Redaksiku.com – Mantan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, kembali menjadi sorotan publik setelah menyampaikan pernyataan terbuka terkait perannya dalam perjalanan politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Dalam keterangannya kepada media, ia menegaskan bahwa dirinya memiliki kontribusi penting dalam mengantarkan Jokowi dari panggung politik daerah hingga ke tingkat nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di kediamannya di Jakarta Selatan pada Sabtu (18/4/2026). Dalam kesempatan itu, Jusuf Kalla juga menyinggung polemik yang berkembang belakangan ini, termasuk respons dari kelompok pendukung Jokowi yang disebutnya sebagai Termul.
Klaim Peran Awal dalam Karier Politik Jokowi
Jusuf Kalla secara terbuka menyatakan bahwa dirinya merupakan sosok yang mendorong langkah awal Jokowi menuju panggung politik nasional. Ia mengaku berperan dalam membawa Jokowi dari Solo ke Jakarta untuk maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut JK, inisiatif tersebut tidak hanya sebatas dukungan informal, tetapi juga melibatkan komunikasi langsung dengan elite politik nasional. Ia mengungkapkan bahwa dirinya pernah bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, untuk meyakinkan bahwa Jokowi merupakan figur yang layak diusung.
Dalam pertemuan tersebut, JK mengaku harus meyakinkan Megawati sebelum akhirnya Jokowi mendapatkan restu untuk maju dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2012.
Momentum Pilkada DKI Jakarta 2012
Sebagaimana diketahui, pada Pilkada DKI Jakarta 2012, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Pasangan ini berhasil memenangkan kontestasi dan membawa Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Jusuf Kalla menilai kemenangan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan politik Jokowi. Menurutnya, tanpa pengalaman sebagai kepala daerah di ibu kota, sulit bagi seseorang untuk melangkah ke tingkat kepemimpinan nasional.
Ia bahkan menunjukkan dokumentasi berupa foto yang disebut sebagai bukti bahwa Jokowi pernah datang secara langsung untuk menyampaikan ucapan terima kasih setelah kemenangan tersebut.

Peran dalam Jalan Menuju Kursi Presiden
Lebih jauh, JK juga menyatakan bahwa kontribusinya tidak berhenti pada fase Pilkada DKI Jakarta. Ia menilai perannya turut berlanjut hingga proses Jokowi maju sebagai calon presiden.
Menurutnya, keputusan untuk mendampingi Jokowi sebagai wakil presiden pada periode pertama pemerintahan juga merupakan bagian dari dinamika politik saat itu. JK mengungkapkan bahwa dirinya diminta untuk mendampingi Jokowi karena pertimbangan pengalaman.
Ia menegaskan bahwa perjalanan Jokowi menjadi presiden tidak terlepas dari berbagai dukungan dan proses politik yang melibatkan banyak pihak, termasuk dirinya.
Respons terhadap Kritik Pendukung Jokowi
Dalam konferensi pers tersebut, Jusuf Kalla juga menyoroti respons sejumlah pendukung Jokowi yang dinilainya berlebihan terhadap pernyataannya. Ia mengaku heran mengapa komentarnya justru dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap Jokowi.
Menurut JK, pernyataan yang ia sampaikan sejatinya merupakan bentuk refleksi dan penegasan fakta sejarah, bukan serangan politik. Ia menekankan bahwa dirinya tidak pernah bermaksud untuk menjatuhkan Jokowi.
Sebaliknya, JK menyebut bahwa sebagai sosok yang lebih senior, dirinya memiliki posisi untuk memberikan pandangan maupun nasihat, termasuk dalam menyikapi isu-isu yang berkembang.
Polemik Terkait Isu Ijazah
Pernyataan JK juga tidak terlepas dari polemik yang muncul sebelumnya, terutama terkait isu ijazah Jokowi. Ia mengakui bahwa komentarnya mengenai isu tersebut memicu reaksi dari sejumlah pihak.
Namun demikian, JK menegaskan bahwa apa yang ia sampaikan bukanlah tuduhan, melainkan bentuk masukan agar persoalan tersebut tidak berlarut-larut di ruang publik.
Ia menilai bahwa isu yang berkembang seharusnya disikapi dengan bijak dan tidak perlu menimbulkan polemik berkepanjangan.
Klarifikasi atas Ceramah di UGM
Selain itu, JK juga memberikan klarifikasi terkait ceramahnya di Universitas Gadjah Mada pada 5 Maret 2026. Ceramah tersebut sebelumnya menjadi perhatian publik karena menyinggung berbagai isu, termasuk konflik di Ambon dan Poso.
Ia menjelaskan bahwa ceramah tersebut disampaikan dalam konteks refleksi Ramadan dan tidak dimaksudkan untuk memicu kontroversi.
Namun, perkembangan situasi di media sosial membuat sebagian isi ceramah tersebut ditafsirkan secara berbeda oleh publik.
Dinamika Politik dan Persepsi Publik
Pernyataan Jusuf Kalla mencerminkan dinamika politik yang terus berkembang, di mana peran tokoh-tokoh senior kerap menjadi bagian dari diskursus publik.
Dalam konteks ini, perbedaan persepsi antara tokoh politik dan pendukung menjadi hal yang tidak terhindarkan. Setiap pernyataan publik dapat memicu interpretasi yang beragam, terutama di era digital.
Pengamat menilai bahwa penting bagi publik untuk memahami konteks historis dan dinamika politik secara utuh sebelum menarik kesimpulan.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






