Redaksiku.com – Menteri Kebudayaan Fadli Zon melakukan kunjungan diplomatik ke Kairo, Mesir, pada Minggu, 20 September 2026, untuk memperkuat pilar kerja sama pendidikan dan kebudayaan antara Indonesia dan Universitas Al-Azhar. Pertemuan strategis dengan Pelaksana Tugas Presiden Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Mahmoud Siddiq Hassan, ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan bilateral yang telah terjalin sejak lama.
Jejak Historis dan Kolaborasi Akademik
Hubungan antara Indonesia dan Mesir melalui jalur pendidikan Islam bukanlah hal baru. Fadli Zon menekankan bahwa pelajar dari Nusantara telah menuntut ilmu di Al-Azhar sejak abad ke-19, bahkan jauh sebelumnya, yang menciptakan ikatan emosional dan intelektual yang sangat kuat antar kedua bangsa.
Saat ini, kehadiran mahasiswa Indonesia di kampus prestisius tersebut mencapai angka yang signifikan. Tercatat ada sekitar 23 ribu mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di sana. Fadli menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan penuh yang diberikan oleh pihak kampus serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo dalam memfasilitasi kebutuhan para pelajar tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dukungan akademik terus berkembang dengan adanya sekitar 23 ribu mahasiswa Indonesia yang saat ini menimba ilmu di lingkungan Universitas Al-Azhar.
Dalam pertemuan tersebut, Prof. Mahmoud Siddiq Hassan memaparkan beberapa inisiatif baru untuk meningkatkan mobilitas akademisi. Al-Azhar berencana mengirimkan para pakar ke berbagai negara melalui program Visiting Professor, di mana seluruh aspek pembiayaan ditanggung sepenuhnya oleh pihak universitas. Beberapa institusi pendidikan tinggi di Indonesia, seperti Universitas Sebelas Maret dan UIN Jakarta, telah terlibat aktif dalam skema kerja sama ini.
Pengembangan Bahasa dan Budaya Indonesia
Salah satu poin krusial dalam diskusi tersebut adalah perkembangan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Al-Azhar. Program ini mendapat antusiasme yang tinggi dengan catatan 247 pendaftar, sebuah langkah strategis untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai jembatan kebudayaan di kawasan Timur Tengah.
Selain aspek bahasa, rencana pembangunan Indonesian House atau Rumah Indonesia menjadi sorotan utama. Gedung ini diproyeksikan sebagai pusat kebudayaan dan ruang belajar bagi mahasiswa yang mendalami bahasa Indonesia. Pihak Al-Azhar melalui Dekan Fakultas Bahasa dan Penerjemahan telah menyiapkan berbagai elemen pendukung, di antaranya:
- Penyediaan lahan strategis di lingkungan kampus.
- Penyusunan rancangan arsitektur yang merepresentasikan budaya Indonesia.
- Penyusunan konsep operasional untuk kegiatan mahasiswa.
Fadli Zon merespons rencana tersebut dengan meminta rincian lebih mendalam mengenai tahapan pelaksanaan serta mekanisme pengelolaannya. Pembangunan gedung ini diharapkan mampu menjadi bentuk nyata dari kolaborasi konkret antara pemerintah Indonesia dan otoritas Al-Azhar.
Rumah Indonesia akan berfungsi sebagai pusat pengenalan budaya sekaligus ruang kegiatan bagi mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia di Kairo.
Perluasan Riset dan Kerja Sama Bilateral
Selain pendidikan formal, Al-Azhar juga menawarkan peluang kerja sama di bidang riset dan publikasi. Hal ini mencakup pemanfaatan hasil-hasil penelitian serta buku-buku pendidikan yang diterbitkan di Indonesia untuk diintegrasikan dalam ekosistem akademik di Mesir.
Pastikan untuk terus memantau pembaruan kebijakan di KBRI Kairo terkait prosedur pertukaran akademik jika Anda berencana mengambil program Visiting Professor atau riset di Al-Azhar.
Pertemuan ini juga menjadi ajang pengingat mengenai kedekatan sejarah kedua negara. Mesir tercatat sebagai salah satu negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia, sebuah pondasi yang kemudian diperkuat melalui berbagai forum internasional seperti Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok. Sinergi yang terus dipupuk saat ini menegaskan komitmen kedua negara untuk terus menjaga hubungan yang dinamis di masa depan.
Seluruh rencana pembangunan Indonesian House masih dalam tahap perencanaan detail teknis dan anggaran oleh pihak terkait.
Pertanyaan Umum
Apa tujuan utama dari pertemuan Fadli Zon dengan pihak Universitas Al-Azhar?
Pertemuan tersebut bertujuan untuk mempererat kerja sama pendidikan dan kebudayaan, khususnya terkait pertukaran akademik, pengembangan Program Studi Bahasa Indonesia, serta rencana pembangunan fasilitas Rumah Indonesia di Kairo.
Bagaimana status kerja sama pendidikan saat ini antara kedua pihak?
Kerja sama berjalan sangat erat dengan adanya 23 ribu mahasiswa Indonesia di Al-Azhar dan keterlibatan universitas di Indonesia dalam program Visiting Professor yang didanai penuh oleh Al-Azhar.
Apakah program studi Bahasa Indonesia di Al-Azhar sudah berjalan?
Ya, program tersebut sudah dibuka dan mendapatkan respons positif dengan jumlah 247 pendaftar, yang kini sedang diperkuat dengan rencana penyediaan fasilitas fisik melalui proyek Rumah Indonesia.
Ringkasan
Menteri Kebudayaan Fadli Zon melakukan kunjungan diplomatik ke Universitas Al-Azhar, Kairo, pada 20 September 2026 untuk memperkuat kerja sama pendidikan dan kebudayaan antara Indonesia dan Mesir. Pertemuan dengan Pelaksana Tugas Presiden Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Mahmoud Siddiq Hassan, ini difokuskan pada penguatan sinergi akademik yang telah terjalin lama, mengingat terdapat sekitar 23 ribu mahasiswa Indonesia yang saat ini menempuh pendidikan di universitas tersebut.
Diskusi strategis ini menghasilkan rencana konkret pengembangan pusat kebudayaan “Indonesian House” di lingkungan kampus Al-Azhar sebagai ruang pendukung bagi mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia yang kini diminati oleh 247 pendaftar. Selain itu, kedua pihak menyepakati perluasan kolaborasi melalui program Visiting Professor yang didanai penuh oleh Al-Azhar serta integrasi riset dan publikasi ilmiah untuk mempererat hubungan bilateral yang telah terjalin sejak masa kemerdekaan.






