Novel : Cindur Mata (Part 6)

- Penulis

Selasa, 15 Oktober 2024 - 16:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Cindur Mata (Part 6)

Kadang aku berpikir, apa ini cara Tuhan bercanda denganku? Setelah Dia membentangkan kesuksesan, masa depan secerah mentari pagi, rekening tabungan yang angkanya berderet panjang, dan aku hanya tinggal meraupnya. Lalu, semua lenyap saat lelakiku datang. Sesaat lalu aku masih berpikir tentang pencapaian yang lebih tinggi lagi, karena Bu Rhea termasuk orang penting di kota ini. Aku sangat yakin setelah pelayananku bisa membuatnya terkesan bukan tidak mungkin klien yang berasal dari lingkungan orang-orang kaya akan masuk ke daftarku. Sederet angan-angan tentang kesuksesan, uang, masa depan bukan lagi mimpi.

Aku menangis di pinggir tempat tidur, berbaring menatap langit Subuh kota Semarang melalui jendela rumah sakit. Masih ada sedikit bintang, cahayanya seolah tersenyum dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.

Dulu saat aku kecil, setiap aku kesal dengan nilai ulanganku yang jeblok, cahaya bintang itu seolah memberiku keyakinan kalau besok masih ada kesempatan untuk memperbaikinya, seperti tengah memberiku rahasia tentang kesuksesan di masa depan. Benak kecilku berkata, aku akan menjadi pusat perhatian seperti bintang yang berpendar saat makhluk bumi menengadah ke langit. Aku akan menjadi wanita karier yang disorot, terkenal, dan menjadi topik pembicaraan bagi siapa saja yang memutuskan untuk memulai jadi entrepreneurship.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Suara pintu berderit. Arka masuk dengan tangan kanannya memegang handuk dan menggosok rambutnya yang basah. Dia tidak melihatku, aku pun memutuskan untuk tak acuh. Sejak kemarin kami bertengkar.

Setelah kejadian di kamar mandi, aku dibawa ke rumah sakit dan diperiksa secara intensif. Lalu, dokter mengatakan sederet pemeriksaan yang harus aku lakukan selama setidaknya 72 jam ke depan karena diagnosa dini melalui USG dan pengukuran human chorionic gonadotrophin (hCG) katanya tidak meyakinkan. Entah apa yang terjadi, aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang dijelaskan dokter.

Aku minta maaf, Karin. Sebenarnya, aku juga tidak ingin menghalangi keinginanmu untuk terus bekerja, tapi kamu sedang menghadapi masalah serius. Arka menghampiriku setelah hampir satu jam kami hanya diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Tangannya mengusap punggungku dengan lembut. Dokter tidak menemukan janin di rahimmu. Tapi, melihat tanda-tanda yang kamu alami dan tes kehamilan awal tidak diragukan kalau kamu memang hamil. Hanya saja, dokter belum bisa memastikan lokasi kehamilanmu, makanya kita harus menunggu untuk mengetahui kadar hCG-nya juga hasil pemeriksaan lainnya.

Aku juga minta maaf, kataku hanya dalam hati, terlalu payah untuk bisa menyuarakannya. Aku mengerti kalau bukan hanya aku yang tengah menghadapi masalah serius, melainkan Arka juga. Dia terancam kehilangan bayinya. Kalau pemeriksaan beberapa hari ke depan menunjukkan aku hamil di luar kandungan, maka dokter akan menghentikan kehamilan ini. Seharusnya aku senang, tapi entah mengapa hati kecilku juga ikut merasa sedih.

Aku keluar sebentar. Aku butuh kopi. Kamu ingin dibelikan sesuatu?

Aku hanya menggeleng. Entah ke mana perginya suaraku. Aku hanya merasa ada bongkahan batu besar yang tertahan di dada, membuatku sesak. Tanpa sadar aku menangis saat Arka menutup pintu kamar inapku.

Harusnya kamu bisa menolak permintaan Mbak Karin setelah kamu melihat kondisinya, Na! Ingatanku kembali pada saat Arka menemukanku terduduk di kamar mandi dengan tangan memegang celana dalam bernoda darah. Suaranya dingin sekaligus tajam. Nana yang berdiri di samping tempat tidur mengernyit dengan ngeri.

Maaf, Mas.

Kamu sudah berapa lama kerja sama Mbak Karin? Harusnya kamu bisa mengatasi semua masalah tanpa harus melibatkannya. Kondisinya lemah, dia butuh istirahat, dia sedang mengandung anakku, Na.

Aku memejamkan mata. Lelah menyerangku. Perutku juga mulas dan sesekali terasa sakit. Sebenarnya, aku kasihan dengan Nana. Dia harus menelan kemarahan Arka karena permintaanku.

Jangan kamu marahi Nana. Aku yang memintanya datang, selaku di tengah emosi Arka yang meledak-ledak.

Kalau kamu tahu tindakanmu hanya akan mempersulit orang lain, seharusnya kamu bisa menahan diri, Karin. Dari kemarin aku sudah memintamu untuk periksa ke dokter, tapi kamu terus saja menolak dengan alasan tidak suka dengan dokternya, tidak cocok. Kalau saja kita memeriksakan kandunganmu lebih awal, aku rasa kejadian ini bisa dicegah. Dokter pasti tahu apa saja yang tidak boleh kamu lakukan dalam kondisi kehamilan seperti ini.

Aku hanya mau diperiksa dokter yang tidak terlalu ikut campur dengan urusan pribadiku.

Cukup, Karin! Ini bukan waktunya keras kepala.

Aku tidak keras kepala. Aku hanya melindungi hakku.

Aku akan membawamu ke rumah sakit. Tidak peduli siapa dokter yang akan memeriksanya.

Arka membopongku dengan rahang mengeras, tidak lagi mendengarkan ucapanku. Nana masih diam di tempatnya. Tapi, setelah Arka melewatinya, Nana juga mengekor. Dia tidak ikut ke rumah sakit, tapi berjanji akan menyelesaikan urusan Bu Rhea dengan sebaik mungkin dan memintaku untuk percaya.

Aku tidak bisa berbuat banyak selain menurut. Tapi, kekesalanku juga tidak hilang. Bahkan lebih banyak saat dokter mengharuskanku menginap. Sebenarnya bukan masalah menginapnya, tapi sikap Arka yang masih saja cuek dan bicara seperlunya membuatku semakin marah. Dia pasti menyalahkanku atas keadaan ini, aku yakin itu. Aku tidak terima dan memilih memojokkannya dengan berbagai alasan yang hanya ditanggapi dengan mengerutkan kening.

Selama di rumah sakit, aku hanya menunggu perawat bolak balik masuk kamar dan melakukan serangkaian pemeriksaan termasuk mengambil sampel darahku. Aku juga dibawa ke ruangan lain untuk melakukan USG dengan alat yang lebih canggih. Arka yang sudah kembali dari membeli kopi menemaniku tanpa banyak bicara. Dia baru bicara tanpa henti saat dokter datang dan menyampaikan hasil pemeriksaannya. Aku tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan.

Pada pagi ke tiga aku menginap di rumah sakit, dokter visit yang memeriksaku mengatakan sesuatu yang membuat raut muka Arka memerah. Aku tahu dia menahan berbagai emosi yang mungkin tengah menerjang batinnya. Aku pun bingung dengan perasaanku sendiri. Aku pikir aku akan lega, tapi kenyataannya aku sangat sedih seperti akan menghadapi hukuman mati.

Maaf Pak Arka saya harus menyampaikan ini, kehamilan Bu Karin sudah bisa dipastikan kalau itu kehamilan ekstrauterin di ligamen latum. Kami sudah menemukan kantung gestasi yang jelas, meski tanpa kutub janin dan kantung kuning telur. Uterus juga kosong dan kadar hCG jauh dari ambang batas diskriminatif, kata dokter berkacamata itu dengan membaca tulisan di kertas yang dibawanya. Kami akan memberikan suntikan sebagai obat untuk menghentikan pertumbuhan dari sel ektopik. Setelah itu nanti kalau sudah siap kami akan menjadwalkan untuk operasi.

Arka terduduk lesu di sofa. Rambutnya acak-acakan dan matanya merah. Berulang kali dia menarik rambutnya yang sudah mulai panjang dengan desahan yang memilukan. Kondisiku tidak kalah buruknya. Aku menangis sepanjang hari ini sampai tenggorokanku kering untuk alasan yang tidak aku mengerti.

Nggak bisa, ya, kamu sedikit peduli denganku? Aku menatap Arka dengan kesal.

Kamu butuh apa?

Kalau kamu nggak peduli dengan keadaanku, selamanya aku nggak mau hamil, bentakku ketus.

Karin, kamu ngomong apa, sih?

Kamu menyalahkanku karena keadaan ini, kan? mataku mendelik melihat Arka geleng-geleng kepala.

Maaf, kata Arka dengan suara lirih. Tangannya membelai rambutku. Belaiannya lembut dan membuatku ingin menangis.

Kemarin aku memang tidak menginginkan kehamilan ini, tapi bukan berarti aku tidak mencintainya. Aku tidak serius saat mengatakan akan menggugurkannya. Itu hanya gertakan yang dipicu rasa kesalku pada Arka. Saat dokter benar-benar harus mengangkat bayi yang masih sebesar biji selasih ini, aku juga sedih. Bagaimana pun kami sudah bersama-sama selama satu bulan ini.

Arka kembali mengusap kali ini di punggung, tangisku akhirnya pecah, luruh dalam pelukan Arka.

Dokter bilang semuanya bisa diperbaiki dan masih ada kemungkinan untuk kamu hamil lagi. Ini demi keselamatanmu. Karena kehamilan kali ini memang tidak mungkin dipertahankan, kata Arka seolah bisa membaca pikiranku.

Tapi, kamu akan sangat menyalahkanku.

Maafkan aku, Karin. Aku memang sedih, tapi aku lebih sedih kalau mempertahankan bayi ini dan berisiko kehilanganmu, Sayang. Nada suara Arka terdengar menekan. Aku semakin menyurukkan wajah ke perut Arka.

Kamu tidak marah?

Arka menggeleng dan tangan kirinya meremas jemariku. Aku di sini untuk selalu mendukungmu.

Setelah beberapa jam kemudian akhirnya perawat mempersiapkanku untuk operasi, mengganti pakaianku dengan pakaian tanpa kancing berwarna biru muda yang hanya menutupi bagian dada hingga perut. Arka masih setia menemaniku, bahkan saat ranjangku didorong dan dipindahkan ke ruang operasi. Sepanjang jalan Arka terus saja memegang tanganku dengan ibu jari sesekali mengusap punggung tanganku.

Di depan pintu, Arka mencium keningku. Matanya berkaca-kaca, sedang air mataku sendiri sudah meleleh. Aku seperti akan menjalani hukuman mati.

Tenang, ya, Bu. Operasinya tidak akan lama, kata seorang perempuan dengan pakaian petugas operasi. Dia dan rekannya memindahkan tubuhku dari ranjang biasa ke ranjang operasi. Seseorang lagi datang  memasang selang oksigen, memperbaiki posisi infusku, memeriksa detak jantung, dan memasang jepitan di jariku.

Perasaanku campur aduk. Otakku tidak bisa berpikir apa-apa. Mataku hanya bisa menatap langit-langit ruang operasi. Tidak lama setelahnya terdengar suara alat-alat bedah yang dipersiapkan membuat perasaanku makin ngilu. Setajam apa pisau itu menyayat tubuhku? Di bagian tubuhku yang mana mereka akan menggunakan alat-alat itu? Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiranku.

Setelah dokter anestesi menyuntikkan sesuatu, seseorang yang lebih muda menghampiriku. Dia mengatakan sesuatu yang tidak terlalu aku mengerti. Aku hanya menatapnya yang tersenyum padaku. Senyumnya manis. Aku berpikir, mungkin perempuan muda ini jadi salah satu yang diperebutkan para perawat laki-laki.

Saat berpikir seperti itu aku merasa ada sesuatu di perutku, tapi aku tidak tahu apa itu. Hanya suara denting alat operasi yang seperti dilempar berulang-ulang, lalu semuanya kabur. Aku tidak benar-benar ingat apa yang terjadi sampai suara seorang pria setengah baya yang menghampiriku dan  mengatakan kalau operasinya berjalan lancar dan aku akan dipindahkan ke ruang pemulihan. Aku hanya melihatnya tanpa mampu mengatakan apa pun.

Setelah kesadaranku benar-benar pulih, aku sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Semuanya tampak normal. Arka mendekat dan mengambil gelas dengan sedotan, lalu mengarahkan ke mulutku.

Kamu sudah boleh minum.

Arka benar, tenggorokanku sangat kering. Aku pikir bisa menghabiskan setidaknya seluruh air di dalam gelas itu, tapi ternyata menyedot satu tarikan saja sudah membuatku lelah. Akhirnya aku putuskan cukup sekadar membasi lidah dan tenggorokan saja.

Aku pandangi Arka yang terlihat sama lelahnya dengan yang aku rasakan. Pasti perasaannya juga kacau. Biar bagaimana pun kami kehilangan anak. Dia sudah sangat mencintai bayi ini jauh sebelum aku bisa merasakannya. Jelas rasa kehilangannya lebih besar dari yang aku rasakan sendiri.

Setelah meletakkan gelas kembali ke meja, Arka mengambil ponselnya. Dia menekan tombol beberapa kali sebelum menunjukkan padaku.

Aku sudah menguburkan anak kita di pemakaman umum.

Perasaan ini lebih menyakitkan dari pada patah hati. Seolah malaikat membentangkan sayap di hadapanku dan memelukku dengan sangat kuat. Hidungku mendadak tersumbat. Air mataku tersangkut di ujung mata.

Kapan kamu melakukannya?

Tadi waktu kamu masih dalam pengaruh bius. Ibu di sini menjagamu saat aku pergi. Sekarang dia sedang ke luar. Aku meminta Dio menemaninya untuk membeli sesuatu. Dia sangat khawatir dan langsung ke sini waktu aku mengabarkan keadaanmu. Arka mengecupku dan mengusapkan ibu jarinya di ujung mataku.

Kita pasti bisa melewati semuanya, kata Arka penuh keyakinan.

Ya, semua akan terlewati dengan baik. Setelah ini aku tidak mau lagi kebobolan. Aku harus merencanakan kapan waktu yang tepat untuk hamil. Aku ingin semuanya terencana.

Ya, aku yakin, jawabku dengan mengangguk sedikit dan mencoba tersenyum. Aku rengkuh lengan Arka yang masih sangat kekar.

Arka kembali duduk di sebelahku, menarik kursi agar bisa lebih dekat. Dia mengecup punggung tanganku, mengangkat wajah, dan menatapku dengan pandangan seperti biasanya. Hangat dan memuja.

Kamu nggak keluar beli kopi?

Hhhmm. Arka menatapku dengan dahi berkerut. Kamu mau kopi?

Kok jadi aku?

Kamu nyuruh aku beli kopi. Aku pikir kamu mau kopi terus nyuruh aku beli.

Aku memukul lengan Arka. Kamu kalau lagi banyak pikiran kan suka ngopi. Kok sekarang cuman diem di sini. Kalau mau ngopi sana, aku nggak apa-apa ditinggal.

Paham banget, ya, sama kebiasaan suami?

Aku mencium punggung tangan Arka yang masih tergenggam erat dengan takzim.

Karena kita sudah terbiasa dekat, ya, dari kecil. Aku ingat sejak dulu sebelum kita memutuskan untuk menikah, sebenarnya aku sudah merasa sangat nyaman sama kamu, padahal waktu itu aku punya pacar. Kamu juga selalu mencari aku kalau sedang ada masalah. Itu menunjukkan kalau sebenarnya kamu juga nyaman sama aku nggak, sih? Arka tersenyum dengan penuturannya sendiri. Kita tuh sebenarnya saling membutuhkan, meski terkadang banyak bertengkarnya dan aku yakin kita bisa saling menguatkan saat ini dan selamanya.

Kamu banyak nyebelinnya.

Nyebelin, tapi ngangenin. Arka tersenyum.

Aku pandangi Arka yang masih setia dengan senyumnya. Selain tampan, Arka juga baik, bertanggung jawab, dan keren. Aku memberinya nilai delapan, kadang sembilan, bahkan sepuluh pun pernah. Dia memang suami sempurna. Dulu aku pikir kami tidak cocok, kami tidak memiliki chemistry. Tapi, dia menunjukkan besarnya perhatian dan selalu ada untuk jadi teman berbagi segalanya. Sejak dulu semuanya masih sama. Termasuk saat ini, saat kami kehilangan calon bayi, dia masih menunjukkan perhatiannya padaku.

Aku mengacaukan semuanya, ya?

Hhhmm. Dahi Arka kembali berkerut. Ngomong apa, sih?

Keinginanmu punya anak. Aku menatap Arka yang juga menatapku. Aku sudah menarikmu masuk ke dalam kekacauan yang aku buat, juga anak kita.

Semua sudah terjadi. Menyesal pun apa artinya? Kita pasti akan mendapatkan bayi kita lagi. Aku di sini menemanimu. Aku bakal menarikmu dan menyelamatkanmu dari semua kekacauan ini.

Ah, andai keyakinanku bisa sebesar keyakinan Arka untuk bisa memiliki anak lagi.

Kamu tahu, kan, bukan hanya tubuhku yang sakit. Aku perlu menyiapkan batinku juga.

Ya, karena itu aku di sini untuk jadi obat penawar semua sakitmu.

Dengan gerakan cepat, Arka mencondongkan tubuhnya ke arahku. Tangan kanannya meraih kepalaku. Matanya menatap mataku, lalu menciumku dengan lembut. Aku rasakan jiwanya melongok hatiku. Usapan tangannya di tengkukku menawarkan ketenangan.

Aku akan menjagamu, selamanya.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Dinas Pemadam Kebakaran Bondowoso menghadapi krisis armada yang menghambat penanganan darurat di wilayah yang luas.

Kebebasan Pers

Damkar Bondowoso Krisis Armada dan Butuh Tambahan Mobil Pemadam

Jumat, 18 Sep 2026 - 16:31 WIB

error: Content is protected !!