Redaksiku.com – Pagi itu, kesibukan rutin langsung menyambut di halaman belakang sebuah rumah sederhana di Desa Mataue. Tobani Tiku, seorang perempuan berusia 86 tahun, tampak telaten memukul-mukul lembaran kulit kayu beringin untuk diubah menjadi kumu nunu, kain tradisional khas masyarakat Kulawi.
Bagi Tobani, aktivitas membuat kain tradisional ini bukan sekadar rutinitas harian, melainkan sebuah kecintaan yang sudah mendarah daging sejak masa remaja. Hari-harinya dihabiskan dari pagi hingga sore hari untuk memproses bahan alam tersebut, dan ia hanya beristirahat sejenak untuk makan serta menunaikan ibadah.
Di usianya yang telah menginjak 86 tahun, Tobani tetap aktif berkarya karena merasa tubuhnya justru akan terasa sakit dan lelah jika hanya berdiam diri sepanjang hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tradisi Turun-Temurun Pembuatan Kumu Nunu
Kumu nunu merupakan pakaian adat yang memiliki nilai historis dan kultural tinggi bagi masyarakat Kulawi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Keterampilan ini didapat Tobani secara turun-temurun dari ibu serta neneknya di masa lalu.
Dalam tradisi lokal masyarakat Kulawi, terdapat aturan adat yang ketat mengenai siapa saja yang boleh membuat kain ini. Pekerjaan memukul kulit kayu ini secara khusus diwariskan kepada perempuan.
Ada kepercayaan leluhur yang melarang kaum laki-laki untuk membuat kumu nunu. Konon, jika pantangan tersebut dilanggar, dikhawatirkan sang pembuat akan mengalami masalah kesehatan seperti turun berok.
“Kalau orang tua bilang (laki-laki) tidak boleh, usus turun.”
— Tobani Tiku
Pemilihan Bahan Baku dan Waktu Pengambilan
Dalam kesehariannya membuat kerajinan tradisional ini, Tobani memanfaatkan pohon beringin yang tumbuh subur di sekitar tempat tinggalnya. Terdapat dua jenis varietas beringin yang biasa digunakan sebagai bahan baku utama kain:
- Pohon beringin merah atau yang dikenal dengan sebutan nunu lero.
- Pohon beringin putih yang biasa disebut nunu bula.
Kendati demikian, dari kedua jenis pohon tersebut, Tobani mengaku lebih sering menggunakan nunu lero untuk menghasilkan lembaran kain yang berkualitas. Proses pencarian bahan bakunya pun tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Pengambilan ranting pohon beringin wajib dilakukan pada malam bulan purnama dengan posisi cabang yang menghadap ke langit atau tumbuh mendatar.
Syafrudin, anak laki-laki yang tinggal bersama Tobani, adalah orang yang bertugas membantu mencari dan mengambil ranting-ranting pohon beringin tersebut setiap bulan purnama tiba. Ranting yang dipilih harus memenuhi kriteria adat dan tidak boleh sembarangan memotong cabang.
“Itu kan tidak boleh yang cabangnya arah ke bawah, harus merata,” ujar Tobani menjelaskan aturan adat dalam pengambilan bahan baku kayu.
Peran Penting Pelestarian Budaya Lokal
Keberadaan Tobani Tiku saat ini memegang peranan yang sangat krusial bagi kelangsungan warisan budaya di Sulawesi Tengah. Di tengah gempuran zaman modern, ia menjadi satu-satunya perempuan di daerahnya yang masih konsisten memproduksi kumu nunu.
Tinggal bersama tiga orang anaknya di Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Tobani mendedikasikan sisa hidupnya untuk menjaga agar warisan leluhur ini tidak punah begitu saja. Dukungan keluarga, termasuk anaknya yang membantu menyediakan bahan baku, menjadi pendorong utama kelangsungan tradisi ini.
Aktivitas yang ditekuni Tobani sejak masa mudanya ini sekaligus menjadi pengingat betapa kayanya tradisi nusantara dalam memanfaatkan alam secara bijak. Setiap ketukan palu di atas kulit kayu beringin merupakan wujud nyata dedikasi seorang pelestari budaya terhadap identitas masyarakat Kulawi.
Pertanyaan Umum
Siapakah Tobani Tiku?
Tobani Tiku adalah seorang perempuan berusia 86 tahun asal Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Sigi, Sulawesi Tengah, yang dikenal sebagai satu-satunya perajin kain kulit kayu tradisional atau kumu nunu.
Apa bahan utama pembuatan kumu nunu?
Kumu nunu dibuat dari kulit kayu pohon beringin, terutama jenis beringin merah (nunu lero) dan beringin putih (nunu bula) yang diambil berdasarkan ketentuan adat.
Kapan waktu pengambilan ranting beringin untuk kain kayu?
Pengambilan ranting pohon beringin harus dilakukan pada saat bulan purnama dengan syarat posisi ranting harus menghadap ke langit atau tumbuh mendatar, bukan ke bawah.
Ringkasan
Artikel ini mengisahkan Tobani Tiku, seorang perempuan berusia 86 tahun asal Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, yang konsisten melestarikan pembuatan kumu nunu—kain tradisional berbahan kulit kayu beringin. Di tengah perkembangan zaman, Tobani diakui sebagai satu-satunya perajin yang masih aktif memproduksi pakaian adat bernilai historis tinggi tersebut.
Keterampilan ini diwariskan secara turun-temurun dari ibu dan neneknya dengan kepatuhan ketat terhadap adat istiadat Kulawi. Berdasarkan tradisi lokal, pekerjaan memukul kulit kayu ini khusus diwariskan kepada perempuan dan pantang dilakukan oleh laki-laki karena dipercaya dapat memicu masalah kesehatan. Selain itu, bahan baku utamanya yang menggunakan pohon beringin merah (nunu lero) atau putih (nunu bula) memiliki aturan khusus, yakni ranting harus diambil pada malam bulan purnama dengan posisi menghadap ke langit.
Dedikasi Tobani yang dibantu oleh anaknya dalam penyediaan bahan baku memegang peranan krusial dalam menjaga kelangsungan warisan budaya leluhur agar tidak punah. Aktivitas harian yang ia jalani sejak masa remaja ini tidak hanya mencerminkan ketekunan seorang pelestari budaya, tetapi juga wujud kearifan lokal masyarakat Kulawi dalam memanfaatkan alam secara bijak.






