Fosil Makhluk Mitologi Nordik Ditemukan, Konon Tanda Akhir Zaman

7
0
Fosil Makhluk Mitologi Nordik Ditemukan, Konon Tanda Akhir Zaman

Dalam Eropa, terdapat kisah mitologi Nordik yang menceritakan tentang Jormungandr, makhluk buas yang dianggap bertanggung jawab atas kehancuran Sembilan Dunia. Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan fosil yang dianggap sebagai bukti keberadaannya.

Fosil tersebut diberi nama Jormungandr walhallaensis oleh para peneliti. Makhluk ini merupakan spesies dan genus baru dari mosasaur, yang hidup di masa Mesozoikum.

Menurut mitologi Nordik, Jormungandr adalah hewan buas terbesar yang berada di kedalaman laut dan ditakdirkan untuk mengakhiri Sembilan Dunia di akhir zaman. Saat ini, makhluk ini hanya menunggu waktu yang ditentukan untuk menyelesaikan misinya.

Fosil Makhluk Mitologi Nordik Ditemukan, Konon Tanda Akhir Zaman
Fosil Makhluk Mitologi Nordik Ditemukan, Konon Tanda Akhir Zaman

Dalam mitologi Nordik, Sembilan Dunia akan diakhiri oleh Jormungandr, sebuah hewan yang tinggal di kedalaman laut. Menariknya, para ilmuwan menemukan fosil yang diberi nama Jormungandr walhallaensis minggu lalu, yang diyakini sebagai fosil dari spesies dan genus baru mosasaur yang hidup pada zaman Mesozoikum.

Walhalla sendiri adalah surga dalam mitologi Nordik, dan kebetulan terdapat sebuah kota kecil bernama Walhalla di Dakota Utara yang dekat dengan lokasi penemuan fosil Jormungandr. Pada tahun 2015, fosil tengkorak dan rahang Jormungandr ditemukan di dalam bumi, namun setelah 8 tahun pengamatan, para peneliti masih memiliki banyak pertanyaan.

Meskipun fosil-fosil dinosaurus seringkali menjadi topik penelitian yang dipublikasikan setiap tahun, hal ini berbeda dengan mosasaur. Menurut Michael Caldwell, ahli mosasaur ternama, hanya sedikit orang di dunia yang melakukan penelitian pada fosil mosasaur.

Amelia Zietlow, penulis utama makalah tentang Jormungandr, menemukan bahwa Jormungandr menunjukkan ciri-ciri fisiologis yang mirip dengan beberapa genus mosasaur lainnya seperti mosasaurus dan clidastes.

Mosasaur sendiri dikenal sebagai predator reptil laut yang sudah ada sejak 100 juta tahun lalu dan memiliki bentuk yang mirip kadal dengan kemampuan berenang menggunakan sirip. Ada beberapa spesies mosasaur yang bisa tumbuh hingga 18 meter panjangnya.

Baca Juga:  Fenomena Romantis di Langit: Menakar Keindahan dan Misteri Bintang Jatuh

Namun, hasil analisis menggunakan perangkat lunak komputer mengungkapkan bahwa fosil Jormungandr memiliki perbedaan yang signifikan dengan fosil-fosil mosasaur yang sebelumnya ditemukan, yang menunjukkan bahwa fosil ini mungkin berasal dari spesies yang benar-benar baru. Bahkan, genusnya juga terbilang baru yang merupakan hasil persilangan antara clidastes dan mosasaurus.

Menurut Michael, fosil Jormungandr lebih menyerupai genus clidastes. Oleh karena itu, ia lebih mendukung pendapat bahwa fosil ini seharusnya dinamai Clidastes walhallaensis daripada Jormungandr walhallaensis.

Meskipun fosil Jormungandr hanya terdiri dari tengkorak dan rahang, para ilmuwan akan terus mencari jawaban tentang keberadaan binatang purba ini. Saat ini, ilmuwan baru dapat mengungkap sebagian kecil tentang kehidupan dan kematian makhluk ini.

Binatang ini, yang diperkirakan panjangnya mencapai 7 meter, memiliki gigi yang sesuai untuk memangsa ikan dan makhluk kecil di Western Interior Seaway. Jejak gigitan pada tulang belakangnya menunjukkan bahwa makhluk ini diserang tak lama sebelum kematiannya. Bahkan, ketiadaan fosil dari bagian tubuh lainnya mengindikasikan bahwa ia mungkin dimangsa oleh predator lain.

Saat ini, penelitian pada mosasaur masih terbilang langka meskipun fosilnya tersebar di seluruh dunia. Dengan harapan, Amelia berharap bahwa makalah yang ditulisnya dapat membangkitkan minat ilmuwan untuk lebih mempelajari tentang mosasaur.

Dilaporkan oleh American Museum of National History, baru-baru ini diidentifikasi spesies baru mosasaur yang mirip dengan komodo namun hidup di air. Jormungandr walhallaensis, spesies purba ini mendapat namanya dari Jǫrmungandr, ular laut dalam mitologi Nordik, dan Walhallaensis dari kota Walhalla di Dakota Utara, dekat dengan lokasi penemuan fosil pada tahun 2015.

Para peneliti menemukan fosil tengkorak, rahang, dan sejumlah tulang belakang yang hampir lengkap, dan melalui analisis ekstensif, menyimpulkan bahwa hewan ini adalah spesies baru dengan ciri-ciri dari dua genus mosasaur yang berbeda.

Baca Juga:  Gunung Berapi di Indonesia: Keajaiban dan Ancaman yang Terus Mengintai

Mosasaurus, reptil air purba ini memiliki panjang hingga 50 kaki (15,2 meter) dan hidup pada masa yang sama dengan Tyrannosaurus rex (T-rex). Sementara Clidastes adalah versi yang lebih kecil dan primitif dari mosasaurus.

Jormungandr walhallaensis diperkirakan memiliki panjang sekitar 24 kaki (7,3 meter) dan hidup sekitar 80 juta tahun lalu, sebelum masa kehidupan mosasaurus. Berbeda dengan komodo, Jormungandr memiliki sirip dan ekor mirip hiu. Bentuk tengkoraknya punya tonjolan yang menyerupai “alis marah”.

Sekelompok mosasaurus hidup sekitar 100-66 juta tahun lalu dan punah bersamaan dengan dinosaurus lainnya akibat serangan asteroid. Saat ini, para peneliti masih mencari informasi tentang evolusi dan kekerabatan hewan purba ini, apakah lebih dekat dengan ular atau biawak.

Menurut Zietlow dan koleganya, penemuan Jormungandr ini dapat menghubungkan spesies mosasaurus purba dengan versi “modern” yang hidup pada masa serangan asteroid. Studi ini menjadi langkah lebih dekat dalam memahami hubungan antar jenis mosasaurus yang berbeda-beda.

“Meningkatnya pemahaman kita terhadap evolusi mosasaurus ini membuka jalan baru untuk memahami hubungan antar spesies yang berbeda,” tambah Zietlow.

Ikuti berita terkini dari Redaksiku.com di Google News, klik di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *