Redaksiku.com – Sebuah video yang memperlihatkan seorang pria peserta tes Pegawai Pemerintah (Tes PPPK) dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang sepatu hitamnya ditutup lakban viral di media sosial.
Video tersebut mengundang perhatian warganet lantaran menyoroti ketatnya aturan berpakaian peserta dalam seleksi PPPK 2025.
Kejadian tersebut terjadi di salah satu lokasi tes di wilayah Jawa Tengah, pada awal Mei 2025. Dalam video yang beredar di TikTok dan Twitter, tampak seorang pria tengah duduk sambil memperlihatkan sepatunya yang telah dibungkus menggunakan lakban hitam. Tampak jelas bahwa bagian luar sepatu awalnya berwarna putih, yang kemudian ditutup untuk menyesuaikan dengan aturan panitia yang mewajibkan peserta memakai sepatu hitam polos.
Aku pikir yang penting rapi, ternyata harus hitam semua, ujar pria dalam video tersebut, sembari tertawa kecil. Meski tampak santai, video ini memicu banyak komentar dari warganet yang mempertanyakan aturan berpakaian yang sangat kaku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut petunjuk resmi pelaksanaan tes PPPK 2025, memang disebutkan bahwa peserta diwajibkan mengenakan pakaian putih dan celana atau rok hitam, lengkap dengan sepatu hitam polos. Aturan ini bertujuan untuk menciptakan keseragaman dan kesan profesional selama proses seleksi nasional.
Namun, tidak sedikit peserta yang tidak menyadari detail tersebut, terutama pada bagian sepatu. Dalam beberapa kasus di berbagai daerah, panitia tes terpaksa meminta peserta mengganti sepatu atau menutup warnanya agar tetap dapat mengikuti ujian.

Salah satu panitia seleksi PPPK wilayah Semarang, Sri Mulyani, mengatakan bahwa aturan tersebut bukan hal baru dan sudah diinformasikan jauh hari. Kami sudah menyampaikan melalui situs resmi dan grup-grup informasi peserta. Aturan pakaian ini bukan untuk menyusahkan, tapi untuk menjaga kerapihan dan keseragaman peserta saat ujian, jelasnya.
Terkait dengan kejadian viral tersebut, pihak panitia mengatakan bahwa memberi solusi berupa menutup sepatu dengan lakban adalah bentuk toleransi agar peserta tetap bisa mengikuti tes. Daripada peserta tidak bisa ikut karena salah sepatu, kami berikan opsi cepat yaitu menutup sepatu dengan lakban hitam. Tapi tentu ini bukan hal yang ideal, ujar Sri.
Sementara itu, para warganet memberikan beragam komentar. Sebagian merasa aturan terlalu ketat, sementara lainnya mendukung ketegasan tersebut.
Ya ampun, sepatu aja dipermasalahin, padahal niatnya mau ikut tes, tulis seorang pengguna TikTok.
Namun ada pula yang berpendapat, Kalau aturan sudah jelas dari awal, seharusnya peserta patuh. Ini bentuk disiplin juga.
Pakar pendidikan dan kebijakan publik, Dr. Arya Prasetyo, menyebut kejadian ini sebagai refleksi pentingnya edukasi informasi yang merata. Ini bukan sekadar soal sepatu, tapi soal kepatuhan pada aturan administrasi negara. Sayangnya, tidak semua peserta punya akses informasi atau cukup detail membaca petunjuk teknis, ujarnya saat diwawancarai secara daring.
Ia juga menyoroti bahwa penggunaan media sosial dapat menjadi alat edukasi yang efektif, baik oleh panitia maupun peserta. Video seperti ini bisa jadi bahan refleksi, bahkan bisa dimanfaatkan panitia untuk sosialisasi aturan ke depannya agar tidak terulang, tambahnya.
Hingga kini, video viral tersebut telah ditonton lebih dari 1,5 juta kali dan mengundang ribuan komentar. Banyak peserta lain yang mengaku mengalami kejadian serupa, namun tetap mengikuti tes dengan tenang.
Meski terkesan sepele, insiden sepatu dilakban ini membuka diskusi lebih luas tentang kesiapan peserta, komunikasi panitia, dan bagaimana seleksi PPPK sebagai proses serius tetap dijalankan dengan humanis.
Dengan jutaan orang bersaing dalam seleksi PPPK 2025, disiplin dan ketelitian menjadi kunci. Namun, kisah unik seperti ini memberi warna tersendiri di tengah ketegangan dan keseriusan seleksi nasional.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber






