Redaksiku.com – Suasana ruang kelas di SD Negeri 02 Jatirejo, Kabupaten Karanganyar, tampak jauh lebih hidup berkat inovasi metode pembelajaran yang dibawa oleh tim mahasiswa KKN Literasi 124 Universitas Sebelas Maret (UNS). Alih-alih hanya duduk diam membaca buku, para siswa diajak untuk menyelami isi bacaan melalui pendekatan kreatif yang mengubah narasi menjadi pengalaman nyata, mulai dari diskusi interaktif hingga penciptaan karya tulis orisinal.
Program ini merupakan bentuk nyata kolaborasi antara UNS dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang dirancang khusus untuk memperkuat budaya literasi di tingkat sekolah dasar. Sebanyak sembilan mahasiswa terjun langsung untuk memastikan setiap aktivitas disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik anak-anak di SDN 02 Jatirejo, sehingga proses belajar terasa lebih dekat dengan dunia mereka.
Sebanyak 9 mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu di UNS bekerja sama untuk mendampingi siswa melalui empat tahapan literasi yang terstruktur selama masa KKN mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Empat Tahapan Literasi Kreatif
Untuk memastikan kegiatan berjalan sistematis namun tetap menyenangkan, mahasiswa KKN 124 UNS menyusun alur kerja yang terdiri dari empat tahapan utama. Metode ini dirancang agar setiap anak tidak hanya sekadar menghafal isi buku, tetapi mampu mengolah informasi menjadi pemahaman yang mendalam.
- Membaca Nyaring (Read Aloud) untuk membangun ketertarikan awal melalui intonasi dan ekspresi saat bercerita.
- Cerdas Mengulas Buku sebagai ruang bagi siswa untuk menyampaikan pendapat dan melatih kemampuan berpikir kritis.
- Membuat Proyek Berbasis Isi Buku agar siswa mampu menerjemahkan teks menjadi wujud fisik atau karya seni.
- Menulis Cerita Berbasis Buku Bacaan sebagai puncak kegiatan untuk mengekspresikan imajinasi mereka ke dalam tulisan.
Membangun Pengalaman Membaca yang Interaktif
Kegiatan dimulai dengan metode read aloud, di mana mahasiswa membacakan cerita di depan kelas dengan gaya yang ekspresif. Pendekatan ini terbukti efektif dalam memancing rasa ingin tahu siswa terhadap alur cerita dan karakter tokoh. Untuk mendukung pengalaman visual, tim KKN juga memanfaatkan perangkat Smart TV yang tersedia di sekolah guna menampilkan materi pendukung yang relevan dengan buku yang dibahas.
Setelah sesi membaca selesai, siswa diarahkan ke tahap ulasan. Di sini, peran mahasiswa bergeser menjadi fasilitator yang memantik diskusi melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka. Metode ini mendorong siswa untuk berani berbicara dan berbagi perspektif, sebuah langkah krusial dalam membangun kepercayaan diri mereka dalam berkomunikasi.
Pembelajaran berbasis siswa atau student-centered learning menjadi kunci utama agar anak-anak merasa memiliki ruang untuk bereksplorasi tanpa tekanan harus selalu memberikan jawaban yang benar.
Dari Pemahaman Menjadi Karya Nyata
Salah satu aspek paling menonjol dari program ini adalah transisi dari sekadar memahami buku ke tahap menciptakan sesuatu yang baru. Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan proyek yang terinspirasi dari bacaan mereka. Proses ini tidak hanya menuntut kreativitas, tetapi juga melatih kemampuan kerja sama dan pembagian tugas antar siswa.
Pendampingan mahasiswa dilakukan dengan memberikan kebebasan bagi siswa untuk menentukan ide proyek mereka sendiri. Dengan cara ini, buku tidak lagi dipandang sebagai tumpukan kertas membosankan, melainkan sebagai sumber inspirasi yang tak terbatas. Mahasiswa bertindak sebagai pemandu yang memberikan bantuan teknis hanya ketika siswa menemui kendala, sehingga kemandirian siswa tetap terjaga.
Gunakan media visual seperti video atau gambar yang relevan saat membacakan cerita untuk membantu siswa yang memiliki gaya belajar auditori dan visual tetap fokus pada topik pembahasan.
Sebagai tahap akhir, siswa diajak untuk menulis cerita mereka sendiri. Berbekal imajinasi yang telah terasah melalui diskusi dan proyek sebelumnya, mereka mulai menuangkan gagasan ke dalam bentuk tulisan yang runtut. Proses ini menjadi bukti nyata bahwa literasi adalah sebuah siklus yang berkesinambungan: membaca, memahami, dan kemudian berkarya.
Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa KKN 124 UNS ingin menanamkan pesan bahwa buku adalah pintu masuk menuju dunia yang lebih luas. Dengan menghubungkan bacaan ke aktivitas yang menyenangkan, mereka berharap budaya literasi di SD Negeri 02 Jatirejo tidak hanya berhenti selama masa KKN, tetapi terus tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari bagi para siswa.
Pertanyaan Umum
Apakah program ini hanya fokus pada kemampuan membaca saja?
Tidak, program ini justru menekankan bahwa membaca hanyalah langkah awal. Fokus utamanya adalah mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berdiskusi, berkolaborasi, dan menuangkan gagasan ke dalam bentuk karya kreatif atau tulisan.
Bagaimana cara mahasiswa memastikan siswa tetap antusias selama kegiatan?
Mahasiswa menggunakan pendekatan interaktif, seperti penggunaan media digital (Smart TV), kuis yang menyenangkan, serta sesi diskusi kelompok yang santai. Pendekatan ini membuat siswa merasa dilibatkan secara aktif, bukan sekadar menjadi pendengar pasif di dalam kelas.
Siapa saja pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program ini?
Program ini merupakan kolaborasi antara Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yang diimplementasikan langsung oleh sembilan mahasiswa KKN 124 UNS di SD Negeri 02 Jatirejo.
Ringkasan
Tim KKN 124 UNS meningkatkan literasi siswa SDN 02 Jatirejo melalui empat tahapan kreatif: membaca nyaring, mengulas buku, membuat proyek berbasis bacaan, dan menulis cerita. Metode interaktif ini dirancang agar siswa tidak hanya membaca, tetapi juga mampu berpikir kritis dan menghasilkan karya sendiri.












