Novel: A Way to Find You (Part 14)

- Penulis

Jumat, 15 November 2024 - 19:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebelumnya: A Way to Find You (Part 13)

***

BAB 14

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Satu hari menjelang waktu keberangkatan, Giska memeriksa kembali perlengkapannya. Selama beberapa hari terakhir, ia begitu sibuk hingga tidak menyadari begitu cepat waktu berlalu. Ada banyak hal yang harus ia lakukan, terutama menyelesaikan target pekerjaan.

Giska tidak memiliki asisten atau tim khusus sampai saat ini. Ia terbiasa menyelesaikan semuanya sendirian, mulai dari proses rekaman, penyuntingan, sampai manajemen akun media sosialnya. Sejak awal, ia hanya memiliki Naura yang bekerja sebagai manajer sekaligus admin pribadinya. Naura bertugas mengurus segala koneksi Giska dengan pihak luar, termasuk tawaran kerja sama dari brand-brand kecantikan, jadwal meeting dengan orang-orang tertentu, dan juga konten endorsement.

˜Apa aku harus mulai cari tim tahun ini?™ pikir Giska. Dari dulu, ia ingin mencoba merekrut tim kreatif, tapi berkali-kali batal karena takut adanya ketidakcocokan.

Udah lengkap semua, Gis? Tiba-tiba, terdengar suara Bima dari arah tangga. Giska yang sedang mengabsen barang-barangnya di karpet depan televisi otomatis menoleh.

Kayaknya udah semua, tapi aku ngerasa masih ada yang kurang, gitu, jawab Giska sembari mengamati satu per satu barang di hadapannya.

Bima ikut duduk bersila di atas karpet. Ia meraih sepasang sepatu gunung berwarna hitam-oranye milik sang istri. Sepatu baru? tanyanya.

Giska mengangguk. Aku beli sama Naura minggu kemarin. Sepatu lamaku udah buluk banget. Oh, aku juga beli ini. Ia mengacungkan trekking pole yang berwarna senada dengan sepatu barunya.

Bima mengambil tongkat tersebut dan mengamatinya sambil mengangguk-angguk. Selama ini, mereka belum pernah mencoba menggunakan trekking pole dalam pendakian. Orang-orang bilang, benda tersebut sangat membantu untuk menopang tubuh serta menjaga keseimbangan di medan yang sulit.

Mas, coba bawa ke sini barang-barang kamu, terus kita absen ulang biar tahu apa yang kurang.

Oke. Bima pun beranjak mengambil carrier-nya sendiri.

Tidak berselang lama, karpet di hadapan mereka sudah penuh oleh alat-alat pendakian. Keduanya membagi perlengkapan tersebut sesuai kebutuhan dan ukuran carrier masing-masing. Giska membawa carrier lebih kecil berkapasitas 50 liter, sementara Bima yang mendapat jatah membawa tenda akan menggunakan carrier berkapasitas 70 liter.

Besok, kita tambah logistik. Setahu aku, jalur ini nggak ada warung di pos-pos pendakiannya, ujar Bima. Tangannya dengan cekatan mulai memasukkan barang-barang ke dalam carrier miliknya. Ia pun sempat membantu memasangkan trash bag untuk melapisi bagian dalam carrier Giska. Trash bag tersebut berguna untuk melindungi barang bawaan mereka saat musim hujan seperti ini.

Kita jadi camping dua hari, kan? tanya Giska.

Iya. Pas turun, kita nge-camp lagi aja. Takutnya kamu capek. Ia melirik sang istri dan tersenyum kecil. Biar pas di puncak kita juga bisa santai, nggak buru-buru dikejar waktu.

Keduanya telah merencanakan pendakian ini matang-matang, mulai dari jadwal keberangkatan hingga kepulangan. Semua jadwal pekerjaan sudah dibereskan. Tiket pulang-pergi pun sudah mereka kantongi. Sejauh ini, tidak ada satu pun yang kurang, kecuali tambahan logistik seperti kata Bima tadi.

Malam itu, Giska kesulitan memejamkan mata. Ia terlalu tegang sekaligus antusias. Rasanya seperti akan mendaki pertama kali. Setelah sekian lama, akhirnya ia akan kembali ke tempat favoritnya. Ia sudah bisa membayangkan sejuknya udara pegunungan dan segarnya aroma rerumputan. Tidak ada suara bising kendaraan dan hiruk-pikuk perkotaan. Yang ada hanyalah suara siulan angin disertai celoteh para binatang. Ia makin tidak sabar merasakan itu semua.

Setelah membolak-balikkan badan beberapa kali, tiba-tiba Giska merasakan lengan sang suami memeluknya dari belakang. Perempuan itu otomatis berhenti bergerak.

Nggak bisa tidur, ya? tanya Bima halus.

Giska mengangguk tanpa suara. Bima menariknya mendekat hingga tubuh mereka rapat tanpa jarak. Sejenak, keduanya menikmati kehangatan itu dalam diam.

Udah berapa lama kamu nggak naik gunung? tanya Bima kemudian.

Mm ¦ udah hampir dua tahun kayaknya.

Berarti, dari sebelum kita pindah ke rumah ini?

Sekali lagi, Giska mengangguk. Udah lama banget, ya, gumamnya. Otaknya berusaha mengingat di gunung mana terakhir kali ia mendaki bersama sang suami, tapi gagal. Terakhir, kita ke mana, sih, Mas? tanyanya menyerah.

Bima ikut berpikir sejenak. Oh, kita tektok di Papandayan, inget nggak? Waktu itu, kita sama-sama sibuk, jadi cari yang deket dan cepet aja.

Tektok merupakan istilah naik gunung dalam waktu singkat tanpa menginap. Naik dan turun dilakukan dalam satu hari yang sama, sehingga menghemat waktu. Dulu, Giska tidak pernah mengalami masalah melakukan tektok, bahkan di gunung-gunung yang lebih tinggi sekalipun. Namun sekarang, karena sudah cukup lama ia tidak mendaki, mereka memutuskan untuk menginap dua malam di Sumbing. Giska perlu menyesuaikan kembali kekuatan fisiknya melawan megahnya sang alam.

Giska membalikkan badan menghadap suaminya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mengamati wajah Bima sedekat ini di atas tempat tidur. Ingatannya melayang ke pertengkaran-pertengkaran yang terjadi antara ia dan sang suami beberapa waktu lalu. Sungguh, Giska tidak mau hal itu terjadi lagi. Ia ingin menatap wajah suaminya seperti ini setiap hari. Ia ingin bercanda-ria dan bermanja-manja dengan lelaki itu seperti dulu. Ia ingin rumah tangganya berjalan damai dan penuh cinta hingga mereka menua bersama.

Sementara itu, Bima balas menatap wajah sang istri sembari sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia sangat bersyukur karena selama beberapa hari ini, gangguan wanita misterius itu tidak ia rasakan lagi. Mimpi-mimpinya kembali normal, begitu juga hati dan pikirannya. Namun, ia masih terlalu takut untuk kembali mendekatkan diri pada sang istri. Luka lebam dan air mata Giska waktu itu masih terus menghantuinya. Bima pun memutuskan untuk menjaga jarak sampai gangguan ini benar-benar berakhir.

Gis, panggil Bima setelah hampir satu menit berlalu.

Hm?

Kamu beneran udah yakin sama keputusan kamu ini?

Giska tahu yang dimaksud oleh Bima adalah keputusannya untuk naik gunung. Perempuan itu mengangguk. Aku yakin, Mas, sahutnya pelan. Ia menatap lurus ke kedua mata sang suami. Kita nggak bisa kayak gini terus. Satu-satunya jalan tengah adalah aku harus coba naik gunung lagi. Habis itu, baru kita pikirin keputusan selanjutnya.

Malam pun akhirnya berlalu. Giska berhasil tertidur lelap setelah percakapan kecilnya dengan Bima. Tak terasa, waktu keberangkatan mereka telah tiba. Menggunakan mobil yang mereka pesan dari aplikasi online, pasutri itu sampai di Terminal Poris Plawad sekitar pukul tiga sore.

Mas, fotoin aku, dong, pinta Giska yang sudah menggendong carrier di punggungnya. Dengan patuh, Bima mengambil beberapa foto sang istri di depan terminal bus tersebut.

Bagus, nggak? tanya Giska sambil berjalan mendekati suaminya.

Bagus, jawab Bima. Ia menyerahkan kembali ponsel sang istri dan menunjukkan hasil jepretannya.

Yuk, cari tempat duduk. Aku harus upload foto ini.

Keduanya pun masuk ke ruang tunggu terminal dan mencari tempat duduk. Pasangan suami-istri itu sama-sama merasa antusias menyambut perjalanan kali ini. Tali ketegangan yang telah mengikat mereka selama beberapa minggu terakhir perlahan terurai lepas. Untuk sejenak, mereka berhasil melupakan segala pertengkaran dan luka hati yang telah terjadi.

Bus yang akan membawa mereka ke Kabupaten Wonosobo akhirnya tiba. Setelah menyimpan barang-barang bawaan di bagasi bus, keduanya pun melangkah naik. Masing-masing carrier mereka telah ditempeli nomor kupon sehingga tidak khawatir akan hilang atau tertukar.

Kamu mau pojok jendela atau pinggir? tawar Bima begitu menemukan tempat duduk mereka.

Pojok, deh. Kamu lebih sering kebelet pipis daripada aku.

Giska sengaja memilih bus tipe sleeper supaya badan mereka tidak terlalu lelah di perjalanan. Pendakian akan langsung mereka laksanakan begitu tiba di sana. Tidak ada jadwal mampir di hotel atau semacamnya. Saat bus berangkat tepat pukul empat sore, petualangan mereka pun resmi dimulai.

***

Giska berjalan cepat dengan napas terengah. Kabut menyelimuti pemandangan di sekelilingnya. Cahaya matahari tidak mampu menembus pekatnya awan kelabu di atas kepalanya. Di tengah udara yang dingin menggigit, perempuan itu terus memacu langkah. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya sebagai bentuk dari kepanikan yang ia rasakan.

˜Di mana aku? Di mana Mas Bima?™

Berkali-kali, ia memanggil nama sang suami, tapi orang yang ia cari tidak terlihat di mana pun. Giska tidak tahu sejak kapan ia terpisah dari lelaki itu. Pikirannya sudah tidak bisa diajak bekerja sama. Dari dulu, ia sudah belajar langkah-langkah apa yang harus ia lakukan saat tersesat di gunung. Namun sekarang, semua ilmu itu terlupakan begitu saja.

Di satu titik, mendadak kakinya terpeleset. Matanya yang hanya fokus ke depan luput menangkap adanya ceruk terbuka di jalur yang tengah ia lewati. Ceruk semacam itu biasanya digunakan para pendaki untuk meluncur ke bawah demi menghemat waktu. Giska kontan memekik. Tangannya berusaha menggapai apa pun untuk berpegangan, tapi terlambat. Tubuhnya terperosok dan jatuh berguling tak terkendali.

˜Siapa pun, tolong aku!™

Badannya beberapa kali terbentur batang kayu dan bebatuan. Namun, hal tersebut tidak mengurangi kecepatannya. Kontur kemiringan tanah yang curam terus membuatnya menggelinding ke bawah. Sekarang, perempuan itu hanya bisa pasrah. Tidak ada yang bisa menolongnya, termasuk dirinya sendiri. Sekujur tubuhnya sudah babak belur. Ia hanya berharap semoga tanah segera melandai.

Sayangnya, harapan itu tidak terkabul. Bumi seolah terus menariknya ke bawah. Di tengah pandangannya yang berputar, Giska tiba-tiba melihat sebongkah batu raksasa yang berjarak lurus di depannya. Perempuan itu kembali panik. Ia harus berhenti. Ia harus mengendalikan tubuhnya kalau tidak ingin mati. Benturan keras dengan batu sebesar itu bisa menimbulkan cedera fatal. Namun, apa daya? Ia tidak kuasa melawan hukum alam.

˜Apa aku akan mati di sini? Lalu, Mas Bima gimana?™

Giska memejamkan mata. Ketika akhirnya ia merasakan tubuhnya terhempas di suatu permukaan yang keras, perempuan itu tersentak bangun. Sejenak, ia merasa linglung. Tatapannya melayang cepat ke segala arah. Ternyata, ia masih berada di dalam bus. Suasana di sekelilingnya gelap, menandakan hari masih malam. Bima berada tepat di sampingnya dan tengah tertidur lelap.

Barulah Giska menyadari bahwa tragedi tadi hanya sebuah mimpi. Perempuan itu mendesah lega. Setelah meneguk habis sebotol air mineral, ia merapatkan diri ke tubuh Bima. Tindakan tersebut membuat sang suami terbangun.

Kenapa? tanya lelaki itu setengah mengantuk.

Giska menggelengkan kepala. Nggak pa-pa, cuma mimpi buruk, sahutnya pelan.

Bima mengulurkan tangan kanannya dan mendekap tubuh sang istri. Jam berapa sekarang?

Giska mengecek waktu di smartwatch-nya. Masih jam dua belas.

Tidur lagi aja kalau gitu, masih jauh. Bima mengusap lembut lengan sang istri beberapa kali, kemudian kembali memejamkan mata.

Giska memperbaiki duduknya hingga mendapat posisi ternyaman. Sembari menyandarkan kepala di bahu sang suami, perempuan itu pun mencoba tidur lagi. Pikirannya sudah agak tenang dengan kehadiran Bima di sisinya. Ia berdoa semoga mimpi tadi bukan pertanda buruk bagi pendakian mereka kali ini.

Sekitar pukul setengah empat pagi, bus yang mereka tumpangi tiba di Terminal Mendolo, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah. Bima dan Giska menggendong barang bawaan masing-masing, kemudian berjalan menuju tempat parkir. Beberapa hari yang lalu, Bima sudah menghubungi tempat rental kendaraan dan menyewa sebuah mobil sebagai alat transportasi mereka selanjutnya.

Orangnya udah di sini, Mas? tanya Giska.

Udah, udah nyampe dari tadi katanya.

Benar saja. Setibanya di parkiran, seorang lelaki berusia empat puluhan telah berdiri menunggu. Lelaki tersebut menggunakan jaket tebal berwarna hitam dan celana jeans panjang. Di sampingnya, terdapat mobil Avanza putih yang tampak bersih dan terawat.

Pak Aryo, ya? sapa Bima.

Iya, halo, halo, selamat datang, Mas, Mbak. Pak Aryo menyambut kedatangan pasutri itu dengan jabatan tangan dan senyum ramah. Gimana, Mas, perjalanannya tadi? Lancar, to? tanyanya dengan logat Jawa yang medok.

Lancar, Pak. Nggak ada macet sama sekali, jawab Bima tak kalah ramah. Ia pun menunjuk mobil di sebelah Pak Aryo. Mobilnya kuat, kan, Pak, buat naik sampai ke basecamp?

Aman, Mas. Dijamin, rosa! Bensin juga udah tak penuhin sesuai permintaan Mas Bima. Pak Aryo mengulurkan kunci mobil beserta STNK, sementara Bima menyerahkan kartu identitas dirinya sebagai jaminan. Setelah berbasa-basi sejenak, Pak Aryo pun pamit. Bima dan Giska langsung menata barang-barang mereka di mobil dan segera naik.

Gila, dingin banget! keluh Giska begitu duduk di kursi penumpang depan. Ia mengusap-usapkan kedua telapak tangannya yang terasa membeku. Sudah lama ia tidak mengunjungi kota di kaki gunung seperti ini. Hawanya benar-benar seperti berada di dalam kulkas, terlebih saat ini masih dini hari.

Mau ambil sarung tangan dulu di tas? tanya Bima dari balik kemudi.

Giska menggeleng. Nggak usah, deh. Aku masukin ke kantong gini aja, jawabnya sembari menyembunyikan kedua tangan di saku jaket.

Oke. Kalau gitu, kita berangkat sekarang.

***

Selanjutnya: A Way to Find You (Part 15)

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Tanda Vampir Energi Ada di Sekitar Kamu

Kesehatan

Waspadai 4 Tanda Vampir Energi Ada di Sekitar Kamu

Selasa, 19 Mei 2026 - 15:28 WIB

MAINZEUSMAINZEUSMAINZEUShttps://starazona.com/contacto/MAINZEUShttps://www.dovhlevin.com/https://stitta.ac.id/kontak/MAINZEUSMAINZEUSSLOT ZEUSMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUShttps://coavs.edu.pk/faculty/SLOT PULSAMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSULARWINULARWINMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUShttps://coes.dypgroup.edu.in/library/MAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUShttps://sethu.ac.in/seminar/MAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSMAINZEUSJOKER4D>MAINZEUSMAINZEUSWEDE303MAINZEUSBINTANG4DWEDE303LIVETOTOEBTtop111LIVETOTOBETLIVETOTOBETLIVETOTOBETWEDE303JOKER4DWEDE303LIVETOTOBETLIVETOTOBETLIVETOTOBETWEDE303 WEDE303WEDE303WEDE303WEDE303WEDE303 LIVETOTOBETLIVETOTOBETLIVETOTOBETLIVETOTOBETLIVETOTOBET BINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4DBINTANG4D SLOT2DSLOT2DSLOT2D JOKER4DJOKER4DJOKER4DJOKER4DJOKER4DJOKER4DJOKER4DJOKER4DJOKER4DJOKER4DJOKER4DJOKER4DJOKER4D https://www.snsrkscollege.ac.in/https://www.leiko.cz/ bokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep sma bokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep smabokep sma
x  Perlindungan Kuat untuk WordPress, dari Shield Security
Situs Ini Dilindungi Oleh
Shield Security