Aku nggak serendah itu, Mas. Aku tahu, meskipun kita punya masalah, aku masih istri kamu! Tega banget kamu nuduh kayak gitu! sahutnya mulai terisak.
Aku bergeming.
Sesungguhnya, ada rasa menyesal mendengarnya menangis, tapi rasa gengsi melarangku untuk mengalah. Aku sudah cukup mengalah dan mengakui semua kesalahanku. Prasangka buruk mulai menguasai hatiku, berusaha menebak kenapa Amira belum mau pulang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, setelah terdiam beberapa saat, akhirnya aku kembali mengalah. Dengan berat hati, aku mengizinkan Amira untuk tetap di sana sampai ia siap untuk kembali. Biarlah, ia menghabiskan waktu sepuasnya di Jakarta karena setelah ini ia harus siap untuk menghadapi kembali masalah kami. Semoga dengan kukabulkan permintaannya, bisa membuat perempuan tercinta itu menyadari betapa aku menyayanginya dan tak ingin berpisah.
Baiklah, Mir. Kamu boleh di sana sampai siap untuk pulang. Aku nggak akan ngelarang. Selesaikan dulu urusan kamu, urusan Sasha, atau pun Ibu. Nanti setelah semua selesai, kamu kasih tahu aku, kataku datar, masih menyimpan rasa kesal di dada.
Lama tak terdengar jawaban Amira. Namun, akhirnya ia berkata, Baik, Mas. Aku akan pulang minggu depan. Nanti aku kirim tiketnya supaya kamu bisa jemput.
Aku terkesima, tak percaya mendengar kata-katanya. Rasanya aku ingin melompat saking senangnya mendengar keputusan Amira. Alhamdulillah, Allah kabulkan doaku. Akhirnya istriku memutuskan untuk kembali ke Riyadh. Namun, karena masih jengkel, aku berusaha untuk tidak terdengar terlalu senang.
Kamu serius? Nanti kalau ada apa-apa di sini kamu ngambek lagi terus nyalahin aku. Udahlah, kalau kamu masih mau lama di sana, ya silakan.
Nggak, Mas. Aku janji seminggu ini aku akan selesaikan urusanku. Setelah itu, aku akan balik ke Riyadh. Kalau pun nanti kita bertengkar lagi dan nggak nemu kata damai, aku harap kamu ikhlas melepasku. Suara Amira terdengar lebih tenang.
Baik kalau gitu. Nanti aku jemput. Aku juga udah punya rencana untuk kita berdua. Nanti aja kalau kamu udah di sini. Aku janji akan bikin kamu bahagia.
Selesai menghubungi Amira, aku segera bersiap-siap untuk menghadiri acara kajian Ustaz Faruq. Pak Farhan mengajakku kemarin. Kebetulan, pikirku. Aku memang ingin ngobrol dengannya.
Gimana kabarnya Mbak Amira, Mas Bayu? Kapan pulang? tanya lelaki dengan rambut yang sudah mulai memutih itu. Aku yang sedang mengemudi tersentak dan menoleh sekilas pada Pak Farhan.
Oh, baik, Pak. Iya, Amira belum bisa pulang karena masih ada keperluan keluarga yang belum selesai, tapi insyaallah minggu depan pulang.
Oh, syukurlah. Kasihan Nak Bayu kalau ditinggal sendiri kelamaan. Waktu puasa udah pulang duluan, kan ya? tanyanya sambil tersenyum.
Iya, Pak. Kangen katanya sama ibunya, jawabku singkat. Boleh saya tanya, Pak?
Pak Farhan memandangku lalu mengangguk.
Monggo, Nak. Mau tanya apa?
Aku berdehem, mencoba membasahi kerongkongan.
Bagaimana kalau seorang istri tidak menurut apa kata suaminya? Apakah si suami patut menegur?
Nggak nurutnya gimana? Kalau hanya masalah sepele dan bukan soal akidah, bisa dibicarakan baik-baik. Tapi kalau sudah menyangkut akidahseperti sang suami menyuruh pakai jilbab, tapi istrinya menolakmaka suami harus dengan tegas menegurnya.
Kalau pergi tanpa izin suaminya? tanyaku lagi.
Ya sebetulnya nggak boleh, Mas. Selama suaminya adalah laki-laki saleh, istri wajib patuh pada suaminya. Kalau suami melarang, istri harus menurut, jelas Pak Farhan. Saya lihat, zaman sekarang banyak perempuan yang tidak mendengarkan kata suaminya, padahal semua larangan itu untuk menjaga keamanan si perempuan juga.
Aku menyimak sambil konsentrasi mengemudi.
Lalu kita sebagai suami harus gimana, Pak?
Pak Farhan tidak langsung menjawab.
Menurut Mas Bayu gimana? Lelaki itu balik bertanya.
Kalau kata hati kecil saya, ya harus kasih tahu istrinya, tapi bilang juga alasan ngelarang kenapa? Tanya juga sang istri, kenapa harus pergi? Kalau memang urusannya penting dan nggak melanggar agama, saya cenderung izinkan. Yang penting suami dan istri saling bicara terus terang. Benar nggak, Pak?
Pak Farhan tersenyum.
Dengan selalu mengikuti kajian Ustaz Faruq dan berbincang dengan Pak Farhan, aku menjadi semakin mengerti masalah antara suami dan istri. Aku semakin menyadari kalau mengarungi rumah tangga itu memang membutuhkan kesiapan dan ilmu yang benar, bukan sekedar rasa cinta. Berdebat atau bahkan bertengkar dengan pasangan itu juga untuk mengutarakan semua beban dalam hati, selama suami dan istri melakukannya dengan baik.
Aku semakin yakin untuk mempertahankan rumah tanggaku, apalagi Amira juga berjanji untuk segera pulang. Waktu seminggu terasa sangat lama, aku tidak sabar untuk segera menjemput Amira. Tiga hari setelah pembicaraanku terakhir dengan Amira, ia mengirimkan pesan tentang kepulangannya.
-bersambung-
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






