Redaksiku.com – Indonesia kini mengukuhkan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata paling diminati di Asia, dengan keberhasilannya menembus peringkat lima besar dalam daftar negara yang paling banyak menarik wisatawan untuk berkunjung kembali. Berdasarkan data pemesanan terbaru dari platform perjalanan Agoda, tren ini menempatkan Indonesia bersanding dengan raksasa pariwisata regional lainnya, mencerminkan daya tarik yang berkelanjutan bagi pelancong mancanegara.
Danau Toba (Kementerian Pariwisata)
Dominasi Asia Tenggara dalam Peta Pariwisata Global
Peringkat yang dirilis oleh Agoda ini memberikan gambaran jelas mengenai peta kekuatan pariwisata di Asia saat ini. Jepang menduduki posisi puncak, namun empat posisi berikutnya diisi oleh negara-negara Asia Tenggara, yang menunjukkan betapa kuatnya daya tarik kawasan ini bagi wisatawan global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Daftar lima besar destinasi yang paling sering dikunjungi kembali tersebut meliputi:
- Jepang yang tetap menjadi primadona utama bagi wisatawan internasional.
- Malaysia yang menempati posisi kedua dan menjadi negara Asia Tenggara dengan peringkat tertinggi.
- Thailand yang berada di urutan ketiga sebagai destinasi favorit.
- Vietnam yang menempati posisi keempat dalam daftar tersebut.
- Indonesia yang sukses mengamankan posisi kelima berkat daya tarik destinasi yang beragam.
Data ini menegaskan bahwa wisatawan tidak hanya datang sekali untuk berlibur, tetapi memiliki keinginan kuat untuk kembali menjelajahi berbagai keunikan yang ditawarkan oleh negara-negara di Asia Tenggara.
Indonesia mencatatkan angka kunjungan wisatawan mancanegara yang impresif sebesar 15,39 juta kunjungan sepanjang tahun 2025.
Kinerja Pariwisata Indonesia Sepanjang 2025
Capaian angka kunjungan tersebut secara resmi melampaui target yang ditetapkan pemerintah, yakni pada kisaran 14 hingga 15 juta wisman. Hal ini menandakan adanya pemulihan dan pertumbuhan yang sangat signifikan bagi industri pariwisata nasional setelah tantangan global yang sempat terjadi di tahun-tahun sebelumnya.
Beberapa dinamika pasar yang tercatat selama tahun 2025 memberikan optimisme bagi pelaku industri pariwisata di tanah air:
- Malaysia tercatat sebagai kontributor terbesar terhadap pendapatan pariwisata Indonesia.
- Uni Emirat Arab menunjukkan pertumbuhan jumlah wisatawan tercepat dibandingkan pasar lainnya.
- Kunjungan wisatawan dari China mencapai 1,34 juta orang, angka tertinggi dalam enam tahun terakhir yang melampaui level pra-pandemi.
Keragaman destinasi menjadi kunci utama keberhasilan ini. Dari keindahan alam Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur hingga dinamika wisata urban di Jakarta dan kekayaan budaya di Bali, Indonesia berhasil menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.
Pertumbuhan kunjungan wisatawan China yang melampaui level sebelum pandemi COVID-19 menjadi indikator krusial bagi pemulihan sektor pariwisata Indonesia secara menyeluruh.

Strategi Malaysia Mempertahankan Posisi
Sebagai negara Asia Tenggara dengan peringkat tertinggi dalam daftar Agoda, Malaysia menunjukkan langkah progresif dalam mengelola sektor pariwisatanya. Dalam dua tahun terakhir, Malaysia bahkan berhasil menyalip Thailand untuk memegang posisi sebagai negara dengan jumlah kunjungan wisatawan terbanyak di kawasan Asia Tenggara.
Keberhasilan ini tidak datang secara kebetulan. Pemerintah Malaysia menerapkan serangkaian kebijakan strategis, di antaranya:
- Penyederhanaan kebijakan visa untuk mempermudah akses masuk wisatawan.
- Pengembangan infrastruktur yang masif untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah.
- Penyelenggaraan berbagai acara internasional berskala besar untuk menarik minat pengunjung.
- Diversifikasi produk wisata, termasuk promosi paket kuliner unik seperti pengalaman menikmati durian sepuasnya.
Tren positif ini berlanjut hingga paruh pertama tahun 2026, dengan mencatat 21,12 juta kedatangan wisatawan internasional. Angka tersebut naik 2,5 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, membuktikan bahwa strategi promosi yang ditargetkan ke pasar seperti China, Indonesia, Jepang, dan India membuahkan hasil yang nyata.
Bagi pelaku industri pariwisata, memahami preferensi wisatawan yang kembali (repeat visitors) sangat penting karena mereka cenderung mencari pengalaman berbasis budaya dan kuliner lokal yang lebih mendalam.
Data yang disajikan merujuk pada capaian historis hingga pertengahan tahun 2026, sehingga perkembangan di masa depan tetap bergantung pada kebijakan regional dan stabilitas konektivitas global.
Pertanyaan Umum
Apa yang membuat wisatawan ingin kembali berkunjung ke Indonesia?
Wisatawan cenderung kembali karena keberagaman destinasi yang ditawarkan, mulai dari wisata alam seperti Taman Nasional Komodo hingga pusat kebudayaan dan gaya hidup di Bali dan Jakarta, yang didukung oleh peningkatan konektivitas serta kemudahan akses masuk.
Bagaimana posisi Indonesia dibandingkan dengan negara tetangga di Asia Tenggara?
Indonesia berada di posisi kelima di Asia dalam daftar destinasi yang sering dikunjungi kembali, tepat di bawah Vietnam. Sementara itu, Malaysia memimpin di kawasan Asia Tenggara dengan menempati peringkat kedua di bawah Jepang.
Mengapa pasar wisatawan China dianggap penting bagi Indonesia?
Pasar China sangat krusial karena jumlah kunjungan mereka telah mencapai 1,34 juta pada tahun 2025, yang merupakan level tertinggi dalam enam tahun terakhir, melampaui angka kunjungan sebelum pandemi COVID-19.



Ringkasan
Indonesia berhasil menempati peringkat lima besar sebagai destinasi wisata paling diminati di Asia berdasarkan data pemesanan platform perjalanan Agoda. Pencapaian ini mencerminkan tingginya minat wisatawan mancanegara untuk kembali berkunjung, menempatkan Indonesia bersanding dengan negara-negara pariwisata utama seperti Jepang, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Sepanjang tahun 2025, Indonesia mencatatkan 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara, melampaui target pemerintah sebesar 14 hingga 15 juta. Pertumbuhan ini didorong oleh pemulihan pasar wisatawan China yang mencapai 1,34 juta kunjungan—angka tertinggi dalam enam tahun terakhir—serta daya tarik destinasi yang beragam, mulai dari Taman Nasional Komodo hingga pusat kebudayaan di Bali dan Jakarta.
Keberhasilan ini selaras dengan tren dominasi Asia Tenggara dalam peta pariwisata global. Sementara Indonesia memperkuat posisinya, Malaysia terus memimpin di kawasan Asia Tenggara melalui kebijakan strategis seperti penyederhanaan visa dan peningkatan konektivitas, yang terbukti efektif meningkatkan jumlah kunjungan internasional hingga mencapai 21,12 juta pada paruh pertama tahun 2026.






