoso menghadapi krisis armada yang menghambat penanganan darurat di wilayah yang luas.

Kebebasan Pers

Damkar Bondowoso Krisis Armada dan Butuh Tambahan Mobil Pemadam

Jumat, 18 Sep 2026 - 16:31 WIB

error: Content is protected !!