Aku bergeming. Aku seakan tak percaya dengan tawaran ini. Apa aku mampu? Apalagi di tengah masalah rumah tanggaku dengan Amira. Namun, sepertinya Allah sudah mengatur semuanya dengan baik. Kalau aku terima pekerjaan ini, berarti akan lama di Jakarta, dengan kata lain, aku bisa lebih mudah bertemu Amira dan menyelesaikan masalah kami. Apa ini jawaban Allah atas semua doa-doaku?
Bayu?
Kalau saya terima, berarti saya akan lama di Jakarta, lalu bagaimana dengan pekerjaan saya di sini? Apakah nantinya saya akan bisa kembali ke Riyadh, atau selamanya akan ada di Indonesia? tanyaku ragu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Don™t worry. You are still my finance manager. Kamu bisa tetap kembali ke Riyadh beberapa bulan sekali. Nanti pekerjaan di sini akan dicover oleh staf keuangan yang lain. Soal salary, kamu tetap mendapatkan gaji dalam mata uang Saudi Riyal. Bagaimana? Kalau setuju, kita segera bicarakan detailnya.
Ada rasa menggelitik dalam perutku, mengetahui aku tetap bisa bekerja di Riyadh, tapi juga punya kesempatan untuk menyelesaikan masalahku di Jakarta. Sungguh, nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan? Rasa bahagia membuncah dalam dada.
Bismillah, Mr. Abdurrahman, I™ll try. Kalau nanti ternyata restoran Anda tidak berjalan dengan baik, bagaimana?
Kita akan membuat beberapa back up plans. Makanya tadi saya katakan, begitu kamu setuju, kita akan bicara lebih rinci mengenai rencana ini. Atau kamu butuh waktu untuk berpikir?
Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya bersedia, Pak, jawabku mantap. Insyaallah.
Lelaki berambut ikal dan berkulit putih itu tersenyum sambil membetulkan penutup kepala bermotif kotak-kotak merah ciri khas lelaki Saudi, Mumtaz.
Kesibukan merencanakan pekerjaan baru di Jakarta, membuatku sedikit melupakan masalah dengan Amira. Aku juga belum memberi tahu Amira mengenai hal ini. Biarlah, aku akan memberikan kejutan untuknya. Kalau nanti dia marah dan mengatakan kalau aku tidak mengajaknya bicara masalah ini, aku akan jelaskan kalau semuanya serba mendadak. Aku juga akan katakan, ˜bagaimana akan menjelaskan, kalau kamu seolah menghindariku™.
Rasanya masih tidak percaya kalau hanya dalam beberapa bulan ke depan, aku akan kembali berangkat ke Jakarta untuk memulai pekerjaan baruku. Tidak sabar rasanya untuk segera tiba di sana dan bertemu istriku. Aku juga harus mengurus perpanjangan visa Amira yang akan habis masa berlakunya.
Minggu demi minggu berlalu, hingga akhirnya tiba juga saat keberangkatanku. Hingga saat aku berangkat, Amira masih tidak tahu. Aku ingin memberikan kejutan menyenangkan untuknya. Aku juga sengaja membeli sebuah tas model terbaru keluaran merek terkenal, sebagai hadiah untuk Amira. Aku berharap ia akan menyukainya. Perjalanan Riyadh-Jakarta terasa sangat lama. Selama di pesawat aku gelisah, ingin segera sampai ke Jakarta.
Setelah menempuh kurang lebih sembilan jam perjalanan, akhirnya pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 15.00 WIB. Seperti biasa, udara lembap menyergap ketika aku keluar dari bandara setelah mengambil bagasi. Aku segera mencari taksi dan sepuluh menit kemudian mobil berwarna biru muda itu membelah lalu lintas sore Jakarta, membawaku kepada pujaan hati.
Aku memilih untuk menuju rumah Ibu karena selama di Jakarta Amira memilih untuk tinggal dan menemani Ibu. Suasana rumah sore itu terlihat sepi. Wajar, mengingat si kembar pasti masih di kantor dan Ibu biasanya sedang beristirahat. Aku membuka gerbang yang tak terkunci. Kulihat mobil Amira terparkir di halaman. Dadaku berdebar membayangkan reaksinya melihat aku datang. Terbayang wajah cantik dengan lekukan di kedua pipinya. Aku meletakkan koper di teras lalu menekan bel. Lama kutunggu, tapi tak ada satu pun yang datang untuk membuka pintu.
Sekali lagi kutekan bel sambil melirik jam di tangan. Pukul 17.00 lebih. Aku mulai bertanya-tanya, ke mana Amira? Ibu juga tidak terlihat. Rumah seperti tampak kosong. Perasaanku mulai tidak enak. Sambil menunggu, aku duduk dan membuka ponsel. Lebih baik aku menghubungi Amira sekarang.
Kutekan nama My Love, untuk nomor Amira. Panggilan tersambung, tapi belum diangkat. Sekali lagi kutekan tombol hijau. Setelah beberapa deringan, terdengar suara merdu yang beberapa bulan ini sangat kurindukan.
Assalamualaikum, Mir! Kamu di mana?
Waalaikumsalam, Mas! Aku di rumah. Baru aja selesai makan sama Ibu.
Di rumah Pasar Minggu? tanyaku dengan kening berkerut. Amira berbohong.
Iya. Kan aku bilang, selama di sini, aku tinggal di rumah Ibu. Kenapa, Mas?
Kamu yakin di rumah Ibu? Aku berusaha menekan rasa kecewa. Baru kali ini aku mendengar Amira berbohong. Ada apa sebenarnya, Mir? Rasa rindu yang begitu menggebu tiba-tiba menguap begitu saja.
Tak lama kemudian, aku melihat sebuah Toyota Camry hitam mengilap berhenti di depan rumah. Seorang perempuan tinggi langsing dengan celana kulot hitam dan tunik hijau sage dipadu jilbab bermotif senada, turun dari mobil. Amira! Ia melangkah masuk dengan wajah ceria. Tangannya memegang telepon genggam karena masih menerima panggilanku. Aku membiarkannya mendekat ke teras. Begitu melihatku, ia terperanjat. Wajah cerianya berubah pucat.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






