Namun, stabilitas ekonomi domestik dan respons kebijakan yang tepat dari BI serta pemerintah akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah rupiah ke depan.
Jika pemerintah mampu meningkatkan kepercayaan pasar dengan komunikasi kebijakan fiskal yang lebih jelas, rupiah berpotensi untuk kembali stabil.
Selain itu, apabila kondisi global membaik dan arus modal kembali masuk ke negara berkembang, rupiah bisa mendapatkan dukungan untuk menguat kembali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Nilai tukar rupiah saat ini berada di posisi terendah sejak krisis finansial 1998, melemah hingga Rp16.635 per dolar AS pada 25 Maret 2025.
Nilai tukar rupiah yang melemah ini disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal seperti kebijakan The Fed dan faktor domestik seperti ketidakpastian fiskal serta arus keluar modal.
Bank Indonesia telah mengambil berbagai langkah intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, termasuk operasi di pasar valuta asing dan obligasi.
Dampak melemahnya nilai tukar rupiah beragam, dengan risiko inflasi dan kenaikan biaya impor di satu sisi, serta potensi peningkatan daya saing ekspor di sisi lain.
Ke depan, stabilitas rupiah sangat bergantung pada kebijakan moneter AS, kondisi fiskal dalam negeri, serta respons kebijakan yang diberikan oleh otoritas keuangan Indonesia.
Jika kondisi global dan domestik lebih kondusif, rupiah masih memiliki peluang untuk menguat kembali.***
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






