BRIN Kembangkan Inovasi Pengganti LPG 3 Kg yang Lebih Hemat

- Penulis

Rabu, 23 September 2026 - 05:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peneliti BRIN melakukan riset pengembangan teknologi Adsorbed Natural Gas sebagai alternatif pengganti LPG tiga kilogram.

BRIN sedang mengembangkan teknologi Adsorbed Natural Gas sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg untuk mengurangi impor energi.

Redaksiku.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini sedang mengintensifkan riset dan pengembangan teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG) sebagai alternatif inovatif untuk menggantikan peran Liquefied Petroleum Gas (LPG) konvensional di Indonesia. Langkah strategis ini diambil guna mengurangi ketergantungan negara terhadap pasokan energi impor yang kerap membebani anggaran nasional, sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya gas alam domestik yang melimpah namun belum terserap secara maksimal untuk kebutuhan rumah tangga dan sektor komersial.

Kebutuhan akan diversifikasi energi di Indonesia semakin mendesak mengingat tren konsumsi bahan bakar fosil terus meningkat dari tahun ke tahun. Pemerintah melalui berbagai lembaga riset dituntut untuk menghadirkan solusi nyata yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga ekonomis dan aman bagi masyarakat luas. Teknologi penyimpanan gas berbasis adsorpsi ini dipandang sebagai salah satu terobosan paling menjanjikan dalam lanskap transisi energi nasional saat ini.

Mekanisme Kerja dan Keunggulan Teknologi ANG

Teknologi Adsorbed Natural Gas bekerja dengan cara menyimpan gas alam pada tekanan yang jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Compressed Natural Gas (CNG) konvensional. Proses penyimpanan ini memanfaatkan material berpori berspesifikasi tinggi yang mampu mengikat molekul gas pada permukaan internalnya secara stabil. Dengan metode tersebut, volume penyimpanan gas dapat dimaksimalkan tanpa memerlukan tabung tebal bertekanan ekstrem yang berat dan berisiko tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam praktiknya, pengembangan material adsorben memegang kunci utama keberhasilan dari sistem penyimpanan ini. Para periset di BRIN terus menguji berbagai jenis material berpori lokal yang memiliki kapasitas serap tinggi dan daya tahan optimal. Efisiensi penyimpanan pada tekanan rendah ini memberikan keuntungan besar dari segi keamanan operasional serta kemudahan distribusi ke berbagai wilayah terpencil di tanah air.

Pengembangan teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG) oleh BRIN diproyeksikan menjadi solusi strategis untuk menekan angka impor LPG nasional sekaligus mendistribusikan energi bersih secara lebih merata.

Transformasi Ketahanan Energi Rumah Tangga

Penerapan teknologi ANG di sektor rumah tangga diharapkan mampu mengubah pola konsumsi energi masyarakat secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Selama ini, ketergantungan terhadap LPG impor membuat kestabilan pasokan dan harga sangat rentan terhadap dinamika geopolitik global serta fluktuasi nilai tukar rupiah. Melalui pemanfaatan gas alam yang dikonversi melalui sistem adsorpsi, pasokan energi domestik dapat dikelola secara lebih mandiri dan berkelanjutan.

Selain aspek kemandirian, penggunaan ANG juga menawarkan beberapa keunggulan komparatif bagi konsumen akhir, antara lain:

  • Tekanan tabung operasional yang jauh lebih rendah sehingga meningkatkan faktor keselamatan secara menyeluruh di lingkungan pemukiman padat penduduk.
  • Pemanfaatan jaringan pipa gas kota yang sudah ada untuk mempermudah proses pengisian ulang tabung di stasiun-stasiun distribusi lokal.
  • Sifat pembakaran gas alam yang lebih bersih dan menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan bahan bakar minyak maupun LPG konvensional.

Tantangan Infrastruktur dan Komersialisasi

Meskipun memiliki potensi yang sangat besar, perjalanan teknologi ANG menuju tahap komersialisasi massal masih harus melewati berbagai tahapan pengujian ketat dan penyiapan infrastruktur pendukung. Tantangan utama yang dihadapi oleh para peneliti dan pemangku kepentingan adalah bagaimana memproduksi material adsorben skala besar dengan biaya yang kompetitif. Tanpa efisiensi biaya produksi, harga jual akhir kepada masyarakat akan sulit bersaing dengan produk LPG bersubsidi yang ada di pasaran saat ini.

Kolaborasi lintas sektor antara lembaga riset, industri manufaktur, dan perusahaan energi milik negara menjadi prasyarat mutlak untuk menjembatani celah antara hasil laboratorium dan implementasi komersial di lapangan. Pemerintah juga perlu menyiapkan regulasi serta insentif yang kondusif agar investasi pada teknologi energi baru terbarukan dan alternatif fosil ini dapat menarik minat para pelaku industri swasta.

Pertanyaan Umum

Apa itu teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG)?

ANG adalah teknologi penyimpanan gas alam dengan cara menyerapkannya pada material berpori dalam tekanan rendah, sehingga lebih aman dan efisien untuk berbagai keperluan.

Mengapa BRIN mengembangkan ANG sebagai pengganti LPG?

Inovasi ini dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG, memanfaatkan cadangan gas alam domestik, serta meningkatkan faktor keselamatan energi rumah tangga.

Kapan teknologi ANG ini dapat digunakan oleh masyarakat luas?

Penerapan massal masih memerlukan tahapan riset lanjutan, uji coba keselamatan, serta pembangunan infrastruktur distribusi dan pengisian ulang yang memadai di berbagai wilayah.

Ringkasan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengintensifkan pengembangan teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG) sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg konvensional untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi dan mengoptimalkan potensi gas alam domestik.

Teknologi ANG bekerja dengan menyimpan gas alam pada tekanan rendah menggunakan material berpori berspesifikasi tinggi, sehingga menawarkan keamanan operasional yang lebih baik, risiko tekanan ekstrem yang lebih rendah, serta proses distribusi yang lebih mudah bagi kebutuhan rumah tangga.

Meskipun menjanjikan efisiensi dan emisi karbon yang lebih bersih, komersialisasi massal teknologi ini masih memerlukan riset lanjutan terkait produksi material adsorben berbiaya kompetitif, dukungan regulasi, serta kolaborasi lintas sektor antara lembaga riset, industri manufaktur, dan BUMN.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi di Yogya Minta Jatah Makanan Food Truck Dipatsuskan
Warga Menolak, Proyek Panas Bumi Ungaran Berlanjut
DoorDash Sepakat Bayar Rp2 Triliun ke NYC Terkait Upah Kurir
71 Warga Blora Terserang Kusta Termasuk Anak-Anak
Dampak Ketidakpastian Subsidi Motor Listrik Menurut Periklindo dan Aismoli
Jadwal Sholat Surabaya 23 September 2026 & Niatnya
Profil dan Prestasi Brigjen Hengki Haryadi di Kepolisian
AOC Upgrade Monitor AGP327UZD dengan Tandem 2.0 WOLED

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 05:52 WIB

Polisi di Yogya Minta Jatah Makanan Food Truck Dipatsuskan

Rabu, 23 September 2026 - 05:48 WIB

Warga Menolak, Proyek Panas Bumi Ungaran Berlanjut

Rabu, 23 September 2026 - 05:47 WIB

DoorDash Sepakat Bayar Rp2 Triliun ke NYC Terkait Upah Kurir

Rabu, 23 September 2026 - 05:43 WIB

71 Warga Blora Terserang Kusta Termasuk Anak-Anak

Rabu, 23 September 2026 - 05:34 WIB

Dampak Ketidakpastian Subsidi Motor Listrik Menurut Periklindo dan Aismoli

Berita Terbaru

Para ahli mengingatkan pentingnya antisipasi dini terhadap risiko sistemik kecerdasan buatan berkaca dari krisis global masa lalu.

United States Politics and Government

Pelajaran dari Krisis Global untuk Menghadapi Risiko Kecerdasan Buatan

Rabu, 23 Sep 2026 - 05:51 WIB

Warga sekitar menolak kelanjutan proyek panas bumi Gunung Ungaran karena khawatir mengancam lingkungan dan sumber air.

Viral

Warga Menolak, Proyek Panas Bumi Ungaran Berlanjut

Rabu, 23 Sep 2026 - 05:48 WIB

Dinas Kesehatan Blora mencatat 71 kasus baru kusta yang menyerang warga dewasa hingga anak-anak.

Viral

71 Warga Blora Terserang Kusta Termasuk Anak-Anak

Rabu, 23 Sep 2026 - 05:43 WIB

error: Content is protected !!