Kritik Ekonom UGM soal Metodologi Data Kemiskinan di Indonesia

- Penulis

Rabu, 23 September 2026 - 04:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ekonom UGM Media Wahyudi Askar saat mengkritik metodologi data kemiskinan Indonesia dalam siniar.

Ekonom UGM Media Wahyudi Askar mengkritik metode pengukuran data kemiskinan di Indonesia yang dinilai sudah usang.

Redaksiku.com – Pendiri Celios sekaligus ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Media Wahyudi Askar melontarkan kritik tajam terhadap metode pengukuran data kemiskinan di Indonesia yang dinilai sudah usang dan tidak lagi mencerminkan realitas kehidupan masyarakat modern.

Dalam perbincangannya bersama Fristian Griec di podcast Fristian Griec Media pada Rabu, 23 September 2026, Media menyoroti bagaimana standar statistik resmi sering kali gagal menangkap kompleksitas tekanan ekonomi yang dihadapi warga sehari-hari.

Kritik Metodologi Pengukuran Kemiskinan

Media mengungkapkan bahwa definisi kemiskinan yang dipakai saat ini masih berakar dari metodologi era 1980-an. Pendekatan tersebut dinilai sudah kehilangan konteks di tengah dinamika sosial dan ekonomi masa kini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai contoh, seseorang dengan pengeluaran bulanan sekitar Rp 600.000 hingga Rp 700.000 sering kali langsung dikategorikan sebagai bukan penduduk miskin dalam data statistik resmi pemerintah.

Padahal, menurut dia, batasan angka tersebut mengabaikan berbagai indikator krusial penunjang kehidupan yang layak. Beberapa faktor penting yang kerap luput dari pendataan meliputi:

  • Kualitas air bersih yang dikonsumsi sehari-hari.
  • Akses terhadap layanan kesehatan yang layak dan terjangkau.
  • Tingkat pendidikan serta kualitas fasilitas belajar.
  • Durasi dan beban jam kerja yang tidak sebanding dengan pendapatan.
  • Tekanan ekonomi struktural yang terus menghimpit keluarga pekerja.

Definisi kemiskinan masa lalu sudah tidak relevan lagi untuk mengukur kesejahteraan masyarakat modern hari ini.

Indikator Negara Miskin Menurut Ekonom

Lebih lanjut, ekonom UGM tersebut menyampaikan pandangan yang lebih keras mengenai sikap kelembagaan negara dalam memandang persoalan kesejahteraan sosial. Dia berpendapat bahwa keengganan mengakui realitas kemiskinan justru menjadi ciri khas dari negara miskin itu sendiri.

Ketika data statistik mencatatkan jumlah penduduk miskin dalam skala yang lebih kecil dari kondisi riil di lapangan, implikasinya sangat berdampak luas bagi kebijakan publik.

Konsekuensi langsung dari penyusutan angka statistik tersebut adalah berkurangnya alokasi besaran anggaran perlindungan sosial yang krusial untuk menopang kelompok rentan.

Negara tidak boleh menutup mata ketika anggaran perlindungan sosial tergerus oleh data kemiskinan yang tidak akurat.

Pentingnya Keberanian Mengungkap Realitas

Pemerintah didorong agar memiliki keberanian politik dan moral untuk membuka data kondisi kemiskinan secara apa adanya tanpa ada upaya memperhalus angka statistik.

Semangat membangun optimisme menuju visi Indonesia maju tetap diperlukan, tetapi landasan kebijakan tersebut harus berpijak pada kejujuran melihat fakta di tingkat akar rumput.

“Optimisme itu harus dijaga dengan keberanian kita mengungkap realitas.”

— Media Wahyudi Askar

Kritik ini menekankan perlunya reformasi metodologi pendataan agar intervensi pemerintah benar-benar tepat sasaran.

Pertanyaan Umum

Mengapa metodologi kemiskinan di Indonesia dikritik?

Metodologi yang digunakan dinilai masih berakar dari standar tahun 1980-an sehingga tidak mampu menangkap kompleksitas pengeluaran dan tantangan hidup masyarakat modern saat ini.

Berapa batas pengeluaran yang disorot oleh ekonom?

Pengeluaran bulanan sebesar Rp 600.000 hingga Rp 700.000 sering kali membuat seseorang dianggap tidak miskin dalam statistik resmi, padahal banyak kebutuhan dasar lain yang belum terpenuhi.

Apa dampak jika data kemiskinan tidak sesuai realitas?

Ketidakakuratan data dapat berdampak langsung pada penentuan besaran anggaran perlindungan sosial dan program bantuan bagi warga yang membutuhkan.

Ringkasan

Media Wahyudi Askar, pendiri Celios sekaligus ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), melontarkan kritik tajam terhadap metode pengukuran data kemiskinan di Indonesia yang dinilai sudah usang dan gagal mencerminkan realitas ekonomi masyarakat modern. Dalam perbincangannya di podcast Fristian Griec Media pada Rabu, 23 September 2026, ia menyoroti standar statistik resmi yang masih berakar dari era 1980-an.

Kritik tersebut menyoroti anomali di mana seseorang dengan pengeluaran bulanan Rp 600.000 hingga Rp 700.000 langsung dikategorikan sebagai bukan penduduk miskin, padahal batasan tersebut mengabaikan indikator krusial seperti akses air bersih, layanan kesehatan, pendidikan, dan jam kerja yang layak. Ekonom UGM tersebut menegaskan bahwa keengganan mengakui realitas kemiskinan berdampak langsung pada berkurangnya alokasi anggaran perlindungan sosial bagi kelompok rentan.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi di Yogya Minta Jatah Makanan Food Truck Dipatsuskan
Warga Menolak, Proyek Panas Bumi Ungaran Berlanjut
DoorDash Sepakat Bayar Rp2 Triliun ke NYC Terkait Upah Kurir
71 Warga Blora Terserang Kusta Termasuk Anak-Anak
Dampak Ketidakpastian Subsidi Motor Listrik Menurut Periklindo dan Aismoli
BRIN Kembangkan Inovasi Pengganti LPG 3 Kg yang Lebih Hemat
Jadwal Sholat Surabaya 23 September 2026 & Niatnya
Profil dan Prestasi Brigjen Hengki Haryadi di Kepolisian

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 05:52 WIB

Polisi di Yogya Minta Jatah Makanan Food Truck Dipatsuskan

Rabu, 23 September 2026 - 05:48 WIB

Warga Menolak, Proyek Panas Bumi Ungaran Berlanjut

Rabu, 23 September 2026 - 05:47 WIB

DoorDash Sepakat Bayar Rp2 Triliun ke NYC Terkait Upah Kurir

Rabu, 23 September 2026 - 05:43 WIB

71 Warga Blora Terserang Kusta Termasuk Anak-Anak

Rabu, 23 September 2026 - 05:34 WIB

Dampak Ketidakpastian Subsidi Motor Listrik Menurut Periklindo dan Aismoli

Berita Terbaru

Para ahli mengingatkan pentingnya antisipasi dini terhadap risiko sistemik kecerdasan buatan berkaca dari krisis global masa lalu.

United States Politics and Government

Pelajaran dari Krisis Global untuk Menghadapi Risiko Kecerdasan Buatan

Rabu, 23 Sep 2026 - 05:51 WIB

Warga sekitar menolak kelanjutan proyek panas bumi Gunung Ungaran karena khawatir mengancam lingkungan dan sumber air.

Viral

Warga Menolak, Proyek Panas Bumi Ungaran Berlanjut

Rabu, 23 Sep 2026 - 05:48 WIB

Dinas Kesehatan Blora mencatat 71 kasus baru kusta yang menyerang warga dewasa hingga anak-anak.

Viral

71 Warga Blora Terserang Kusta Termasuk Anak-Anak

Rabu, 23 Sep 2026 - 05:43 WIB

error: Content is protected !!