Novel : Choose Happiness (Part 22)
Bab. 22 Sebuah Kenyataan
Di siang harinya terlihat Amora yang tengah mengerjakan tugas kampusnya di sebuah cafe dengan beberapa teman sefakultasnya. Saat tengah sibuk dengan tugas mereka masing-masing, tiba-tiba Amora mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang tidak dia kenal lagi.
Karena penasaran, Amora pun membuka pesan itu dan melihat apa yang dikirimkan oleh orang tersebut, “Hah!” Amora terkejut dan langsung menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ra, kenapa?”
“Woy, ada apa?”
Tanya dua teman Amora yang heran saat mendengar Amora yang terkejut, “Engga, engga papa” jawab Amora yang langsung menutup handphone-Nya itu.
“Beneran lo?”
“Iya, ngga papa. Udah, lanjut ngerjain tugasnya, habis ini kita udah harus ke kampus lagi” jawab Amora yang membuat teman-temannya kembali melihat ke arah layar laptopnya masing-masing.
Amora juga begitu, tapi tidak bisa dipungkiri, Amora masih memikirkan foto yang baru saja dia lihat dari nomor yang tidak dia kenal, “Orang ini maunya apa sih?”
“Dari kemarin perasaan ngirim foto ngga jelas mulu” ucap Amora di dalam hatinya dengan foto itu yang terus saja terbayang-bayang di benaknya.
Foto itu adalah foto keluarga Amora dulu, di mana Mama kandung Amora masih hidup. Di dalam foto itu, wajah Amora serta Tirna dan seorang perempuan cantik yang berada di sebelah Amora dicoret menggunakan pulpen berwarna merah.
Lalu di bawah foto itu ada sebuah tulisan yang membuat Amora semakin terkejut.
“Keluargamu akan mati satu persatu, dan setelah ini adalah giliranmu, Amora.”
Pesan itu terus menghantui pikiran Amora sampai dirinya kembali ke kampus, “Pembunuh itu sekarang ngincer gue?. Dia belum puas apa bunuh Kak Rena?. Tujuan dia apa sih sebenarnya?”
“Kalau emang dia udah berencana untuk ngebunuh semua keturunan Sapphire, gue harus cepet-cepet cari bukti kalau emang laki-laki itu pelakunya.”
Di sore harinya terlihat mobil Amora yang berhenti di sebuah rumah yang ada di perumahan elit, lalu dia pun turun dari mobilnya itu dan berjalan ke arah salah satu rumah mewah itu.
Sesampainya di depan rumah itu, Amora mengangkat tangannya untuk menekan bel rumah itu, tapi itu semua terhenti karena tiba-tiba Amora teringat kejadian kemarin, tepatnya ketika dia didorong oleh Nasyla hingga terjatuh.
Flashback on.
“Lo cuma dijadiin pajangan di hidupnya Daren” ucap Nasyla.
“Tutup mulut lo, bit*h!” bentak Amora.
“Kenapa?, lo ngga terima gue bilang kayak gitu?” tanya Nasyla yang lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Dengerin gue. Lo, sama Daren, itu udah putus. Jadi lo ngga usah berharap Daren bakal peduli lagi ke elo. So, gue minta lo cepet keluar dari rumah ini, Daren juga ngga akan mau ketemu sama lo” ujar Amora dengan menekan beberapa kata yang dia ucapkan.
Tiba-tiba Nasyla menyunggingkan bibir kanannya, “Mor, dengerin gue. Lo di sini, sama aja kayak lo nyerahin nyawa lo ke tempat musuh lo sendiri.”
“Maksud lo apa?”
Mendengar pertanyaan Amora membuat Nasyla terkekeh kecil, “Lo pikir gue ngga tau kalau Kakak lo mati karena dibunuh sama anak dari keluarga Akraryan?”
Amora seketika terkejut saat mendengar Nasyla menyatakan hal tersebut, “Lo tau dari mana?”
“Amora-Amora. Gue itu tau semua, gue tau kematian tragis Kakak lo karena ulah penerus Akraryan. Jadi lo ngga usah macem-macem sama gue” ucap Nasyla seraya menepuk-nepuk bahu Amora.
“Karena gue tau semua rahasia yang disembunyiin sama Suami lo dari lo” lanjut Nasyla yang berbisik tepat di dekat telinga Amora.
Setelah itu Nasyla menarik wajahnya untuk menjauh dari Amora, “Hati-hati aja, suami lo ngga sebaik kelihatannya, dasar bodoh” ucap Nasyla seraya tersenyum.
Amora benar-benar terdiam mematung, rasanya dia seperti disambar petir di siang hari. Melihat Amora yang terkejut hingga mematung membuat Nasyla tersenyum puas, lalu dia pun melanjutkan langkahnya menuju lantai 2.
Tapi karena segala ucapan Nasyla semakin memancing emosi Amora, membuat Amora marah dan langsung menarik rambut Nasyla dari belakang. Merasakan rambutnya yang ditarik membuat Nasyla kesakitan dan berujung mendorong Amora agar Amora melepaskan tangannya dari rambutnya.
Namun itu semua membuat Amora terbentur pembatas tangga hingga kakinya terkilir dan berakhir terjatuh dari tengah-tengah tangga rumahnya itu, bertepatan di saat Daren yang tiba-tiba saja datang.
“Amora!”
Flashback off.
Setelah mengingat itu, Amora langsung menekan bel rumah yang memiliki bentuk hampir sama dengan rumah-rumah lainnya yang ada di perumahan elit itu.
Setelah 2 kali Amora menekankan bel rumah itu, pintu besar itu pun terbuka, “Siapa sih?!”
“Eh, elo. Ngapain lo di sini?” tanya perempuan pemilik rumah itu yang ternyata ada Nasyla.
“Jawab pertanyaan gue. Kenapa lo bisa tau tentang Kak Rena?” tanya Amora dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
“Perlu banget nih gue jawab?” tanya Nasyla seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan juga dengan ekspresi mengejek.
Karena tidak ingin membuang banyak waktu dengan perempuan menjengkelkan itu, Amora langsung menarik tangan Nasyla dan membawa perempuan itu masuk ke dalam rumahnya sendiri.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






