Redaksiku.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan pada Senin sore dengan kinerja negatif, seiring meningkatnya aksi ambil untung (profit taking) oleh pelaku pasar.
Minimnya katalis baru yang mampu menopang sentimen investor membuat pergerakan pasar saham domestik cenderung melemah, khususnya setelah indeks sempat menyentuh level psikologis penting.
Pada penutupan perdagangan, IHSG tercatat turun 52,03 poin atau 0,58 persen ke level 8.884,71. Sejalan dengan pergerakan indeks utama, kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 juga mengalami koreksi, melemah 1,43 poin atau 0,17 persen ke posisi 866,55.
Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, menilai pelemahan IHSG yang terjadi di penghujung sesi perdagangan merupakan respons wajar pasar setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, level 9.000 menjadi area psikologis yang mendorong investor melakukan realisasi keuntungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tekanan pada IHSG di akhir sesi lebih banyak dipicu oleh aksi profit taking yang relatif agresif setelah indeks mendekati level psikologis 9.000, ujar Reydi saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan bahwa ketiadaan sentimen baru yang bersifat kuat, baik dari dalam negeri maupun global, membuat investor cenderung bersikap lebih defensif. Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter global, terutama terkait potensi lanjutan kebijakan suku bunga di negara-negara maju.
Dalam situasi seperti ini, investor umumnya memilih mengamankan keuntungan dibandingkan mengambil posisi baru yang berisiko. Hal tersebut tercermin dari pergerakan IHSG yang berbalik arah setelah sebelumnya sempat bertahan di zona hijau.

Secara sektoral, tekanan paling besar datang dari saham-saham yang dikategorikan berisiko tinggi dan bersifat spekulatif. Reydi menyoroti sektor energi dan pertambangan sebagai dua sektor yang mengalami koreksi cukup dalam dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pelemahan indeks secara keseluruhan.
Koreksi di saham-saham sektor ini memberi dampak nyata terhadap pergerakan IHSG karena bobotnya yang cukup besar, jelasnya.
Pergerakan IHSG sepanjang hari perdagangan menunjukkan dinamika yang kontras. Pada awal sesi, indeks dibuka menguat dan mampu bertahan di teritori positif hingga penutupan sesi pertama. Optimisme tersebut didorong oleh sentimen regional dan aksi beli selektif pada saham-saham tertentu. Namun, memasuki sesi kedua, tekanan jual mulai mendominasi, sehingga IHSG bergerak ke zona merah hingga penutupan.
Berdasarkan data Indeks Sektoral IDX-IC, kinerja sektor menunjukkan variasi yang cukup lebar. Enam sektor berhasil mencatatkan penguatan, dengan sektor barang konsumen non primer memimpin kenaikan sebesar 2,81 persen. Penguatan ini mencerminkan minat investor terhadap saham-saham yang terkait dengan konsumsi domestik dan pemulihan daya beli.
Selain itu, sektor industri turut menguat sebesar 2,54 persen, disusul sektor transportasi dan logistik yang naik 2,26 persen. Kenaikan pada sektor-sektor tersebut menunjukkan masih adanya peluang pertumbuhan di tengah tekanan pasar secara umum.
Di sisi lain, lima sektor tercatat mengalami pelemahan. Sektor infrastruktur menjadi yang paling tertekan dengan penurunan sebesar 0,94 persen. Selanjutnya, sektor teknologi dan sektor keuangan masing-masing melemah 0,81 persen dan 0,64 persen. Tekanan pada sektor keuangan mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap prospek suku bunga dan stabilitas likuiditas.
Dari sisi saham individual, sejumlah emiten mencatatkan penguatan signifikan. Saham MSKY, DKHH, KPIG, APLN, dan SOCI menjadi deretan saham dengan kenaikan harga tertinggi pada perdagangan hari itu. Sementara itu, saham HILL, NRCA, IRSX, DOOH, dan PBSA masuk dalam daftar saham yang mengalami penurunan terdalam.
Aktivitas perdagangan di BEI tetap menunjukkan likuiditas yang relatif tinggi. Frekuensi transaksi tercatat mencapai 5.072.603 kali, dengan total volume perdagangan sebesar 74,40 miliar lembar saham. Nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp40,10 triliun, mencerminkan partisipasi investor yang masih cukup aktif meskipun indeks melemah.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 279 saham mencatatkan kenaikan harga, 435 saham mengalami penurunan, dan 97 saham bergerak stagnan. Komposisi ini menunjukkan bahwa tekanan jual masih lebih dominan dibandingkan minat beli di pasar.
Sementara itu, pergerakan bursa saham di kawasan Asia pada sore hari cenderung bergerak positif. Indeks Hang Seng di Hong Kong menguat 376,69 poin atau 1,44 persen ke level 26.608,48. Indeks Shanghai Composite juga mencatatkan kenaikan sebesar 44,85 poin atau 1,09 persen ke posisi 4.165,29. Di Singapura, indeks Strait Times menguat 22,11 poin atau 0,47 persen ke level 4.766,77.
Adapun bursa saham Jepang tidak melakukan aktivitas perdagangan karena indeks Nikkei libur dalam rangka memperingati hari libur nasional. Kondisi ini membuat volume perdagangan regional relatif lebih terfokus pada bursa Asia lainnya.
Ke depan, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati berbagai faktor eksternal dan internal yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan IHSG. Stabilitas ekonomi domestik, kebijakan pemerintah, serta perkembangan ekonomi global akan menjadi perhatian utama investor dalam menentukan strategi investasi selanjutnya.
Meski ditutup melemah, sejumlah analis menilai koreksi yang terjadi masih berada dalam batas wajar dan dapat menjadi peluang bagi investor jangka menengah dan panjang untuk melakukan akumulasi secara selektif, khususnya pada saham-saham berfundamental kuat.
Ikuti berita viral dari Redaksiku di Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber






