Hari ini terlihat indah, seperti yang aku pikirkan. Tenda super besar telah berdiri dengan dekorasi berwarna merah dan emas. Aku pikir ini terlalu megah untuk acara tasyakuran biasa, tapi itu hanya pikiran konyolku. Jelas mertuaku memiliki pertimbangannya sendiri.
Saat aku mengedarkan pandangan, ada banyak sekali meja bundar dengan kain putih yang membungkusnya, kursi hitam dengan ornamen emas di ujung atasnya, dan lampu kristal lagi-lagi berornamen emas terlihat di beberapa titik menggantung di langit-langit. Ruangan dipenuhi dengan suara musik Balasyik mengalunkan lagu-lagu religi. Mungkin ada lebih dari seribu tamu yang hadir, aku tidak bisa menghitung secara pasti. Ada sangat banyak orang yang memenuhi seluruh meja. Dari semua tamu yang hadir, aku prediksi semuanya orang berpengaruh di kota ini. Sejak dulu sampai sekarang, aku masih berpikir ini sangat aneh. Bagaimana bisa orang yang bekerja sebagai pemilik toko kain memiliki lingkungan pergaulan seluas mertuaku. Akan tetapi tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia bisnis, kan?
Sebenarnya aku sedang mencari Arka. Tadi kami berpisah karena aku harus ke kamar mandi, sedang Arka harus segera membaur dengan para tamu. Dalam kondisiku saat ini ada rasa enggan menghadiri pesta besar, mungkin itulah yang menyebabkan aku merasa kantung kemihku selalu penuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Arka! Aku mencarimu ke mana-mana. Kangen tahu.
Aku membeku di tempatku berdiri. Beberapa detik lalu aku menemukan posisi Arka. Dia tengah membelakangiku dan di depannya berdiri seorang perempuan. Dandanan perempuan itu terlalu berlebihan untuk ukuran acara hari ini. Memang, sih, dia memakai kerudung untuk menutupi sebagian rambutnya, tapi gamis atau lebih tepatnya gaun yang dipakainya terlalu berlekuk. Aku bukan orang yang taat beragama, tapi melihat perempuan yang berdiri di depan Arka, membuatku risi sendiri.
Eh, tunggu. Apa yang dibilang perempuan tadi? Aku mengerutkan kening berusaha menajamkan pendengaran. Saat musik terdengar dan suara perempuan itu sedikit pelan, membuatku kesulitan untuk mencuri dengar.
Ada perlu apa mencariku? Aku tidak pernah berpikir kalau ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.
Untuk apa, sih, sikap ketusmu itu? Kita sudah sama-sama dewasa, berhentilah bersikap drama.
Apa sebenarnya maksudmu? tuntut Arka.
Aku sudah melangkah mendekati mereka. Saat jarak kami tinggal beberapa langkah lagi, terpaksa aku berhenti. Hatiku panas. Aku yakin perempuan itu Arsy, mantan Arka. Benar-benar perempuan nekat. Dia seperti perempuan yang kehilangan urat malunya. Jelas ini bukan rasa cemburu yang berlebihan. Aku bisa mendengar sendiri bagaimana Arsy berusaha merayu Arka dan aku sangat yakin Arsy sudah tahu kalau Arka lelaki beristri.
Arka ayolah. Aku tahu kamu tidak bahagia dengan istrimu. Bagaimana bisa kamu mempertahankan pernikahan dengan perempuan yang tidak menginginkan anak?
Kamu sudah gila! Seberapa bahagia aku dengan istriku, itu jelas bukan urusanmu.
Jelas akan menjadi urusanku. Aku tahu Tante Ayu sangat menginginkan cucu darimu, Arka. Aku bisa melihat kesedihan Tante Ayu saat menceritakan keadaan calon anakmu. Arsy maju selangkah. Tangannya mengusap lengan Arka. Keluargaku punya banyak uang. Itu artinya aku bisa melakukan apa pun. Mengandung anakmu bukan hal yang sulit. Asal kamu mau kembali denganku.
Jangan mimpi. Kalau pun di dunia tinggal kamu satu-satunya perempuan, jelas aku tetap tidak memilih kamu untuk aku nikahi. Sudah cukup bualanmu. Arka menepis tangan Arsy.
Terserahmulah. Jangan pernah berpikir kalau aku tidak memperingatkanmu. Jangan menyesal saat aku sudah di luar jangkauanmu.
Kamu tahu pasti, aku bukan orang seperti itu.”
“Aku mengatakan ini karena aku sangat tahu seberapa besar rasa cemburumu.”
“Kalau kamu mau tahu, sebenarnya aku sangat ingin menyingkirkanmu dari hidupku. Rasanya butuh kerja keras, karena kamu seperti lintah yang menempel di kulit. Aku tidak tahu lagi bagaimana bisa membuatmu paham kalau aku sangat tidak menginginkanmu. Kamu mungkin harus sedikit mengosongkan ruang di otakmu untuk diisi tentang hal-hal bermanfaat. Tidak melulu tentang obsesi untuk memilikiku. Lagi pula dari mana kamu berpikir kalau istriku tidak menginginkan anak?
Itu bukan hal yang sulit. Perempuan kalau menginginkan kehamilan akan sangat antusias dengan kabar kehamilannya. Minimal dia akan menunjukkan rasa senangnya bukannya terus mengeluh. Dari cerita saja aku bisa menilai kalau dia membenci anakmu. Apa kamu tidak berpikir mungkin ada sesuatu yang disembunyikan dari masa lalunya?
Tidak ada yang mudah untuk sesuatu yang baru pertama kali dialami. Emosi setiap perempuan pun berbeda. Dan, bagaimana istriku, hanya aku yang memahami, tidak denganmu. Kamu tidak perlu mengingatkanku tentang sesuatu dari masa lalunya karena di antara kami tidak ada rahasia.
Omong-omong kamu ke sini untuk mendengarkan ceramah ustaz, kan? Sebaiknya segera kamu mencari tempat yang paling dekat dengan panggung. Agar otak kosongmu bisa segera terisi dengan kebaikan.
Kamu tidak bisa mengusirku. Santunan ini juga melibatkan sumbangan dari keluargaku, Arka.
Aku ucapkan terima kasih untuk sumbangan yang keluargamu berikan. Tapi, perlu kamu tahu, sekarang aku memiliki istri yang sangat ingin aku bahagiakan. Dia satu-satunya perempuan yang aku inginkan.
Sebelum Arka menyelesaikan kalimat terakhirnya, aku merasa seperti orang bodoh. Berada di tengah obrolan mereka, tapi tidak dianggap sama sekali. Namun, setelah Arka menyinggung tentang keberadaanku, ada kelegaan yang mengusir rasa panas hatiku. Saat itulah Arsy baru menyadari keberadaanku yang sebenarnya sudah sangat dekat dengan mereka.
Dia? tanya Arsy dengan sorot mata merendahkan. Dia menilaiku dari atas sampai bawah dan kembali ke atas lagi. Dengan semua outfit imitasi ini?
Kamu baru menilaiku? Kalau kamu mau tahu, kamulah yang imitasi. Sudah di tolak masih saja merayu. Apa di luar sana sudah kehabisan stok pria lajang?
Arsy membuka mulutnya, tapi tidak mengatakan apa pun.
Kalau kamu ingin menghancurkan seseorang. Kamu salah memilih sasaran, Mbak. Aku tidak lagi ingin menahan diri.
Dengar itu, Arka? teriak Arsy.
Ya, aku mendengarnya, jawab Arka dengan menatapku. Aku bisa melihat ada rasa geli yang terpancar dari tatapannya. Kamu tahu sekarang betapa hebat dan pintarnya perempuan yang aku pilih. Jadi Arsy, sebaiknya kamu segera pergi dari hadapan kami karena tausiah akan segera dimulai. Kamu tidak ingin melewatkannya, bukan?
Kami tidak lagi memedulikan kehadiran Arsy. Arka memeluk pinggangku dan membimbingku ke salah satu meja yang kebetulan telah ditinggalkan pemiliknya.
Bagaimana keadaanmu?
Kalau kamu menanyakan bekas operasiku, aku hampir melupakan sakitnya karena terlalu sibuk meredam panas hatiku.
Arka menatapku, ada penyesalan di sana. Andai aku tahu, aku akan menyingkirkannya lebih cepat dari yang seharusnya.
Sudahlah. Setidaknya aku tahu orang yang harus aku jauhi.
Karin. Aku minta maaf untuk semuanya. Tidak seharusnya kamu mendengar bualan itu. Dan, meski aku tahu kalau mungkin aku bukan suami yang baik untukmu dan mungkin kamu berhak mendapat yang lebih baik, tapi aku tidak peduli. Dengan semua kekuranganku dan rasa egois yang aku miliki, aku menginginkanmu dan sangat ingin membahagiakanmu.
Aku tersipu. Ada rasa panas menjalar di wajahku. Tidak pernah aku merasakan senang seperti saat ini ketika Arka merayuku. Mungkin ini efek dari kegilaan yang baru saja dilakukan Arsy. Ah, semoga saja ini bukan berarti aku akan kehilangan lelakiku. Aku mengetuk kepala dan meja di depanku bergantian.
Ada apa?
Ah, tidak. Aku hanya berpikir tentang sesuatu yang mengerikan.
Seperti kita akan mencoba rasanya bercinta di tengah pesta?
Arka! Aku tidak pernah memikirkan hal semacam itu. Dasar mesum.
Arka tersenyum dengan tatapannya tidak beralih dari mataku.
Aku tidak sabar menunggumu sembuh dan merencanakan honeymoon ke dua yang lebih romantis. Aku ada ide kita akan ….
Aiden? ingatkan aku untuk minta maaf pada Arka setelah ini. Aku baru saja melihat teman SMA-ku. Panggilanku padanya membuat Arka tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya. Aku terlalu kaget melihat Aiden di tempat ini.
Karina, balas Aiden saat mendekat ke arah mejaku dan Arka. Senang melihatmu. Kamu terlihat berbeda.
Banyak hal sudah terjadi. Bahkan kita lulus hampir sepuluh tahun. Tidak mungkin aku masih sama seperti gadis ABG yang masih bingung membedakan cinta dan hasrat. Aku telah berhasil memiliki apa yang aku impikan. Meski saat ini belum bisa dikatakan sukses, tapi sejauh ini aku sudah sangat puas dengan semua yang aku capai. Tidakkah menurutmu semua itu pantas untuk menjadikanku berubah dan tentu saja jauh lebih baik dibanding saat kita masih sama-sama SMA dulu? kata-kataku tumpah tanpa bisa aku kendalikan. Dulu aku dekat dengan Aiden sebelum dia melanjutkan sekolah ke luar negeri dan kami kehilangan kontak setelah itu.
Kamu berhasil memiliki wedding organizer?
Yes Wedding planner, namanya Dazzling Queen. Seperti yang aku impikan dulu.
Wow, mungkin aku bisa merekomendasikan Dazzling Queen ke salah satu temanku. Dia sedang merencanakan pernikahan.
Ya, kamu harus melakukannya. Setidaknya kamu harus membantu teman lama, kan?
Ehhhhmmm! Aku beralih menatap Arka dan aku rasa Aiden pun melakukan hal yang sama karena setelah itu kami semua sama-sama terkejut. Sejak kapan kamu membiarkan orang memanggilmu dengan nama tengah?
Tunggu. Kamu mengenalnya? tanyaku bingung dengan kejutan yang baru aku dengar.
Ini Aris anaknya Om Pandu, Sayang, jelas Arka dengan melingkarkan tangan di pundakku.
Ah, ya. Aku sudah sering mendengar nama Aris, putranya Om Pandu. Bahkan aku sudah banyak mendengar kisah hidupnya minus masa SMA. Hanya saja waktu semua cerita itu aku dengar, Aris tengah di luar negeri untuk membangun kariernya. Ini pertemuan pertama kami dan jelas membuatku kaget karena ternyata Aris atau yang aku kenal sebagai Aiden, mereka orang yang sama.
Jangan bilang kamu juga terkejut dengan pertemuan ini, sindir Arka dengan tatapan tajam mengarah ke Aiden.
Tentu saja tidak. Aku sudah tahu kalau kamu menikahi teman SMA-ku. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberimu kejutan. Tunggu saja, masih banyak kejutan yang ingin aku tunjukkan padamu, Arka, jawab Aiden yang kini telah duduk di hadapan kami.
Aku tidak menginginkan kejutan apa pun darimu, balas Arka tidak kalah sengit.
Tentu saja kamu menginginkannya. Aku hanya tengah mempertimbangkan kapan kejutan itu akan aku berikan. Tapi, jangan khawatir karena aku bakal tinggal lama di Indonesia. Saat mengatakan itu Aiden menatapku serius. Aku merasakan aura panas.
Aku tidak membutuhkan informasi itu. Tidak penting.
Terserah! Tapi, setidaknya aku memang harus mengakui, kamu bajingan yang sangat beruntung. Menikahi Karina Aryana. Dia sangat baik, pengertian, manis, dan polos …. Aiden menjeda ucapannya. Maksudku, hatinya sangat murni. Meski, mungkin dia tidak terlalu memikirkannya, tapi sebenarnya aku tidak merasa terlalu pantas untuk menjadi temannya.
Sudah pasti. Kalau saat Karin SMA aku tidak terlalu sibuk dengan hal lain, aku pasti melarangnya menjadi temanmu, balas Arka sinis.
Arka tahu hampir segalanya tentangku. Hanya saja saat akhir SMA-ku, Arka tengah sibuk dengan kegiatannya mendaki di tengah pengerjaan tugas akhirnya. Kami hampir tidak pernah bertemu. Saat itulah aku mulai dekat dengan Aiden. Kami memilih jurusan yang sama dan kebetulan kami satu kelas.
Kamu sibuk dengan kegiatan fotografimu. Melakukan pendakian ke banyak gunung. Aku tidak ingin mengganggu dengan menceritakan urusan pertemananku, kataku dengan mengarahkan pandangan pada Arka. Aku harap dia paham dengan maksudku. Aku tidak mau dia salah paham. Itu sudah sangat lama dan tentu saja kami semua sudah berubah.
Jelas sekali. Sekarang kamu jauh lebih cantik. Aku memandang Aiden tidak percaya. Aku tahu kalau Arka kesal mengetahui Aiden atau Aris ini teman SMA-ku. Mungkin lebih dari itu Aiden juga pernah merebut pacarnya. Meski pada akhirnya itu menjadi sesuatu yang disyukurinya. Jadi, aku juga kesal dengan ucapan Aiden barusan.
Itu karena aku bahagia. Sangat bahagia. Ada lelaki baik yang bersedia membahagiakanku dan kami saling mencintai. Itu yang paling penting. Aku memandang Arka dan berharap dia melihat ketulusanku.
Kamu benar, Sayang. Kita sangat bahagia karena kita saling mencintai. Arka mencium pipiku tanpa malu, meski saat ini kami tengah duduk di hadapan sepupunya.
Aku ikut senang melihatmu bahagia, Karina. Sebagai teman itulah yang aku harapkan. Aku mengangkat pandangku untuk memperhatikan Aiden. Ada keanehan di nada suaranya. Tapi, saat melihat wajahnya aku bisa melihat seulas senyum. Semoga itu senyum tulus yang benar-benar ditujukan untuk kebahagiaanku.
Terima kasih, Aiden. Itu memang yang aku harapkan.
Mungkin setelah ini kita bisa ketemu lagi. Temanku, namanya Lita, dia mungkin akan membutuhkanmu untuk membantu mengurus pernikahannya, kata Aiden mengusulkan.
Karin memiliki banyak anak buah. Kalau temanmu memang sangat membutuhkan bantuan untuk mengurus pernikahan, dia bisa menemui orang kepercayaan Karin. Tidak harus bertemu dengannya, kan? Dia harus memulihkan kesehatannya, tidak bisa menemui banyak tamu.
Aku mengusap paha Arka, berusaha menenangkan. Tentu saja aku akan menemui Lita itu, tapi aku tidak ingin mengatakan apa pun yang berpotensi membuat Arka semakin marah.
Tentu. Kalau Karin tidak bisa aku rasa Lita tidak keberatan bertemu dengan siapa pun di Dazzling Queen. Aiden mengatakan dengan ujung bibir sedikit terangkat. Tapi, jika tidak mengganggu waktu pemulihanmu, aku rasa Lita bakal sangat senang kalau kamu bisa menuangkan idemu untuk acara pentingnya.
Aku usahakan. Dazzling Queen selalu senang membantu acara penting seperti itu.
Aku berharap juga begitu.
Omong-omong kenapa kamu tidak berusaha menemani Arsy saja dari pada di sini mengganggu kami. Kamu sudah lama tidak pulang ke Indonesia, kan? Aku rasa kangenmu sudah menumpuk, kata Arka sinis. Aku hanya mengerutkan kening tidak percaya dengan ucapannya.
Baiklah, Karina. Aku rasa suamimu sudah jengah dengan keberadaanku di sini sampai menyinggung masalah mantan pacarnya. Ups! Aiden pura-pura menutup mulutnya. Apa aku salah bicara?”
Aku mengibaskan tangan.
Aku tahu apa itu. Aku tidak akan mengganggu lagi. Sampai jumpa Karina, kata Aiden sebelum meninggalkan meja kami dan aku membalas ucapannya.
Kenapa, sih? Bete gitu sama saudara sendiri. Masih ingat kalau mantan pernah jatuh ke pelukannya? tanyaku menggoda.
Bukan itu intinya. Apa kamu tidak melihat tatapan Aris tadi? Aku mengangkat alis, lalu Arka melanjutkan. Kamu tidak sadar? Tatapan Aris itu bukan tatapan rindu pada sahabat, tapi itu tatapan rindu pada cewek yang disukainya.






