Redaksiku.com – Pemerintah Indonesia secara resmi mencatatkan realisasi anggaran sebesar Rp134,2 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga periode 31 Agustus 2026. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen fiskal negara dalam mendukung perbaikan gizi masyarakat di tengah upaya reformasi kelembagaan yang tengah dijalankan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Dukungan Fiskal dan Operasional Program
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan bahwa alokasi anggaran tersebut mencakup delapan bulan pelaksanaan APBN 2026. Dalam konferensi pers APBN KiTa yang berlangsung di Jakarta pada Jumat, 18 September 2026, ia menegaskan pentingnya menjaga efisiensi penggunaan dana publik agar dampaknya dirasakan langsung oleh kelompok yang paling membutuhkan.
Hingga akhir Agustus 2026, program ini telah menyentuh 57 juta jiwa. Operasional penyaluran makanan ini didukung oleh jaringan yang masif, dengan total 27.485 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah telah menyalurkan dana sebesar Rp134,2 triliun untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis bagi 57 juta penerima manfaat hingga Agustus 2026.
Reformasi Standar dan Kualitas Layanan
Badan Gizi Nasional kini tengah melakukan penataan ulang secara menyeluruh terhadap mekanisme penyaluran. Salah satu fokus utama reformasi ini adalah peningkatan standar keamanan pangan melalui kewajiban Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi setiap unit SPPG.
SPPG yang tidak memenuhi persyaratan sertifikat higiene akan ditutup, namun pemerintah memastikan bahwa layanan bagi penerima manfaat di wilayah tersebut tetap berjalan melalui pengalihan ke unit yang memenuhi standar.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa kualitas makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat, terutama kelompok rentan, benar-benar memenuhi standar kesehatan nasional. Selain aspek higienitas, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap efektivitas distribusi di lapangan.
Penajaman Sasaran Penerima Manfaat
Dalam upaya meningkatkan ketepatan sasaran, BGN melakukan evaluasi mendalam terhadap daftar sekolah yang menerima bantuan. Kebijakan ini mencakup penghapusan 1.653 satuan pendidikan dari daftar penerima program yang dianggap tidak lagi memenuhi kriteria prioritas.
Berikut adalah kriteria dan langkah strategis yang diambil dalam penataan ulang sasaran:
- Mengeluarkan sekolah internasional dan sekolah swasta kalangan atas dari daftar penerima manfaat MBG.
- Mengalihkan kuota bantuan kepada masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
- Memberikan prioritas khusus kepada kelompok dengan angka stunting tinggi, termasuk balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta kalangan santri.
- Mengalihkan kewenangan penetapan sasaran penerima manfaat langsung di bawah kendali BGN untuk meningkatkan akurasi data.
Kepala BGN Sudaryono menyatakan bahwa pengalihan kuota tersebut dilakukan agar alokasi bantuan lebih relevan dengan kondisi ekonomi dan kebutuhan nutrisi masyarakat di daerah terpencil.
Kementerian Keuangan menyatakan dukungan penuh terhadap langkah reformasi yang diambil oleh BGN. Suahasil Nazara menekankan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan dari APBN harus memiliki dampak nyata dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Pertanyaan Umum
Apa tujuan utama dari penataan ulang sasaran program Makan Bergizi Gratis?
Penataan ulang dilakukan untuk memastikan anggaran negara tepat sasaran. Dengan menghapus sekolah swasta kalangan atas dan internasional dari daftar penerima, kuota tersebut dialihkan kepada kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan, khususnya di wilayah 3T dan daerah dengan angka stunting tinggi.
Bagaimana nasib sekolah yang tidak memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi?
SPPG yang tidak memiliki atau tidak mampu memenuhi standar sertifikat tersebut akan ditutup operasionalnya. Namun, pemerintah berkomitmen untuk menjamin kelangsungan penyaluran makanan bagi penerima manfaat dengan memindahkan layanan ke unit SPPG lain yang sudah tersertifikasi.
Siapa saja kelompok yang menjadi prioritas utama dalam program ini?
Program Makan Bergizi Gratis memprioritaskan balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta kelompok santri, terutama yang berdomisili di wilayah dengan tingkat prevalensi stunting yang masih tinggi.
Ringkasan
Pemerintah Indonesia telah merealisasikan anggaran sebesar Rp134,2 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) per 31 Agustus 2026, yang mencakup 57 juta penerima manfaat melalui 27.485 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan ketepatan sasaran, Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi menghapus 1.653 sekolah dari daftar penerima bantuan karena dianggap tidak lagi memenuhi kriteria prioritas.
Reformasi ini mencakup pengalihan kuota bantuan dari sekolah internasional dan swasta kalangan atas kepada masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta kelompok dengan angka stunting tinggi seperti balita dan ibu hamil. Selain itu, BGN memperketat standar operasional dengan mewajibkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi seluruh SPPG; unit yang tidak memenuhi standar akan ditutup dan layanannya dialihkan ke unit tersertifikasi guna menjamin kualitas keamanan pangan bagi masyarakat.






