Redaksiku.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang solid hingga penutupan Triwulan II 2026. Keberhasilan ini didorong oleh fundamental perusahaan yang terjaga dengan baik, terutama pada aspek likuiditas, struktur pendanaan, serta permodalan yang mampu menopang ekspansi bisnis di tengah dinamika ekonomi nasional.
Kondisi keuangan yang kokoh ini memberikan ruang bagi bank pelat merah tersebut untuk terus menjalankan fungsi intermediasi perbankan secara optimal. Fokus utama tetap diarahkan pada penyaluran kredit yang sehat, terutama di segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang selama ini menjadi tulang punggung bisnis inti perusahaan.
Kinerja impresif BRI pada periode ini ditandai dengan pencapaian laba bersih sebesar Rp31,2 triliun, angka yang menunjukkan pertumbuhan signifikan mencapai 17,5% secara year-on-year.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Stabilitas Likuiditas dan Permodalan
Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi, menjelaskan dalam konferensi pers di Jakarta bahwa manajemen likuiditas menjadi prioritas utama. Hingga pertengahan tahun ini, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) konsolidasi bank berada di angka 90,8%, sebuah level yang dinilai sangat ideal untuk mendukung fungsi intermediasi tanpa mengorbankan keamanan dana nasabah.
Selain likuiditas, permodalan BRI juga menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Tercatat, Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal perseroan berada di posisi 21,5%. Angka ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menyerap risiko sekaligus menyediakan bantalan modal yang cukup untuk menangkap peluang bisnis baru di masa depan.
“Dengan likuiditas yang terkelola dengan baik dan permodalan yang tetap kuat, BRI memiliki fondasi yang memadai untuk melanjutkan pertumbuhan secara sehat dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas.” — Achmad Royadi
Penguatan Struktur Pendanaan dan Kualitas Aset
Keberhasilan BRI dalam menjaga likuiditas tidak terlepas dari strategi perusahaan dalam mengelola struktur pendanaan. Hingga akhir Juni 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) berhasil dihimpun hingga mencapai Rp1.581 triliun, tumbuh sebesar 6,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Yang menarik, pertumbuhan DPK ini diikuti oleh peningkatan kualitas dana murah. Rasio Current Account Saving Account (CASA) perusahaan naik dari 65,5% menjadi 67,6%. Peningkatan ini menunjukkan kepercayaan nasabah yang semakin tinggi serta efisiensi biaya dana yang lebih baik bagi bank.
Strategi pertumbuhan selektif yang diterapkan BRI berhasil menekan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) menjadi 2,9% pada Triwulan II 2026 dari posisi sebelumnya 3,07%.
Keberhasilan ini didukung oleh beberapa langkah strategis yang diterapkan oleh manajemen dalam menjaga kualitas aset, di antaranya:
- Penerapan kebijakan pertumbuhan selektif untuk memastikan debitur memiliki profil risiko yang terjaga.
- Penguatan sistem peringatan dini atau early warning system, khususnya pada segmen ritel yang memiliki volume transaksi tinggi.
- Optimalisasi fungsi unit kerja yang menangani penagihan (collection) dan pemulihan kredit (recovery) untuk meminimalkan kerugian.
Akselerasi Kredit dan Kontribusi Ekonomi
Seiring dengan perbaikan kualitas aset, indikator risiko kredit lainnya pun turut membaik. Rasio Loan at Risk (LaR) berhasil ditekan turun ke angka 9,1% dari 9,6% di akhir tahun 2025. Penurunan ini menjadi sinyal positif bahwa kualitas penyaluran kredit baru oleh BRI semakin berkualitas dan terukur.
Total aset BRI pun tercatat mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 11,7% yoy, mencapai Rp2.352 triliun. Pertumbuhan aset tersebut didorong oleh akselerasi penyaluran kredit yang tumbuh sebesar 16,2% menjadi Rp1.646 triliun. Fokus pada sektor UMKM tetap menjadi pilar utama, yang tidak hanya mendukung laba perusahaan tetapi juga sejalan dengan agenda prioritas pemerintah dalam memperluas inklusi keuangan bagi masyarakat luas.
Bagi nasabah atau investor, memantau rasio CASA dan LaR merupakan cara efektif untuk memahami seberapa efisien dan aman pengelolaan risiko di sebuah lembaga perbankan besar.
Pertanyaan Umum
Apa yang dimaksud dengan rasio LDR dalam konteks kinerja BRI?
LDR atau Loan to Deposit Ratio adalah perbandingan antara total kredit yang disalurkan dengan total dana pihak ketiga yang dihimpun. Angka 90,8% menunjukkan bahwa BRI sangat optimal dalam menyalurkan dana masyarakat kembali ke sektor produktif tanpa melampaui batas risiko likuiditas.
Mengapa pertumbuhan rasio CASA dianggap penting bagi bank?
Rasio CASA (dana murah) yang meningkat menunjukkan bahwa porsi dana nasabah yang tersimpan di rekening tabungan dan giro lebih besar dibandingkan deposito. Hal ini sangat menguntungkan bagi bank karena biaya bunga yang dibayarkan jauh lebih rendah, sehingga margin keuntungan dapat lebih terjaga.
Bagaimana BRI menjaga kualitas kredit di tengah ekspansi yang masif?
BRI menerapkan strategi selective growth dan penguatan sistem peringatan dini pada segmen ritel. Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan data analitik, perseroan mampu memantau kesehatan debitur secara real-time dan melakukan langkah mitigasi sebelum risiko kredit meningkat menjadi NPL.
Ringkasan
BRI mencatatkan kinerja solid pada Triwulan II 2026 dengan laba bersih Rp31,2 triliun, tumbuh 17,5% yoy. Keberhasilan ini didukung oleh permodalan kuat (CAR 21,5%), likuiditas terjaga (LDR 90,8%), serta peningkatan rasio dana murah (CASA) menjadi 67,6% yang menopang penyaluran kredit UMKM.






