Novel : Cindur Mata (Part 8)

- Penulis

Jumat, 25 Oktober 2024 - 16:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Cindur Mata (Part 8)

Hari ini terlihat indah, seperti yang aku pikirkan. Tenda super besar telah berdiri dengan dekorasi berwarna merah dan emas. Aku pikir ini terlalu megah untuk acara tasyakuran biasa, tapi itu hanya pikiran konyolku. Jelas mertuaku memiliki pertimbangannya sendiri.

Saat aku mengedarkan pandangan, ada banyak sekali meja bundar dengan kain putih yang membungkusnya, kursi hitam dengan ornamen emas di ujung atasnya, dan lampu kristal lagi-lagi berornamen emas terlihat di beberapa titik menggantung di langit-langit. Ruangan dipenuhi dengan suara musik Balasyik mengalunkan lagu-lagu religi. Mungkin ada lebih dari seribu tamu yang hadir, aku tidak bisa menghitung secara pasti. Ada sangat banyak orang yang memenuhi seluruh meja. Dari semua tamu yang hadir, aku prediksi semuanya orang berpengaruh di kota ini. Sejak dulu sampai sekarang, aku masih berpikir ini sangat aneh. Bagaimana bisa orang yang bekerja sebagai pemilik toko kain memiliki lingkungan pergaulan seluas mertuaku. Akan tetapi tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia bisnis, kan?

Sebenarnya aku sedang mencari Arka. Tadi kami berpisah karena aku harus ke kamar mandi, sedang Arka harus segera membaur dengan para tamu. Dalam kondisiku saat ini ada rasa enggan menghadiri pesta besar, mungkin itulah yang menyebabkan aku merasa kantung kemihku selalu penuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Arka! Aku mencarimu ke mana-mana. Kangen tahu.

Aku membeku di tempatku berdiri. Beberapa detik lalu aku menemukan posisi Arka. Dia tengah membelakangiku dan di depannya berdiri seorang perempuan. Dandanan perempuan itu terlalu berlebihan untuk ukuran acara hari ini. Memang, sih, dia memakai kerudung untuk menutupi sebagian rambutnya, tapi gamis atau lebih tepatnya gaun yang dipakainya terlalu berlekuk. Aku bukan orang yang taat beragama, tapi melihat perempuan yang berdiri di depan Arka, membuatku risi sendiri.

Eh, tunggu. Apa yang dibilang perempuan tadi? Aku mengerutkan kening berusaha menajamkan pendengaran. Saat musik terdengar dan suara perempuan itu sedikit pelan, membuatku kesulitan untuk mencuri dengar.

Ada perlu apa mencariku? Aku tidak pernah berpikir kalau ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.

Untuk apa, sih, sikap ketusmu itu? Kita sudah sama-sama dewasa, berhentilah bersikap drama.

Apa sebenarnya maksudmu? tuntut Arka.

Aku sudah melangkah mendekati mereka. Saat jarak kami tinggal beberapa langkah lagi, terpaksa aku berhenti. Hatiku panas. Aku yakin perempuan itu Arsy, mantan Arka. Benar-benar perempuan nekat. Dia seperti perempuan yang kehilangan urat malunya. Jelas ini bukan rasa cemburu yang berlebihan. Aku bisa mendengar sendiri bagaimana Arsy berusaha merayu Arka dan aku sangat yakin Arsy sudah tahu kalau Arka lelaki beristri.

Arka ayolah. Aku tahu kamu tidak bahagia dengan istrimu. Bagaimana bisa kamu mempertahankan pernikahan dengan perempuan yang tidak menginginkan anak?

Kamu sudah gila! Seberapa bahagia aku dengan istriku, itu jelas bukan urusanmu.

Jelas akan menjadi urusanku. Aku tahu Tante Ayu sangat menginginkan cucu darimu, Arka. Aku bisa melihat kesedihan Tante Ayu saat menceritakan keadaan calon anakmu. Arsy maju selangkah. Tangannya mengusap lengan Arka. Keluargaku punya banyak uang. Itu artinya aku bisa melakukan apa pun. Mengandung anakmu bukan hal yang sulit. Asal kamu mau kembali denganku.

Jangan mimpi. Kalau pun di dunia tinggal kamu satu-satunya perempuan, jelas aku tetap tidak memilih kamu untuk aku nikahi. Sudah cukup bualanmu. Arka menepis tangan Arsy.

Terserahmulah. Jangan pernah berpikir kalau aku tidak memperingatkanmu. Jangan menyesal saat aku sudah di luar jangkauanmu.

Kamu tahu pasti, aku bukan orang seperti itu.”

“Aku mengatakan ini karena aku sangat tahu seberapa besar rasa cemburumu.”

“Kalau kamu mau tahu, sebenarnya aku sangat ingin menyingkirkanmu dari hidupku. Rasanya butuh kerja keras, karena kamu seperti lintah yang menempel di kulit. Aku tidak tahu lagi bagaimana bisa membuatmu paham kalau aku sangat tidak menginginkanmu. Kamu mungkin harus sedikit mengosongkan ruang di otakmu untuk diisi tentang hal-hal bermanfaat. Tidak melulu tentang obsesi untuk memilikiku. Lagi pula dari mana kamu berpikir kalau istriku tidak menginginkan anak?

Itu bukan hal yang sulit. Perempuan kalau menginginkan kehamilan akan sangat antusias dengan kabar kehamilannya. Minimal dia akan menunjukkan rasa senangnya bukannya terus mengeluh. Dari cerita saja aku bisa menilai kalau dia membenci anakmu. Apa kamu tidak berpikir mungkin ada sesuatu yang disembunyikan dari masa lalunya?

Tidak ada yang mudah untuk sesuatu yang baru pertama kali dialami. Emosi setiap perempuan pun berbeda. Dan, bagaimana istriku, hanya aku yang memahami, tidak denganmu. Kamu tidak perlu mengingatkanku tentang sesuatu dari masa lalunya karena di antara kami tidak ada rahasia.

Omong-omong kamu ke sini untuk mendengarkan ceramah ustaz, kan? Sebaiknya segera kamu mencari tempat yang paling dekat dengan panggung. Agar otak kosongmu bisa segera terisi dengan kebaikan.

Kamu tidak bisa mengusirku. Santunan ini juga melibatkan sumbangan dari keluargaku, Arka.

Aku ucapkan terima kasih untuk sumbangan yang keluargamu berikan. Tapi, perlu kamu tahu, sekarang aku memiliki istri yang sangat ingin aku bahagiakan. Dia satu-satunya perempuan yang aku inginkan.

Sebelum Arka menyelesaikan kalimat terakhirnya, aku merasa seperti orang bodoh. Berada di tengah obrolan mereka, tapi tidak dianggap sama sekali. Namun, setelah Arka menyinggung tentang keberadaanku, ada kelegaan yang mengusir rasa panas hatiku. Saat itulah Arsy baru menyadari keberadaanku yang sebenarnya sudah sangat dekat dengan mereka.

Dia? tanya Arsy dengan sorot mata merendahkan. Dia menilaiku dari atas sampai bawah dan kembali ke atas lagi. Dengan semua outfit imitasi ini?

Kamu baru menilaiku? Kalau kamu mau tahu, kamulah yang imitasi. Sudah di tolak masih saja merayu. Apa di luar sana sudah kehabisan stok pria lajang?

Arsy membuka mulutnya, tapi tidak mengatakan apa pun.

Kalau kamu ingin menghancurkan seseorang. Kamu salah memilih sasaran, Mbak. Aku tidak lagi ingin menahan diri.

Dengar itu, Arka? teriak Arsy.

Ya, aku mendengarnya, jawab Arka dengan menatapku. Aku bisa melihat ada rasa geli yang terpancar dari tatapannya. Kamu tahu sekarang betapa hebat dan pintarnya perempuan yang aku pilih. Jadi Arsy, sebaiknya kamu segera pergi dari hadapan kami karena tausiah akan segera dimulai. Kamu tidak ingin melewatkannya, bukan?

Kami tidak lagi memedulikan kehadiran Arsy. Arka memeluk pinggangku dan membimbingku ke salah satu meja yang kebetulan telah ditinggalkan pemiliknya.

Bagaimana keadaanmu?

Kalau kamu menanyakan bekas operasiku, aku hampir melupakan sakitnya karena terlalu sibuk meredam panas hatiku.

Arka menatapku, ada penyesalan di sana. Andai aku tahu, aku akan menyingkirkannya lebih cepat dari yang seharusnya.

Sudahlah. Setidaknya aku tahu orang yang harus aku jauhi.

Karin. Aku minta maaf untuk semuanya. Tidak seharusnya kamu mendengar bualan itu. Dan, meski aku tahu kalau mungkin aku bukan suami yang baik untukmu dan mungkin kamu berhak mendapat yang lebih baik, tapi aku tidak peduli. Dengan semua kekuranganku dan rasa egois yang aku miliki, aku menginginkanmu dan sangat ingin membahagiakanmu.

Aku tersipu. Ada rasa panas menjalar di wajahku. Tidak pernah aku merasakan senang seperti saat ini ketika Arka merayuku. Mungkin ini efek dari kegilaan yang baru saja dilakukan Arsy. Ah, semoga saja ini bukan berarti aku akan kehilangan lelakiku. Aku mengetuk kepala dan meja di depanku bergantian.

Ada apa?

Ah, tidak. Aku hanya berpikir tentang sesuatu yang mengerikan.

Seperti kita akan mencoba rasanya bercinta di tengah pesta?

Arka! Aku tidak pernah memikirkan hal semacam itu. Dasar mesum.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru