Redaksiku.com – Indonesia Median Foundation (IMF) kembali memperkuat literasi digital di kalangan pelajar melalui penyelenggaraan Seri Ke-3 kegiatan KOMPAS (Kritis, Online, Mandiri, Positif, Aman, Santun) di SMP Islam Al-Hikmah, Kota Tangerang Selatan, pada Kamis (17/09). Inisiatif ini hadir sebagai respons atas meningkatnya kompleksitas ancaman digital yang mengintai generasi muda, mulai dari jeratan pinjaman online ilegal, Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), hingga dampak buruk perundungan siber terhadap kesehatan mental.
Membangun Ketahanan Digital di Lingkungan Sekolah
Program KOMPAS dirancang sebagai upaya preventif untuk meminimalkan risiko di ruang siber melalui sinergi tiga pilar utama. Keberhasilan edukasi ini bergantung pada pengawasan orang tua di rumah, bimbingan empati dari para guru di sekolah, serta penerapan aturan tegas pemerintah seperti Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 yang dikombinasikan dengan kesadaran penuh dari peserta didik mengenai hak dan kewajiban mereka.
Kegiatan yang mengusung tema Digital Resilience: Menyiapkan Pelajar Berdaya di Era Transformasi Digital ini melibatkan kolaborasi lintas sektor antara IMF, Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Relawan TIK), serta Pandu Literasi Digital Kementerian Komunikasi Digital (Kemkomdigi) RI. Sebanyak 42 peserta yang terdiri dari murid, tenaga kependidikan, serta mahasiswa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta turut berpartisipasi aktif dalam rangkaian edukasi ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pelibatan mahasiswa dalam kegiatan ini bertujuan untuk mencetak agen perubahan yang mampu membawa program literasi digital ke desa binaan mereka di masa depan.
Strategi Menghadapi Perundungan Siber
Dalam sesi edukasi, M. Akhsanul Akhlaq dari Pandu Literasi Digital Kemkomdigi menekankan pentingnya empat pilar pertahanan untuk menangani perundungan siber. Menurutnya, respons terhadap tindak perundungan tidak boleh dilakukan secara pasif agar dampaknya terhadap kesehatan mental anak dapat diminimalisir.
Terdapat 4 pilar pertahanan utama yang harus diintegrasikan, yakni peran keluarga sebagai lini pertama, asesmen rutin oleh sekolah, penegakan payung hukum oleh pemerintah, dan tanggung jawab platform digital dalam menciptakan ruang aman.
Setiap anak didorong untuk membangun keberanian dalam melaporkan tindakan perundungan. Langkah-langkah praktis yang disarankan meliputi:
- Membangun komunikasi terbuka antara anak dan orang tua di lingkungan rumah.
- Menyediakan layanan bimbingan konseling di sekolah sebagai ruang aman untuk melapor.
- Mengamankan bukti-bukti digital jika terjadi perundungan secara daring.
- Mendorong sikap proaktif untuk mendukung korban dan mengabaikan provokasi pelaku.
Implementasi Empat Pilar Literasi Digital
Ketua Relawan TIK Provinsi Banten, Ahmad Taufiq Jamaludin, memperkenalkan konsep CABE sebagai jembatan untuk mempermudah siswa memahami pilar literasi digital. Konsep ini membagi literasi digital ke dalam empat aspek fundamental yang saling berkaitan untuk menciptakan ekosistem daring yang sehat.
Gunakan singkatan CABE untuk mengingat pilar literasi digital: Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital, dan Etika Digital.
Taufiq mengibaratkan keempat pilar tersebut sebagai sebuah pohon yang harus dirawat agar memberikan hasil optimal bagi penggunanya. Budaya digital berperan sebagai akar yang menopang nilai kebangsaan, etika digital sebagai batang yang menjaga integritas, keamanan digital sebagai pagar pelindung dari ancaman, serta kecakapan digital sebagai buah yang memberikan manfaat kompetensi bagi individu.
Etika Penggunaan Kecerdasan Artifisial
Selain perundungan, pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) menjadi sorotan dalam diskusi. Gilang Tresna Putra Anugrah dari IMF mengingatkan bahwa meski AI menawarkan kemudahan, pengguna tetap harus bersikap kritis sebelum menerima informasi yang disajikan.
Penggunaan AI di lingkungan sekolah disarankan sebatas sebagai alat bantu pendukung, bukan sebagai pengganti proses berpikir kritis. Murid dan guru perlu memahami batasan etika agar penggunaan teknologi ini tidak melanggar hak kekayaan intelektual maupun terjebak dalam diseminasi informasi hoaks yang mungkin dihasilkan oleh mesin AI.
Data yang disajikan oleh AI berasal dari jaringan internet yang luas, sehingga tetap memiliki potensi menyajikan informasi yang keliru atau tidak akurat.
Pertanyaan Umum
Apa tujuan utama dari program edukasi KOMPAS?
Program ini bertujuan untuk membangun ketahanan digital (digital resilience) bagi pelajar agar mampu menghadapi tantangan seperti perundungan siber, penyebaran hoaks, dan penyalahgunaan teknologi melalui edukasi yang kolaboratif.
Siapa saja pihak yang terlibat dalam inisiatif ini?
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Indonesia Median Foundation (IMF), Relawan TIK Provinsi Banten, serta Pandu Literasi Digital dari Kementerian Komunikasi Digital (Kemkomdigi) RI.
Bagaimana cara sekolah mendukung literasi digital menurut pihak Dinas Pendidikan?
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan menyatakan dukungan penuh agar edukasi serupa dapat diselenggarakan di seluruh SMP, sebagai fondasi untuk menyukseskan program penetrasi Koding dan Kecerdasan Artifisial di satuan pendidikan.
Ringkasan
Indonesia Median Foundation (IMF) sukses menyelenggarakan program literasi digital Seri Ke-3 bertajuk KOMPAS di SMP Islam Al-Hikmah, Tangerang Selatan, pada 17 September 2024. Kegiatan ini bertujuan membangun ketahanan digital bagi 42 peserta, yang mencakup siswa, tenaga pendidik, dan mahasiswa, guna menghadapi ancaman siber seperti perundungan daring, pinjaman online ilegal, serta kekerasan berbasis gender online.
Inisiatif ini melibatkan kolaborasi strategis antara IMF, Relawan TIK Banten, dan Pandu Literasi Digital Kemkomdigi RI untuk mengintegrasikan empat pilar literasi digital yang disingkat sebagai CABE (Cakap, Aman, Budaya, dan Etika Digital). Selain menekankan pentingnya peran aktif keluarga dan sekolah dalam menangani perundungan, program ini juga memberikan edukasi kritis mengenai batasan etika penggunaan kecerdasan artifisial (AI) agar teknologi tersebut tetap berfungsi sebagai pendukung proses berpikir, bukan pengganti nalar kritis siswa.






