Mengenal Kakapo, Burung Nuri Terberat di Dunia yang Hampir Punah

- Penulis

Minggu, 6 September 2026 - 21:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

burung nuri terberat — Kakapo, burung nuri endemik Selandia Baru yang tidak bisa terbang dan terancam punah.

Kakapo merupakan burung nuri terberat di dunia asal Selandia Baru yang kini berstatus terancam punah.

Redaksiku.com – Kakapo, atau yang secara ilmiah dikenal sebagai Strigops habroptilus, merupakan salah satu keajaiban evolusi yang masih tersisa di Selandia Baru. Burung nuri ini memegang rekor sebagai satu-satunya spesies nuri di dunia yang tidak bisa terbang, sekaligus menjadi yang terberat dengan berat tubuh mencapai 4 kilogram pada masa dewasa. Keberadaannya yang kini sangat terbatas menjadikannya salah satu subjek paling kritis dalam upaya konservasi global karena statusnya yang terancam punah.

Secara etimologis, nama kakapo berasal dari bahasa Māori yang berarti “burung nuri malam”. Penamaan ini sangat akurat karena burung ini memiliki perilaku nokturnal, di mana mereka menghabiskan waktu siang hari dengan bersembunyi di lantai hutan atau lubang-lubang pohon, lalu aktif mencari makan saat kegelapan tiba. Adaptasi ini dulunya sangat efektif, namun kini menjadi tantangan besar bagi kelangsungan hidup mereka di tengah ancaman predator pendatang.

Adaptasi Biologis dan Karakteristik Unik

Karena tidak memiliki kemampuan untuk terbang, kakapo mengembangkan kaki yang sangat kuat untuk menempuh jarak jauh di lantai hutan. Mereka adalah pemanjat ulung yang sering naik ke puncak pohon hanya untuk meluncur turun menggunakan sayapnya yang pendek sebagai parasut. Anatomi unik ini didukung oleh bulu berwarna hijau lumut dengan kombinasi bercak kuning dan cokelat, yang memberikan perlindungan kamuflase sempurna di antara vegetasi hutan Selandia Baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penampilan fisik kakapo seringkali membuat orang keliru mengenali mereka sebagai burung hantu, sehingga sering muncul julukan owl parrot. Kemiripan ini muncul karena struktur wajahnya yang memiliki piringan wajah dan kumis sensorik di sekitar paruh. Selain itu, kakapo memiliki indra penciuman yang sangat tajam, sebuah fitur yang jarang ditemukan pada spesies burung lain, yang mereka gunakan untuk melacak makanan di tengah kegelapan hutan yang lebat.

Dengan usia hidup yang bisa mencapai 60 hingga 80 tahun, kakapo tercatat sebagai salah satu spesies burung dengan rentang hidup terpanjang di dunia.

Dampak Predator Pendatang terhadap Populasi

Sebelum kedatangan manusia ke Selandia Baru, kakapo hampir tidak memiliki musuh alami selain burung pemangsa dari udara. Strategi pertahanan mereka—yaitu membeku di tempat agar tidak terlihat oleh predator—bekerja sangat efektif untuk menghindari pandangan mata burung elang. Namun, strategi ini justru menjadi bumerang ketika manusia membawa predator mamalia seperti kucing, cerpelai, dan tikus ke pulau tersebut.

Predator mamalia ini berburu menggunakan indra penciuman, sehingga teknik “membeku” yang dilakukan kakapo justru membuat mereka menjadi sasaran empuk yang sangat mudah ditangkap. Kondisi ini menyebabkan penurunan populasi yang drastis selama berabad-abad. Tanpa intervensi manusia, spesies ini kemungkinan besar sudah lama menghilang dari muka bumi karena ketidakmampuan mereka beradaptasi dengan ancaman baru tersebut.

Pemerintah Selandia Baru saat ini mengelola populasi kakapo di pulau-pulau bebas predator yang terpantau ketat untuk mencegah kepunahan total.

Upaya Penyelamatan di Habitat Terisolasi

Saat ini, kelangsungan hidup kakapo sangat bergantung pada program pengelolaan intensif. Para konservasionis melakukan pemantauan ketat terhadap setiap individu, bahkan hingga ke tingkat reproduksi. Karena kakapo hanya berkembang biak setiap beberapa tahun sekali, tepatnya saat pohon Rimu berbuah lebat, para ahli harus bekerja ekstra keras untuk memastikan keberhasilan penetasan telur dan kelangsungan hidup anak burung.

  • Pemindahan populasi ke pulau-pulau yang telah disterilkan dari predator mamalia untuk menciptakan zona aman.
  • Pemberian suplemen makanan tambahan bagi betina selama musim kawin untuk meningkatkan tingkat keberhasilan pengasuhan anak.
  • Pemasangan pemancar radio pada setiap individu untuk memantau pergerakan dan kesehatan mereka di habitat liar.

Status kritis kakapo membuat setiap individu sangat berharga, sehingga akses menuju lokasi habitat mereka dibatasi secara ketat bagi publik.

Melihat perkembangan selama dekade terakhir, populasi kakapo perlahan menunjukkan tren positif meski masih jauh dari kata aman. Kerja keras para ilmuwan dan relawan di Selandia Baru menjadi bukti bahwa dengan dedikasi yang tepat, spesies yang hampir punah sekalipun bisa mendapatkan kesempatan kedua. Kisah kakapo bukan sekadar cerita tentang burung yang unik, melainkan pengingat akan rapuhnya keseimbangan ekosistem yang terganggu oleh aktivitas manusia.

Pertanyaan Umum

Mengapa kakapo tidak bisa terbang?

Secara evolusioner, kakapo kehilangan kemampuan terbang karena minimnya predator darat di Selandia Baru selama jutaan tahun. Hal ini membuat mereka lebih efisien menyimpan energi dengan berjalan kaki di lantai hutan daripada harus terbang.

Bagaimana cara kakapo berkembang biak?

Kakapo memiliki sistem kawin yang unik di mana pejantan akan berkumpul di satu area yang disebut “lek” dan mengeluarkan suara rendah (booming) untuk menarik perhatian betina. Proses ini sangat bergantung pada ketersediaan buah pohon Rimu sebagai sumber nutrisi utama mereka.

Apakah kakapo bisa dipelihara sebagai hewan eksotis?

Tidak, kakapo adalah spesies yang dilindungi secara hukum dan masuk dalam daftar kritis punah. Memelihara, menangkap, atau mengganggu kakapo di habitat aslinya adalah pelanggaran hukum berat di Selandia Baru.

Ringkasan

Kakapo adalah burung nuri nokturnal asal Selandia Baru yang unik karena tidak bisa terbang, memiliki berat hingga 4 kg, dan kini terancam punah akibat predator mamalia pendatang. Spesies ini dilindungi ketat melalui program konservasi di pulau-pulau bebas predator untuk memastikan kelangsungan hidupnya.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ancaman Nyata Kucing Liar yang Luput dari Perhatian Dunia
Kaitan Kasus Kukang Tersengat Listrik dengan Krisis Iklim Menurut Dokter Hewan
Fakta Ilmiah Ukuran Ular Terpanjang di Dunia Berdasarkan Data
Dampak AI: Selain Boros Listrik, Jutaan Liter Air Terpakai Tiap Hari
Strategi Ular Weling Bertahan Hidup di Permukiman Padat
Keanekaragaman Hayati di Hutan Beutong Ateuh: 31 Spesies Burung
Dampak Hilangnya Kucing Kuwuk terhadap Ekosistem Hutan
Strategi Tiga Ikan Endemik Bertahan di Sungai Finke

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 01:06 WIB

Ancaman Nyata Kucing Liar yang Luput dari Perhatian Dunia

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 23:10 WIB

Kaitan Kasus Kukang Tersengat Listrik dengan Krisis Iklim Menurut Dokter Hewan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:44 WIB

Fakta Ilmiah Ukuran Ular Terpanjang di Dunia Berdasarkan Data

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:25 WIB

Dampak AI: Selain Boros Listrik, Jutaan Liter Air Terpakai Tiap Hari

Jumat, 2 Oktober 2026 - 13:10 WIB

Strategi Ular Weling Bertahan Hidup di Permukiman Padat

Berita Terbaru

BNI menunjukkan dukungan terhadap pelestarian batik nasional dengan mengintegrasikan budaya lokal ke dalam operasional perusahaan.

Keuangan

Dukung Perajin Lokal, BNI Perkuat Pelestarian Batik Indonesia

Selasa, 6 Okt 2026 - 01:35 WIB

Olahraga kini bisa menjadi peluang untuk mendapatkan keuntungan finansial dengan pendekatan yang tepat.

Info Komunitas

Cara Mendapatkan Keuntungan Finansial dari Berolahraga

Selasa, 6 Okt 2026 - 01:34 WIB

Daihatsu Rocky 2021 masih menjadi pilihan compact SUV bekas yang diminati berkat efisiensi bahan bakarnya.

Otomotif

Harga, Spesifikasi, dan Pajak Daihatsu Rocky Bekas 2021

Selasa, 6 Okt 2026 - 01:25 WIB

error: Content is protected !!