Redaksiku.com – Harga minyak acuan dunia mengalami penurunan tipis pada Kamis, 3 September 2026, setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa eskalasi serangan terbaru terhadap Iran tidak akan berlangsung lama. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar global terhadap potensi gangguan pasokan energi yang masif dari kawasan Timur Tengah.
Pergerakan pasar menunjukkan harga minyak Brent terkoreksi sebesar 0,4% ke level US$ 95,20 per barel pada perdagangan pagi di Singapura. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,3% menjadi US$ 90,76 per barel.
Ketidakpastian geopolitik sebelumnya telah mendorong harga minyak mentah melonjak hampir 60% sepanjang tahun ini. Produk olahan seperti diesel bahkan mencatatkan lonjakan harga yang jauh lebih tajam akibat kombinasi konflik regional dan perang yang melibatkan Rusia serta Ukraina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Situasi di kawasan tersebut memanas setelah Iran merespons serangan militer Washington dengan meluncurkan serangkaian drone dan rudal. Proyektil-proyektil tersebut diarahkan ke berbagai pangkalan militer Amerika Serikat di penjuru Timur Tengah, mengikuti pola eskalasi yang telah berlangsung selama enam bulan terakhir.
Dinamika Pasokan dan Pengawalan Selat Hormuz
Di tengah situasi konflik yang masih membara, pejabat Amerika Serikat memastikan bahwa arus pasokan energi krusial melalui Selat Hormuz tetap berjalan. Militer AS dilaporkan telah mengawal puluhan kapal tanker yang mengangkut jutaan barel minyak mentah keluar dari Teluk Persia.
Menurut laporan dari dua pejabat yang mengetahui langsung operasi tersebut, militer telah mengawal sekitar 40 kapal melintasi perairan strategis itu. Armada tersebut sukses membawa total 18 juta barel minyak menuju pasar internasional tanpa hambatan berarti.
Menteri Energi Chris Wright melaporkan bahwa sebanyak 17 juta barel minyak berhasil keluar dari jalur perairan tersebut pekan ini dengan rata-rata arus pengiriman mencapai 8 juta barel per hari.
Pengiriman minyak mentah yang konsisten ini membantu meredakan kepanikan di bursa energi global. Para pelaku pasar melihat bahwa jalur distribusi vital sejauh ini masih dapat diamankan oleh kekuatan maritim Amerika Serikat dan sekutunya.
Pandangan Pelaku Industri dan Data Persediaan
Kendati aliran minyak masih mengalir, para eksekutif energi dan analis pasar tetap memantau situasi dengan penuh kehati-hatian. Risiko geopolitik dinilai belum sepenuhnya surut karena belum ada tanda-tanda kedua negara kembali membuka meja perundingan damai.
CEO Chevron Corp., Mike Wirth, menyatakan bahwa pasar minyak global perlahan mulai mendekati titik keseimbangan baru. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa potensi eskalasi lanjutan antara Washington dan Teheran tetap menjadi faktor risiko utama yang dapat mengguncang pasar kapan saja.
Dari sisi fundamental domestik Amerika Serikat, laporan Energy Information Administration (EIA) menunjukkan adanya penurunan persediaan minyak mentah yang cukup signifikan. Stok cadangan nasional tercatat merosot hingga 4,5 juta barel pada pekan lalu, yang merupakan koreksi pertama sejak akhir bulan Juli.
Prospek Perundingan dan Sentimen Pasar
Analis pasar menilai bahwa arah pergerakan harga minyak dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada respons diplomatik lanjutan dari kedua belah pihak. Peluang pembicaraan damai dinilai masih terbuka meskipun kesepakatan sementara pada Juni lalu sempat mengalami kegagalan.
“Eskalasi terbaru seharusnya tetap memberikan dukungan terhadap pasar. Namun, perlu diingat bahwa AS dan Iran sama-sama sedang mencari jalan keluar dari situasi ini. Pembicaraan damai lebih lanjut dapat dengan cepat menekan harga,” ujar wakil presiden senior bidang perdagangan di BOK Financial Securities Inc., Dennis Kissler.
Di pusat penyimpanan utama di Cushing, Oklahoma, dinamika stok menunjukkan tren yang beragam. Persediaan minyak di fasilitas tersebut mengalami kenaikan tipis ke posisi 22,5 juta barel, sementara stok produk bensin secara nasional justru tercatat mengalami penurunan.
Pertanyaan Umum
Mengapa harga minyak dunia turun tipis?
Harga minyak turun setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa serangan terhadap Iran tidak akan berlangsung lama, ditambah jaminan keamanan jalur pasokan energi dari pejabat Amerika Serikat.
Berapa harga minyak Brent dan WTI saat ini?
Minyak Brent diperdagangkan pada level US$ 95,20 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi US$ 90,76 per barel.
Bagaimana kondisi pengiriman minyak di Selat Hormuz?
Arus pengiriman minyak tetap berjalan konsisten dengan pengawalan militer Amerika Serikat yang mengawal puluhan kapal tanker membawa jutaan barel minyak keluar dari Teluk Persia.
Ringkasan
Harga minyak turun setelah Donald Trump menyebut serangan Iran hanya berlangsung singkat dan pasokan energi di Selat Hormuz tetap aman.






