Novel : Cindur Mata (Part 9)

- Penulis

Sabtu, 26 Oktober 2024 - 19:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Cindur Mata (Part 9)

Kamu yakin?

Cukup yakin. Itu semacam rahasia yang diketahui oleh kami para lelaki.

Ya, mungkin penilaianmu ada benarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kenapa, sih, aku ini? Mulutku mengatakan setuju, tapi hatiku seperti tidak terlalu yakin. Setidaknya Aiden yang dulu aku kenal tidak seperti itu. Dia yang memperkenalkanku dengan pacar pertamaku. Sejauh yang aku tahu dia suport dengan siapa saja aku berkencan. Dia tidak pernah cemburu dengan lelaki yang mendekatiku. Tidak memiliki perasaan cemburu itu artinya memang tidak memiliki perasaan cinta, bukan?

Percayalah, Sayang. Kamu hanya tidak perlu terlalu dekat dengan Aris. Dia tidak akan membawa pengaruh baik untukmu.

Aku diam sejenak mengamati wajah suamiku. Ayolah, aku bukan remaja yang mudah terpengaruh dengan teman mainnya. Aku perempuan dewasa … dan seorang istri. Kamu meragukan kematangan pikirku?

Arka menatapku. Aku tidak bisa mengartikan tatapan itu. Aku hanya menduga kalau dia terlalu khawatir yang berlebihan.

Jangan sok posesif, deh. Kamu bukan orang seperti itu. Aku mengembuskan napas. Seharusnya, aku yang lebih khawatir. Terlebih setelah semua yang dikatakan Arsy.

Perkataan yang mana?

Anak.

Arka menarik tanganku untuk digenggam. Dengar. Dia hanya ingin menyakiti kita. Kalau dia tahu kamu terpengaruh, justru bakal bikin dia senang. Jadi, jangan terlalu dipikirkan.

Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya? Bagaimana kalau semua yang dikatakannya benar? Bagaimana kalau suatu saat Arka meninggalkanku karena semua kejadian ini? Banyak sekali pertanyaan yang pada akhirnya memenuhi kepalaku. Bolehkah aku menyalahkan Arsy?

Jangan khawatir.

Soal?

Arsy dan semua yang dikatakannya, kata Arka lirih. Bibirnya sangat dekat dengan telingaku. My heart is yours, Karin. Sesudah itu dia mengecup ringan telingaku.

Aku mengangguk dan tersenyum. Mata kami bertemu. Sebenarnya, ini bukan kali pertama Arka berbisik lalu mengecup bagian tubuhku yang tidak umum. Tapi, tetap saja aku merasa senang. Hatiku meleleh dan percik kelegaan perlahan menyebar dan menyelimuti hatiku.

Kenapa kamu selalu melakukan itu?

Arka memundurkan kepalanya.

Melakukan apa?

Berbisik di telingaku.

Arka tersenyum dan mendaratkan tatapnya di mataku. Entahlah, aku merasa itu bagian dari kesenangan.

Kesenangan? Sedikit tidak biasa, sih. Sebenarnya kamu bisa kan ngomong kayak biasanya saja. Aku juga pasti bisa mendengarnya.

Karena … aku cuma pingin kamu yang dengar. Ini semacam, privasi. Arka menunjuk dirinya sendiri dan aku bergantian.

Aku mengulum senyum, sedikit terpana dengan kejujurannya.

Apa aku akan mendapat hadiah ciuman?

Tidak di sini.

Oke, mau di mana?

Arka mendadak mengedarkan pandangan. Di sana?

Aku mengikuti arah pandang Arka. Ruang ganti?

Mau mencobanya?

Aku membelalakkan mata. Aku tahu itu ruang ganti yang di dalamnya juga  ada kamar mandi. Biasanya dipakai untuk ganti baju dan membersihkan badan setelah berenang. Di sana juga ada beberapa rak yang berisi handuk bersih, berbagai minyak, dan krim wangi, juga meja panjang yang biasa di pakai untuk pijat. Tentu saja ibu memperkerjakan orang yang ahli untuk itu.

Jangan gila! Di sini banyak sekali orang. Kita tidak perlu melakukan itu. Kita ini suami istri jangan bertingkah seperti orang pacaran yang mencuri kesempatan.

Biar kamu tahu bagaimana senangnya melakukan itu di tengah adrenalin yang terpompa hebat.

Belum sempat kami melakukan ide gila Arka, Sifa memanggil nama kami. Aku mencari kalian ke mana-mana.

Ada apa? tanyaku merasa tidak enak.

Ah, tidak. Hanya ibu mencarimu, Mas. Dan, tentu kamu juga, Mbak. Kalian kan satu paket.

Kami mengangguk dan kemudian mengikuti langkah Sifa. Dia membawa kami ke tenda kecil yang berada di bagian kiri panggung dan lebih tertutup. Ternyata di sana sudah terisi anak-anak yang seluruhnya memakai pakaian putih. Ibu meminta Arka ikut mengambil bagian dalam pembagian bingkisan anak-anak itu.

Sementara di luar masih sangat ramai suara musik di tengah obrolan para tamu, di dalam sini sedikit lebih tenang karena semua hanyut dalam rasa syukur.

Setelah semuanya selesai, anak-anak itu digiring ke luar lewat pintu belakang. Ada jalan khusus yang disediakan untuk mereka. Dari penjelasan Ibu, aku baru tahu kalau semua itu dilakukan untuk privasi anak-anak yang diberi sumbangan. Sedangkan, acara simbolis yang dilakukan dipanggung dan disaksikan seluruh yang hadir berupa sumbangan yang diberikan kepada Yayasan Penderita Kanker Anak Indonesia dan YPAC.

Acara malam itu bisa dikatakan sukses, minus kejadian yang menimpaku terkait Arsy, tidak ada yang tidak senang. Ketika acara akhirnya selesai, Arka mengajakku masuk menyusul keluarganya yang telah lebih dulu meninggalkan tempat acara. Kami semua duduk di ruang keluarga menikmati teh hangat dan bertukar cerita sebentar tentang malam ini.

Aku pikir aku akan kesulitan melewati acara ini mengingat kondisiku, tapi berkat Arka aku bisa melewati semua dengan perasaan bahagia. Aku tadi juga sempat bertemu dengan Sesil. Dia tidak seburuk yang aku bayangkan. Setidaknya dia lebih ramah dibandingkan Arsy.

Waktu sudah menunjuk lewat dari jam satu malam ketika kami semua memutuskan untuk istirahat. Arka menggenggam tanganku dan tidak henti mengecupnya. Di sela kecupan itu dia mengucapkan betapa dia sangat mencintaiku. Aku membalasnya dengan balik mengucapkan sayang dan mengecup pipinya saat dia membuka pintu kamar untuk kami.

Sekarang kita punya waktu pribadi. Aku akan membantumu melepas pakaian selagi kamu menghapus riasan. Arka berjalan ke arahku dan langsung mengarahkan tangannya ke ritsleting. Aku membiarkannya membantuku mengganti pakaian tanpa melakukan apa pun. Jelas aku tidak bisa menghapus riasanku saat dia sibuk dengan pakaianku.

Setengah jam kemudian aku keluar dari kamar mandi dan telah siap untuk tidur. Arka duduk bersandar di tempat tidur sambil membaca buku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat pemandangan seperti ini. Aku sampai terpaku dan melihatnya untuk beberapa saat.

Apa? tanya Arka saat mendongak dan melempar senyum.

Aku baru ingat kalau melihatmu membaca di tempat tidur itu pemandangan yang sangat indah.

Melihatmu melakukan apa pun di tempat tidur menjadi pemandangan yang paling indah. Arka menyibak selimut dan memintaku bergabung dengannya. Aku tidak menolak. Setelah aku berbaring di sampingnya, Arka menutup buku dan meletakkannya di meja samping. Setelah mematikan lampu dia menarikku ke dalam dekapannya.

Aku tadi minta maaf ke Ibu soal kehamilanku.

Ibu bilang apa?

Katanya itu kehendak-Nya. Ibu berharap aku bisa segera pulih agar bisa hamil lagi.

Apa kamu siap?

Untuk? Aku memutar kepala tanpa mengubah posisi tidur.

Hamil lagi. Arka mengecup pelipisku.

Aku belum yakin. Tapi, sepertinya sekarang aku juga menginginkannya. Aku tidak mau Arsy mengambil peluang atas semua ini.

Sssshhh. Arka mengeratkan pelukannya. Jangan pikirkan tentang dia, yang penting itu kondisi kamu.

Apa kita perlu berkonsultasi dulu ke dokter?

Sebelum memutuskan hamil? Aku mengangguk. Itu bukan ide yang buruk. Setidaknya kita bisa mencegah kondisi yang kemarin. Aku sekali lagi mengangguk.

Aku juga ingin minta maaf padamu, Ka, kataku dengan memutar tubuh ke arahnya.

Sama-sama. Aku juga minta maaf. Ini ujian untuk kita. Aku pikir kita bisa melewati semuanya dan memulai lagi dengan lebih baik. Arka tersenyum melihatku. Aku punya kabar baik untukmu.

Aku mengerutkan kening. Apa?

Aku tidak akan kembali ke Jakarta. Kantor di sana aku serahkan ke Fio sepenuhnya. Aku pikir aku perlu memberi kesempatan anak itu untuk menunjukkan kemampuan. Sementara Fio di Jakarta, aku yang akan mengurus kantor di sini.

Kita tidak lagi LDR?

Arka menggeleng dan tersenyum. Aku menghambur ke pelukannya.

Thanks, kataku saat menenggelamkan wajah di dadanya. Aku bisa merasakannya, sekalipun tidak melihat Arka tersenyum.

Keesokan paginya aku dan Arka memutuskan untuk pulang ke rumah kami. Aku mengatakan kondisiku sudah jauh lebih baik. Beberapa hari ini aku sangat rajin meminum obat dan apa pun yang disodorkan padaku. Asal dikatakan itu untuk kesembuhan lukaku, aku tidak ragu menelannya. Aku sampai muak melihat telur karena hampir satu kilo aku habiskan dalam sehari dan ini sudah berjalan seminggu lebih.

Sebenarnya Ibu masih memintaku untuk tinggal, tapi aku berhasil meyakinkannya kalau aku benar-benar sudah sehat. Ibu hanya memintaku untuk tidak banyak melakukan pekerjaan berat yang melibatkan fisik persis nasihat Mama tempo hari saat menjengukku. Ibu juga berjanji akan sering-sering mengunjungiku. Arka terlihat bahagia. Senyum puas di wajahnya terus terukir saat kami berada di mobil menuju rumah kami.

Apa aku sudah boleh menengok Dazzling Queen Senin besok?

Tentu. Tapi, ingat pesan Ibu.

Iya, aku hanya akan duduk dan membaca dokumen, lalu menelepon para klien. Aku juga ingin ketemu Nana dan menceritakan tentang Sesil dan Arsy yang super jutek itu. Untuk Aiden aku akan menceritakan kalau aku bertemu teman lama dan kemungkinan Dazzling Queen bakal dapat job darinya.

Bagus. Lagi pula aku juga tidak ingin kamu kesepian. Senin aku juga akan melihat kantor dan mungkin akan melakukan banyak hal. Fio bilang ada banyak klien yang harus diurus dalam waktu dekat ini. Setelah bulan ini bakal banyak sekali orang menikah, aku harus segera membereskan foto-foto prewedding sebelum akhir bulan ini.

Kami sampai rumah tidak lama setelah itu. Aku turun dan langsung membuka pintu, sementara Arka mengeluarkan tas kami dari bagasi mobil. Aku merindukan rumah ini. Rasanya sudah lama sekali aku meninggalkannya. Pasti Mbak Siti rutin datang, rumahnya tampak rapi seperti biasanya.

Aku memberi Mbak Siti akses rumah ini agar bisa membersihkan rumah selagi kita tidak pulang. Arka meletakkan tas kami di sudut ruang tamu. Apa kamu lapar?

Aku tadi hanya makan sepotong roti, sepertinya perutku memang sudah lapar.

Kalau begitu aku pesan makanan dulu. Arka mengambil ponsel dari saku dan berbicara untuk beberapa saat.

Kamu pesan apa? tanyaku karena tidak mendengar Arka mengatakan menu makanan yang dipesannya.

Chinese food?

Aku mengangguk. Arka bukan penyuka makanan pedas, sangat berbeda denganku. Jadi menu itu merupakan pilihan yang tepat untuk kami nikmati berdua. Aku berbaring di sofa dengan kaki tertekuk. Arka menyusul dan mengambil duduk di dekat kakiku. Dia masih sibuk dengan ponselnya. Aku memilih menyalakan televisi, menyetel channel RED di TV kabel yang memutar film-film Mandarin, Korea, atau Jepang.

Aku tidak tahu kamu masih suka nonton channel ini.

Tentu saja masih. Filmnya bagus-bagus. Kebanyakan roman dan drama keluarga.

Kamu banget, ya.

Aku mendelik dan mendorong kaki Arka menggunakan ujung kakiku. Aku pura-pura ngambek. Apa maksudnya? Aku, kan, nggak pernah maksa kamu ikut nonton.

Arka tersenyum dan menahan kakiku di pangkuannya. Jemari Arka membelai kakiku dan melakukan pijatan kecil. Mulai dari betis, kemudian turun ke pergelangan, hingga ke telapak kaki. Jemarinya yang besar menelusuri setiap jengkal kakiku dan menekannya pada titik-titik yang tepat. Aku sangat senang Arka melakukan ini. Aku selalu tergoda untuk memejamkan mata karena keenakan. Jarinya juga menilik di sela tulang kaki dengan memberi penekanan yang sangat pas hingga berakhir pada jari-jari kakiku.

Senang deh lihat kamu sudah bisa ketawa kayak gitu. Coba sebulan lalu ketawa kayak gini.

Aku ngeselin, ya?

Nggak, sih. Hanya bikin orang jantungan.

Aku memberengut dan membuang pandangan kembali ke televisi. Tidak lama kemudian bel berbunyi. Delivery makanan telah sampai. Arka beranjak untuk membuka pintu. Setelah membayarnya Arka menghidangkan makanan itu di meja ruang tengah, tempat kami berada saat ini.

Belum sempat makanan itu kami santap ponsel Arka berbunyi. Dia berjalan sedikit menjauh untuk mengangkatnya. Aku hanya mendengar sekilas dia menyebut nama Fio.

Nggak. Nggak. Aku udah di rumah.

Aku sedikit mendongak. Arka berjalan ke arahku dan sudah mematikan ponselnya.

Fio, izin untuk Senin aja berangkat ke Jakarta. Katanya ada acara keluarga.

Fio ini cewek tomboi yang menurutku baik banget. Kami tidak terlalu dekat, tapi dia tidak pernah canggung saat kami hanya berdua. Dia senang bercerita tentang apa saja. Saat bersamanya, aku lebih banyak menjadi pendengar.

Segini cukup?

Arka ternyata sudah mengambilkanku makanan. Cukup.

Fio itu tidak punya cowok, ya? Aku bertanya saat mulai menyantap makanan yang baru kami pesan : nasi goreng dan udang telur asin.

Aku nggak tahu, Karin, jawab Arka di tengah suapannya. Memangnya kenapa?

Nggak apa-apa. Hanya dia kayak nggak ada beban pergi ke mana-mana sendiri.

Dia memang begitu dari kuliah dulu.

Ah, ya, aku baru ingat. Fio teman kuliah Arka. Mereka dulu pernah sama-sama tergabung dalam mapala dan sama-sama mencintai fotografi. Kesamaan itulah yang akhirnya membuat Arka mengajak Fio gabung di perusahaannya.

Kami menghabiskan makan siang diiringi suara televisi. Arka tidak tertarik menonton. Sembari makan, dia malah sibuk mengotak-atik ponselnya. Setelah selesai makan pun dia masih memelototi ponselnya dan sekarang malah menyalakan laptop. Beberapa kali dia mengangkat telepon. Dari yang aku dengar semuanya masalah pekerjaannya.

Arka telah kembali ke mode awalnya. Sebulan ini dia mengabaikan semua pekerjaannya dan memilih mengurusku.

Kamu sudah minum obat? Arka tiba-tiba bertanya saat aku mengetik di ponsel. Aku baru saja berbalas pesan dengan Aiden. Kami sedang merencanakan janji temu. Katanya, temannya yang mau menikah itu tidak sabar untuk segera menemuiku.

Sudah, jawabku dengan jemari masih sibuk mengetik.

Lagi ngobrol sama siapa?

Aku melirik Arka dan terbersit keinginan untuk menggodanya.

Mau tahu aja atau mau tahu banget?

Mau tahu banget.

Ih, yang jelas ini bukan Arsy, sih.”

Arka mengerutkan kening. Tidak lucu, Karin. Arka mendelik. Siapa?

Cemburu, ya?

Iya, jawab Arka terang-terangan membuat pipiku menghangat. Siapa? Kayaknya seru banget ngobrolnya.

Aku tersenyum mendengar jawaban Arka sebum akhirnya aku memberitahunya juga. Aiden.

 

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Dinas Pemadam Kebakaran Bondowoso menghadapi krisis armada yang menghambat penanganan darurat di wilayah yang luas.

Kebebasan Pers

Damkar Bondowoso Krisis Armada dan Butuh Tambahan Mobil Pemadam

Jumat, 18 Sep 2026 - 16:31 WIB

Porsi kredit UMKM terhadap total kredit perbankan nasional dilaporkan terus mengalami penurunan hingga periode April 2026.

Viral

Tren Penurunan Porsi Kredit UMKM Perbankan 2023-2026

Jumat, 18 Sep 2026 - 16:27 WIB

error: Content is protected !!