Novel : Choose Happiness (Part 13)

- Penulis

Selasa, 15 Oktober 2024 - 08:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Choose Happiness (Part 13)

Bab. 13 Kebersamaan

Di sebuah malam yang terang karena ditemani oleh bulan yang hanya ada setengah, atau biasa dipanggil bulan sabit. Terlihat Amora dan Daren yang tengah menunggu makanan yang mereka pesan dihidangkan di sebuah restoran mie.

“Dingin ya?” tanya Daren saat melihat Amora yang terus saja menggesekkan kedua telapak tangannya untuk mencari kehangatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ngga terlalu kok” jawab Amora yang langsung menghentikan aktivitasnya karena tidak ingin terlihat kedinginan oleh Daren.

Tapi tanpa Amora inginkan, Daren mulai melepaskan jaket yang dia pakai dan memakainya ke Amora, “Ngga usah, nanti kamu yang kedinginan.”

“Engga. Udah masukin tangan kamu” jawab Daren yang dipatuhi oleh Amora. Dengan bantuan Daren, Amora pun berhasil memakai jaket milik suaminya itu.

“Besok-besok kalau keluar malam pakai celana panjang sama sweater aja ya. Jangan pakai dress pendek kayak gini” ujar Daren dengan lembut dan pelan di dekat telinga Amora.

Amora menganggukkan kepalanya, “Iyaa.”

Beberapa menit kemudian Amora kembali mengangkat suaranya untuk bertanya, “Pacar kamu ngga marah kalau tau kita keluar kayak gini?” tanya Amora.

“Ngapain marah?, kamu kan istri aku” jawab Daren dengan nada suaranya yang selalu saja lembut.

“Ya siapa tau aja” ujar Amora.

“Pacar kamu sendiri?” tanya Daren balik.

Bukan menjawab, Amora malah terkekeh kecil saat mendengar ucapan Daren, “Hahahaha, lucu ya?. Kita suami istri tapi saling punya pacar. Coba aja keluarga kita tau, ngga tau lagi kita bakal diapain sama mereka.”

Mendengar itu Daren terkekeh sejenak seraya menyunggingkan bibir kirinya, “Benar. Tapi kalau disuruh memilih, siapa yang akan kamu pilihan antara aku dan pacarmu itu?” tanya Daren.

Belum sempat menjawab, seorang pelayan datang dengan membawa makanan yang mereka pesan. Akhirnya percakapan mereka pun terhenti di Daren karena mereka memutuskan untuk makan.

Di pertengahan makan Daren terus saja melihat Amora yang menyingkirkan rambut panjangnya ke belakang, karena tidak ingin acara makan Amora terganggu, Daren pun berinisiatif memasukkan rambut Amora ke dalam jaket, agar tidak terus-terusan jatuh ke bawah.

Melihat tindakan Daren yang tiba-tiba membuat Amora terkejut, “Ngapain?” tanyanya.

“Bentar” jawab Daren yang lalu memasukkan rambut Amora ke dalam jaket.

“Udah, lanjutin makannya” ujar Daren setelah selesai melakukan aktivitas kecilnya itu.

Melihat itu Amora berusaha menahan senyum, perempuan itu memutuskan untuk menganggukkan kepalanya saja dan melanjutkan acara makannya. Begitu juga dengan Daren.

Di sekitar pukul 10 malam terlihat Amora dan Daren yang sudah mengganti baju mereka dan bersiap untuk tidur, tapi malam itu berbeda dengan malam biasanya, karena mereka berdua tidur bersama.

Karena di malam itu, ketika Amora sudah bersiap untuk tidur dan Daren juga sudah berada di sofa, secara tiba-tiba lampu mati, melihat kondisi kamar yang tiba-tiba gelap membuat Amora panik dan berteriak.

“Kak!”

“Ra” dengan cepat Daren beranjak dari sofa itu menuju ke arah Amora.

Tapi saat itu keadaan benar-benar gelap, hingga membuat Amora yang juga beranjak dari kasur untuk menghampiri Daren terjatuh karena tersandung karpet dan berakhir tersungkur di lantai.

Bruk!

“Arghh!!”

“Ra, Amora kamu kenapa?” tanya Daren yang masih berjalan pelan sembari meraba apa yang ada di depannya.

“Kak, aku jatuh” jawab Amora yang berusaha untuk bangun dan pada akhirnya Daren berhasil menemukannya yang sudah dalam kondisi duduk di lantai.

Tapi ketika Daren berhasil menemukan Amora, perempuan itu hanya diam mematung, “Ra, kamu kenapa?, kenapa diam aja?, ada yang sakit?”

Tidak ada jawaban dari Amora, tapi tak lama kemudian terdengar suara nafas Amora yang tiba-tiba memburu, dengan tangan kirinya yang memegang dadanya sendiri sedangkan tangan kanannya menggenggam erat tangan Daren hingga kukunya yang panjang tidak sengaja melukai kulit Daren.

Tapi selang beberapa detik setelah itu lampu kembali menyala, dan Daren terkejut saat melihat Amora yang sudah dalam kondisi mata yang membelalak, keringat yang terus menetes dan juga nafas yang memburu.

“Ra!, kamu kenapa?. Ra, lihat aku, Ra” ucap Daren dengan panik dan berusaha menyadarkan Amora.

“Aku takut” ujar Amora dengan suara yang seperti ditahan.

“Ada aku di sini, tenang, oke?. Sekarang lampu udah nyala, ayo kembali ke kasur” ajak Daren yang lalu membantu Amora untuk berdiri dan menuntun perempuan itu untuk kembali ke atas kasur.

“Udah, tidur ya, udah malem” ucap Daren yang terus berusaha menenangkan istrinya yang entah kenapa bisa seperti itu.

Mendengar itu Amora mulai bernafas secara normal, melihat Amora yang sudah kembali ke kondisi semula, Daren pun beranjak mengambil tisu dan menghapus keringat Amora yang sedari tadi terus bercucuran.

“Udah lebih tenang sekarang?” tanya Daren yang hanya dianggukki oleh Amora.

“Ya sudah, tidur ya?” lagi-lagi Amora menganggukkan kepalanya, lalu dengan bantuan Daren, Amora pun mulai membaringkan tubuhnya di kasur yang sungguh nyaman itu.

Melihat Amora yang mulai memejamkan matanya, Daren pun beranjak kembali menuju sofa, tapi baru saja melangkah, sebuah tangan berhasil menghentikan langkahnya, “Kak, boleh tidur di sebelahku ngga?”

“Kamu ngga papa tidur sama aku?” tanya Daren yang dianggukki pelan oleh Amora.

Daren pun akhirnya tidur di sebelah Amora. Sedari awal mereka memang tidak pernah tidur satu ranjang, karena memang Daren yang awalnya tidak ingin dan Amora juga yang sepertinya belum sepenuhnya menerimanya sebagai suaminya.

Malam itu Daren masih belum bisa terlelap, karena dia masih heran dengan apa yang telah terjadi kepada Amora tadi. Kenapa perempuan itu tiba-tiba menjadi ketakutan dan panik, bahkan kamar mereka sangat dingin karena AC membuatnya berkeringat sebanyak itu. Sungguh aneh.

Beberapa menit menatap Amora membuat Daren seperti merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya, tapi Daren tau betul itu perasaan apa. Dengan cepat Daren langsung memalingkan pandangannya dari wajah Amora.

Dan kini laki-laki itu memilih untuk menatap langit-langit kamarnya, “Engga, Ren. Kamu di sini untuk balas dendam sama dia dan keluarganya, kamu ngga boleh suka. Abaikan rasa suka itu.”

“Balas dendam akan berhasil jika kamu ngga punya perasaan sedikitpun ke Amora, pendam dalam-dalam rasa itu, Ren” lanjut Daren yang terus berucap di dalam hatinya.

Tapi setelah mengatakan itu, Daren tambah gelisah dan semakin tidak bisa tidur. Tapi akhirnya dengan kembali melihat wajah Amora yang tenang karena sudah terlelap membuat Daren tersenyum tipis dan mulai ikut terlelap di gelapnya malam.

Keesokan harinya terlihat Amora yang bersiap dengan pikiran yang ke mana-mana, “Semalam itu mimpi atau beneran ya?. Tapi kayaknya mimpi deh” batin Amora.

“Mau tanya Daren tapi gue bingung tanyanya gimana. Tapi kalau beneran gue malu banget, pasti Daren bakal ledekin gue” lanjut Amora yang masih saja kepikiran.

“Aaaaa!!. Ngga-ngga, pasti mimpi. Positif thinking aja, Ra. Pasti mimpi” final Amora yang akhirnya berpikir bahwa apa yang terjadi semalam hanyalah mimpi.

Di siang harinya, karena Amora hanya ada kelas pagi 2 kali. Dia pun memutuskan untuk pulang, karena Daren juga ingin pulang siang. Akhirnya di hari itu mereka pun berencana untuk menyiapkan mereka perlengkapan mereka untuk berangkat ke Paris besok Sabtu sore.

Sesampainya di rumah, Amora melihat mobil Daren yang sudah terparkir di garasi rumah mereka. Amora pun berjalan menuju rumahnya seraya menenteng tas yang berisikan buku-buku serta laptopnya.

Setelah memasukkan pin, Amora semakin masuk ke dalam rumahnya dan sesampainya di dapur dia melihat Daren yang tengah mengutak-atik benda-benda yang ada di dapur.

Melihat itu Amora segera menghampiri Daren. Karena faktanya, mereka berdua sangatlah gemar memasak, jadi tidak heran jika Daren dan Amora jarang membeli makanan di luar dan lebih memilih untuk memasak di rumah.

“Aku bantuin ya” ucap Amora setelah menaruh tas yang tadi dia bawa di atas meja makan yang tak jauh dari sana, hanya dipisahkan oleh sekat kaca.

“Kamu ganti baju dulu aja, nanti kotor” ujar Daren yang masih sibuk dengan aktivitasnya di atas kompor.

“Ngga papa, nanti habis makan aku mandi kok” jawab Amora yang mulai memotong bawang bombai yang tadi telah dicuci oleh Daren. Mendengar itu Daren hanya menganggukkan kepalanya.

Mereka berdua sangat bersenang-senang dalam memasak, bahkan mereka juga sempat bercanda di tengah-tengah kegiatan itu. Bukan hanya itu, Daren juga beberapa kali secara tidak sengaja memegang tangan Amora ketika hendaklah mengambil alat atau bahan yang sama.

15 menit kemudian mereka telah selesai membuat makanan dan jus yang akan menjadi santapan mereka di siang hari itu, “Emm, enak, jago juga kamu masaknya” ucap Amora.

“Buatan kamu juga enak banget” jawab Daren yang kembali memuji makanan milik Amora, mendengar itu Amora sedikit mengembangkan senyumnya.

Di tengah-tengah acara makan itu, tiba-tiba handphone Amora menyala dengan menampilkan sebuah pesan dari Marvell, karena handphone itu berada di antara Amora dan Daren, Daren pun melihat jelas pengirim pesan itu.

Tapi dengan cepat Amora mengambil handphone-Nya itu agar Daren tidak sampai melihat isi dari pesan yang dikirim oleh Marvell itu. Dan saat melihat Amora yang mengambil handphone itu membuat Daren sedikit menarik bibir kirinya ke atas.

Setelah itu Amora pun melihat, pesan apa yang telah diberikan oleh Marvell. Ternyata itu adalah pesan di mana Marvell mengajaknya untuk makan siang. Amora pun menolak dengan lembut karena dia lebih memilih makan siang di rumah.

Di sore harinya terlihat Amora dan Daren yang berada di walk in closet, mereka berdua tengah memasukkan baju-baju mereka ke dalam sebuah koper masing-masing, dan di koper lainnya terdapat perlengkapan mereka serta beberapa jaket yang memang mereka jadikan satu, sehingga mereka hanya membawa 3 koper untuk 7 hari di Paris.

Setelah semua 3 koper mereka siap, Amora pun beranjak untuk mandi, “Udah taruh sana aja, Kak. Besok biar enak ngambilnya” ucap Amora yang menyuruh Daren untuk menaruh 3 koper itu di pojok ruangan saja.

“Iya. Kamu jadi mandi?” tanya Daren setelah menaruh koper itu di pojok ruangan.

“Iyaa, ini mau siap-siap mandi” jawab Amora.

“Oh ya udah.”

Setelah itu Amora pun beranjak menuju kamar mandi, sedangkan Daren menuju ruang utama kamarnya.

 

 

 

Bersambung…….

 

 

 

https://www.redaksiku.com/novel-choose-happiness-part-12/

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru