Menteri Pertanian Amran Sulaiman Ultimatum Mafia Beras! 212 Merek Curang yang Langgar Aturan Dilaporkan ke Polisi

- Penulis

Minggu, 29 Juni 2025 - 18:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Pertanian Amran Sulaiman ungkap 212 merek beras bermasalah yang rugikan konsumen hingga Rp99 triliun di Indonesia. (Foto: dok. Kementan)

Menteri Pertanian Amran Sulaiman ungkap 212 merek beras bermasalah yang rugikan konsumen hingga Rp99 triliun di Indonesia. (Foto: dok. Kementan)

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap temuan mengejutkan terkait 212 merek beras yang diduga melanggar aturan mutu dan harga.

Investigasi ini dilakukan secara masif di 10 provinsi dengan melibatkan berbagai lembaga negara.

Potensi kerugian akibat praktik curang ini bahkan ditaksir mencapai Rp99 triliun, memicu reaksi keras dari publik dan pemerintah.

Temuan Mengejutkan Andi Amran Sulaiman

Menteri Pertanian Amran Sulaiman ungkap 212 merek beras bermasalah yang rugikan konsumen hingga Rp99 triliun di Indonesia. (Foto: dok. Kementan)
Menteri Pertanian Amran Sulaiman Ultimatum Mafia Beras! 212 Merek Curang yang Langgar Aturan Dilaporkan ke Polisi

Investigasi besar-besaran yang dipimpin oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap praktik curang di sektor perberasan nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemeriksaan terhadap 268 merek beras di 13 laboratorium di 10 provinsi menunjukkan bahwa 212 di antaranya bermasalah.

Kecurangan ini mencakup pelanggaran mutu, pengurangan takaran berat, dan harga jual yang melebihi HET (Harga Eceran Tertinggi) yang ditetapkan pemerintah.

Menurut Andi Amran Sulaiman, 85,56 persen dari beras kategori premium yang diuji tidak memenuhi standar mutu. Selain itu, 59,78 persen dijual di atas HET, dan sekitar 21 persen memiliki berat tidak sesuai label.

Fakta ini sangat merugikan masyarakat, apalagi sebagian besar beras tersebut merupakan produk yang biasa dibeli konsumen sehari-hari.

Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa situasi ini tidak bisa ditoleransi. Ia telah menyerahkan seluruh data dan temuan kepada Kapolri serta Jaksa Agung untuk segera ditindaklanjuti secara hukum.

Menurutnya, negara tidak boleh kalah oleh mafia pangan yang mencari keuntungan di tengah kebutuhan pokok masyarakat.

Kerugian Konsumen dan Negara Capai Rp99 Triliun, SPHP Dijual Sebagai Beras Premium

Salah satu temuan paling mengejutkan adalah modus pengemasan ulang beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan).

Beras ini semestinya dijual dengan harga lebih terjangkau untuk menjaga daya beli masyarakat.

Namun dalam praktiknya, beras subsidi ini dikemas ulang dan dijual kembali sebagai beras premium dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Andi Amran Sulaiman menyebut potensi kerugian konsumen dari praktik curang ini mencapai Rp99 triliun.

Kerugian tersebut tidak hanya dirasakan oleh masyarakat sebagai konsumen, tetapi juga oleh negara yang telah menggelontorkan subsidi besar untuk program SPHP.

Skema pengemasan ulang ini dinilai sangat merugikan dan mencederai kepercayaan publik terhadap tata kelola pangan nasional.

Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam dan akan menindak tegas seluruh pelaku yang terlibat.

Teguran Keras Andi Amran Sulaiman: Dua Pekan untuk Benahi Distribusi atau Diproses Hukum

Dalam konferensi persnya, Andi Amran Sulaiman menyampaikan ultimatum keras kepada para pelaku industri beras.

Pemerintah memberikan waktu dua minggu sejak 27 Juni 2025 agar seluruh pelanggaran dihentikan dan distribusi pangan dibenahi.

Jika dalam waktu tersebut masih ditemukan pelanggaran, maka akan ditempuh jalur hukum dengan sanksi berat.

Ketua Satgas Pangan Mabes Polri Brigjen Helfi Assegaf menambahkan bahwa pengemasan dan pelabelan menyesatkan adalah pelanggaran serius terhadap UU Perlindungan Konsumen.

Hukuman maksimalnya adalah lima tahun penjara dan denda hingga Rp2 miliar. Sesjam Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Andi Herman, juga menegaskan bahwa ini merupakan pelanggaran nyata terhadap regulasi distribusi pangan dan berpotensi merugikan keuangan negara.

Andi Amran Sulaiman mengajak semua pelaku usaha pangan untuk segera berbenah dan menghentikan seluruh bentuk penyimpangan.

Ia menegaskan bahwa pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi menyangkut hajat hidup orang banyak yang tidak boleh dipermainkan.

Produksi Nasional Meningkat, Tapi Harga Tak Turun: Bukti Ada Penyimpangan

Andi Amran Sulaiman menyoroti anomali harga beras yang tetap tinggi meski produksi nasional sedang naik signifikan.

Data FAO menyebut produksi beras Indonesia diperkirakan mencapai 35,6 juta ton pada 2025/2026, di atas target nasional 32 juta ton. Seharusnya, stok yang melimpah bisa menurunkan harga di pasar.

Namun realitanya, harga tetap tinggi dan beras justru dijual tidak sesuai aturan. Ini menunjukkan bahwa bukan faktor produksi yang bermasalah, melainkan distribusi dan manipulasi harga oleh oknum-oknum tertentu.

Andi Amran Sulaiman menyebutkan bahwa jika tidak ditindak sekarang, situasi ini akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Andi Amran Sulaiman Tegaskan Negara Tidak Boleh Kalah oleh Mafia Pangan

Andi Amran Sulaiman berulang kali menyatakan bahwa negara tidak akan tunduk pada mafia pangan.

Ia menekankan pentingnya ketegasan hukum agar pelaku mendapatkan efek jera. Saat ini, proses hukum tengah dipersiapkan untuk menindak para pelanggar.

Dalam waktu dua minggu ke depan, akan dilakukan pemantauan ketat di pasar-pasar besar seluruh Indonesia.

Jika ditemukan pelanggaran serupa, maka pemerintah akan mengambil tindakan lebih lanjut. Andi Amran Sulaiman memastikan bahwa semua pihak yang terlibat akan dimintai pertanggungjawaban.

Di tengah tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pangan yang layak dan terjangkau, pemerintah ingin menunjukkan bahwa tidak ada tempat bagi praktik curang.

Dengan mengungkap kasus ini secara transparan, Andi Amran Sulaiman ingin memastikan kepercayaan publik terhadap tata kelola pangan nasional tetap terjaga.***

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bahlil Batasi Kuota Produksi INCO Hanya 30 Persen dari RKAB
Pocari Sweat Run 2026 di Bandung: Info Pengalihan Arus Lalu Lintas
Pakar Keamanan Peringatkan Risiko Serangan Terhadap Keluarga Kerajaan
Bekal Penting Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045
APBN Agustus 2026: Defisit 0,93% PDB dan Surplus Primer Rp154 T
Anggaran MBG Rp134,2 Triliun, BGN Hapus 1.653 Sekolah Penerima
Dua Remaja Bawa Senjata Api di Robotaxi Waymo Ditangkap Polisi
Lava Bold N4 Pro Resmi: Baterai 6.000 mAh dan Android 16

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 23:47 WIB

Bahlil Batasi Kuota Produksi INCO Hanya 30 Persen dari RKAB

Jumat, 18 September 2026 - 23:42 WIB

Pocari Sweat Run 2026 di Bandung: Info Pengalihan Arus Lalu Lintas

Jumat, 18 September 2026 - 23:37 WIB

Bekal Penting Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045

Jumat, 18 September 2026 - 23:30 WIB

APBN Agustus 2026: Defisit 0,93% PDB dan Surplus Primer Rp154 T

Jumat, 18 September 2026 - 23:29 WIB

Anggaran MBG Rp134,2 Triliun, BGN Hapus 1.653 Sekolah Penerima

Berita Terbaru

CONTROL Resonant hadir dengan formula baru sebagai game action RPG open-world yang ambisius.

Teknologi

Review CONTROL Resonant: Analisis Mendalam Kualitas Gameplay

Jumat, 18 Sep 2026 - 23:54 WIB

error: Content is protected !!