Redaksiku.com – Kenaikan harga bahan pokok memang selalu jadi isu yang bikin resah banyak orang. Kali ini, yang jadi sorotan adalah harga daging ayam yang dalam beberapa hari terakhir terus mengalami lonjakan cukup tinggi.
Padahal, ayam selama ini dikenal sebagai sumber protein dengan harga paling terjangkau dibandingkan daging sapi atau ikan laut tertentu.
Namun, kondisi terbaru bikin banyak orang mengeluh. Mulai dari pedagang kuliner, ibu rumah tangga, sampai anak-anak gym yang sehari-hari mengandalkan dada ayam sebagai menu utama, semua ikut merasa pusing dengan harga yang makin tidak bersahabat.
Harga Daging Ayam Tembus Rp 43 Ribu per Kilogram
Berdasarkan pantauan di Pasar Induk Cikurubuk pada Senin (15/9/2025), harga daging ayam dibanderol di kisaran Rp 42 ribu sampai Rp 43 ribu per kilogram. Angka ini jelas lebih tinggi dibanding harga normal sebelumnya yang berkisar Rp 36 ribu sampai Rp 38 ribu per kilogram.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pusing jadinya, daging ayam mahal, biasa beli Rp 36 ribu atau Rp 38 ribu, sekarang Rp 43 ribu. Melonjak sekali, ujar Lusi Nurasyiah, warga Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya.
Keluhan Lusi mewakili banyak konsumen yang kaget dengan kenaikan harga ini. Lonjakan yang hampir Rp 5 ribu per kilogram jelas sangat terasa, apalagi buat masyarakat menengah ke bawah yang sehari-hari mengandalkan ayam sebagai lauk utama.
Harga Dada Ayam Fillet Ikut Meroket
Tak hanya daging ayam utuh, bagian dada ayam yang biasanya jadi favorit para pecinta hidup sehat dan anak-anak gym juga mengalami kenaikan cukup signifikan.
Zeni Amar, warga Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, mengaku kaget ketika mendapati harga dada ayam fillet kini tembus Rp 52 ribu per kilogram.
Dada ayam sekarang Rp 52 ribu per kilogram, biasanya tak lebih dari Rp 45 ribu, ucap Zeni.
Ia menambahkan, Harga Rp 52 ribu itu untuk dada ayam fillet.
Buat mereka yang rutin mengonsumsi dada ayam sebagai sumber protein, kenaikan harga ini benar-benar bikin dompet menjerit. Tidak sedikit yang akhirnya mulai mencari alternatif sumber protein lain yang lebih murah, meskipun rasanya tidak sepraktis mengolah ayam.

Pedagang Kuliner Cari Cara untuk Bertahan
Kenaikan harga ayam juga langsung dirasakan oleh para pedagang kuliner, terutama warung nasi dan rumah makan kecil. Mereka berada di posisi serba sulit. Di satu sisi, modal belanja naik karena harga ayam mahal. Tapi di sisi lain, mereka juga nggak bisa serta-merta menaikkan harga jual karena takut pelanggan kabur.
Seorang pedagang nasi di Jalan Tarumanagara, Kota Tasikmalaya, mengaku harus menyiasati kondisi ini dengan cara mengecilkan porsi ayam goreng yang dijual.
Saya dapat harga Rp 42 ribu, mungkin karena sudah langganan. Kalau untuk pedagang repot, mau dinaikkan harga takut langganan protes. Mungkin potongannya agak dikecilkan dari biasanya, ungkapnya.
Langkah ini jadi pilihan realistis untuk tetap bertahan. Walau keuntungan berkurang, setidaknya hubungan dengan pelanggan bisa tetap terjaga.
Efek Domino Kenaikan Harga
Kenaikan harga ayam jelas nggak cuma berdampak pada konsumen rumah tangga atau pedagang kecil, tapi juga bisa menimbulkan efek domino ke sektor lain. Misalnya, harga menu makanan berbasis ayam di restoran atau katering sehat juga ikut terkerek naik.
Para pelaku usaha kuliner mau nggak mau harus memutar otak. Ada yang memilih mengurangi porsi, ada juga yang mengombinasikan ayam dengan bahan lain agar harga tetap terjangkau. Sementara bagi konsumen, kondisi ini bikin mereka harus lebih pintar dalam mengatur belanja harian.
Faktor Penyebab Kenaikan Harga Ayam
Kenaikan harga ayam biasanya dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari biaya pakan yang naik, distribusi yang terganggu, hingga meningkatnya permintaan. Meski dalam kasus kali ini belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait, banyak yang menduga bahwa harga pakan ternak dan biaya operasional peternakan ikut berperan.
Selain itu, momen tertentu seperti musim hajatan atau libur panjang juga sering memicu permintaan ayam meningkat, sehingga harga ikut terdorong naik.
Suara Warga yang Terimbas
Banyak netizen di media sosial juga ikut mengomentari kenaikan harga ayam ini. Beberapa mengaku harus mengurangi konsumsi ayam dan menggantinya dengan telur atau tempe sebagai sumber protein harian.
Ada juga yang membagikan tips hemat, seperti membeli ayam dalam jumlah besar lalu disimpan di freezer, atau berburu promo di supermarket. Meski begitu, tetap saja harga tinggi jadi beban tambahan bagi banyak orang.
Harapan Ada Solusi dari Pemerintah
Masyarakat berharap pemerintah bisa segera turun tangan menstabilkan harga ayam di pasaran. Bagaimanapun juga, ayam adalah bahan pangan yang sangat dibutuhkan semua kalangan.
Jika harga terus dibiarkan naik tanpa kendali, dampaknya bisa makin luas, terutama bagi pedagang kecil yang rawan gulung tikar. Intervensi berupa operasi pasar atau subsidi pakan mungkin bisa jadi salah satu solusi untuk menekan harga.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






