Novel : Cindur Mata (Part 5)

- Penulis

Rabu, 9 Oktober 2024 - 12:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Cindur Mata (Part 5)

Aku nggak pernah suka gerimis pagi. Nggak ada alasan yang pasti, aku hanya nggak suka saja. Terlebih setelah kedua orangtuaku kembali ke Tulungagung, aku merasa jadi lebih sepi. Meski sebenarnya, kepulangan mereka berdampak baik untukku. Mama nggak lagi cerewet mengurusiku dan kehamilan ini.

Hamil.

Ah, perasaanku jadi makin sendu. Sebenarnya, aku bukan benci anak-anak. Aku juga bukan tidak suka hamil. Hanya saja, ini bukan waktu yang tepat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aku menyukai pekerjaanku. Pekerjaan yang kuimpikan sejak dulu. Aku nggak mau kehamilan ini mengganggu pekerjaanku. Bagaimana kalau beberapa kontrak yang sudah masuk tidak bisa kuurus dengan baik karena kehamilan ini?

Setelah hampir lima tahun menjalankan bisnis wedding organizer dan tiga tahun lalu aku berhasil mengubahnya menjadi wedding planner, nama Dazzling Queen mulai diperhitungkan.

Aku selalu menyelesaikan pekerjaanku dengan sempurna. Pujian dari klien sering aku dapat setelahnya. Tapi, setahun yang lalu, saat aku sibuk mempersiapkan pernikahanku sendiri, terjadi kekacauan di salah satu wedding event. Absenku dalam wedding event malam itu menjadi salah satu sebab kekacauan yang terjadi.

Kesalahan yang bisa dibilang fatal. Berawal dari tidak adanya stopper, petugas yang mengatur tamu yang akan naik ke pelaminan dan memotong atau menahan antrean saat sedang sesi foto bersama. Stopper juga mengatur antrean agar tetap tertib dan kondusif. Ketiadaan stopper membuat tamu kacau dan berantakan sepanjang jalan menuju pelaminan.

Setelah aku mengecek semuanya, ternyata penanggung jawab acara malam itu anak baru. Dia menggantikan ketua tim yang berhalangan. Anggota tim lain baru menyadari kesalahan tersebut setelah salah satu tamu yang datang mengunggah di instastory milik pribadinya. Setelah aku konfirmasi, mereka melakukan pembelaan dengan mengatakan bahwa mereka ditekankan untuk mengawasi food stall dan hal-hal lain di luar pelaminan.

Aku tidak memperpanjang masalah. Tapi,  unggahan instastory itu berdampak pada pembatalan beberapa kontrak yang sudah masuk ke Dazzling Queen. Aku kesal, tapi tidak bisa melakukan apa pun selain memperbaiki kinerja.

Aku mulai menata kembali semuanya. Sekarang keadaan makin membaik. Nama Dazzling Queen sudah pulih, tapi aku belum siap memercayakan pengurusannya pada orang lain. Lalu, kehamilan itu datang.

Aku sudah ketemu dan buat janji dengan dokter kandungan perempuan yang bagus. Dia temannya sepupu sahabat teman kantorku, ujar Arka tiba-tiba, membuyarkan semua lamunanku.

Kenapa tidak diskusi dulu?

Kondisi kamu sudah lemah banget. Jadi, aku harus ambil keputusan. Arka menghampiriku yang tengah rebahan di atas sofa dengan membawa nampan berisi sarapan. Ini aku buatkan capcai nggak pakai nasi. Nggak bakal bikin kamu enek.

Arka mengecup keningku sebelum kembali ke dapur untuk membuatkan susu khusus ibu hamil. Sebenarnya, percuma saja dia membuat susu, karena satu gelas susu tidak pernah berhasil aku minum sampai tuntas. Dia tengah berusaha menjadi bapak rumah tangga yang siaga seperti kata Mas Dika tempo hari. Aku berusaha menghormatinya.

Ka, sudah hampir dua minggu kenapa kamu nggak pernah masuk kerja? tanyaku saat mengingat kegiatan Arka beberapa hari ini.

Semua janji pemotretan aku serahkan sama Fio. Aku akan di rumah dan menjagamu setidaknya sampai seminggu ke depan.

Lama banget.

Pekerjaanku sudah settle, aku hanya perlu mengawasi dari jauh. Ada Fio dan yang lain yang akan mengurus semuanya. Arka tersenyum saat mengangkat wajahnya dan menatapku. Ini kehamilan anak pertama kita. Aku mau menemanimu saat bingung dan nggak tahu harus ngapain dengan perubahan di tubuhmu. Jadi, aku akan tetap di sini sampai semuanya baik.

Arka meletakkan gelas berisi susu di atas meja. Lalu, dia duduk di sebelahku dan menggamit jemariku yang terlihat lebih pucat.

Kenapa dia manis sekali? Apakah ini berarti aku harus mulai mencoba menerima kehamilanku?

Aku mau latihan yoga ibu hamil.

Memang boleh dilakukan dengan usia kandungan trimester pertama?

Aku akan cari referensi. Aku tersenyum seraya meraih ponsel. Aku harus berusaha untuk menggerakkan tubuhku. Setidaknya lusa aku sudah bisa ke kantor lagi. Akhir minggu ini ada acara wedding Anniversary, aku harus ada di sana memastikan semuanya berjalan dengan baik.

Nggak, kamu nggak akan ke kantor dulu. Semuanya akan diurus sama Nana.

Ucapan Arka membuat tanganku terpaku dan berhenti menggeser layar ponsel. Aku tidak salah dengar, kan?

Kenapa?

Karena kamu hamil dan masih lemah, Karin. Keselamatanmu dan bayi kita jauh lebih penting dari pada acara apa pun.

Aku sehat, Ka!

Kamu mau bawa kantong muntah ke mana-mana? Di acara pesta banyak orang berkerumun, suara bising, berbagai aroma menyengat. Yakin kamu bisa menahan rasa mualmu?

Aku benar-benar kesal. Kenapa, sih, Arka jadi makin cerewet. Selama usia pernikahan kami dan persahabatan kami dulu, dia selalu menuruti apa pun yang aku inginkan.

Makanya belikan aku obat antimual! Aku mengerutkan dahi tidak percaya melihat ekspresi wajah Arka. Ah, sudahlah. Aku beli online saja.

Aku menjingkat saat tiba-tiba Arka mengambil ponsel dari tanganku.

Kamu jangan seenaknya mengambil barang milik orang!

Tidak ada obat antimual. Besok kita periksa ke dokter.

Aku belum memutuskan dokter mana yang ingin aku datangi. Aku harus memastikan dulu dokter yang memeriksaku bisa support pekerjaanku.

Itu anakku, Karin. Arka menatapku tajam.

Aku tidak peduli. Aku berusaha mengambil kembali ponselku, tapi Arka sudah melompat dari duduknya. Dia berdiri di depanku, menggoyangkan ponsel di depan wajahku.

See, kamu saja nggak ada tenaga buat merebut ponsel ini.

Kamu tahu, kan, ini semua cita-citaku. Pekerjaan ini impianku. Aku semakin geram. Kalau kamu masih menghalangiku untuk melakukan apa yang aku suka, aku akan ….

Apa? Akan apa? tanya Arka dengan mata melotot. Dia menatapku tajam.

Aku gugurkan kandungan ini.

Arka membuka mulutnya, tapi tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mengacak rambut dan kemudian membanting tubuhnya di sampingku.

Kemarahan Arka bertahan sampai kami pergi tidur. Dia memang tidak meninggalkanku, tetap melayaniku seperti kemarin. Tapi, dia tidak bicara sama sekali. Makanan, minuman, atau apa pun yang disediakannya untukku hanya diletakkan begitu saja, tanpa menyuruhku untuk memakan atau meminumnya. Aku sendiri tidak peduli. Aku masih sangat kesal dengan sikapnya yang terus menghalang-halangiku.

Sampai dua hari berikutnya Arka masih irit bicara. Aku pun bersikap sama. Ini justru lebih menguntungkan karena Arka tidak selalu berada di dekatku dan dia tidak lagi memaksaku ke dokter pilihannya.

Sebenarnya, saat bangun pagi aku merasa sangat mual, tapi aku berhasil menahannya. Arka tidak boleh tahu kalau aku masih payah. Semua ini aku lakukan agar dia tidak melarangku pergi ke kantor. Mbak Siti masih rutin datang untuk membersihkan rumah dan mengurus pakaian kotor. Memasak masih diambil alih oleh Arka. Jadi, aku tidak perlu khawatir masalah domestik.

Di depan Arka aku pura-pura menghabiskan semua makananku dan pura-pura menikmatinya. Usahaku berhasil. Arka mengatakan akan ke kantor dan menyelesaikan beberapa urusan. Perasaanku dipenuhi suka cita. Pasalnya hari ini ada technical meeting di rumah Bu Rhea. Aku ingin menghadirinya sekalian meminta maaf karena waktu pertemuan dulu aku pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit. Menjaga hubungan baik dengan klien menjadi prioritasku selama ini.

Dengan semangat aku memulai pagiku. Tapi, Alih-alih bisa bangun dan bergegas ke kamar mandi, aku malah merosot dan nyaris jatuh ke lantai. Kakiku sangat lemas. Aku sampai harus memukul pelan kakiku sampai beberapa kali. Aku perintahkan kakiku agar kuat, tapi tidak berhasil. Sebenarnya semalam aku muntah banyak sekali, tapi aku berusaha menahan suara agar Arka tidak terbangun dari tidurnya. Rasanya karena itu kakiku sangat lemas pagi ini.

Mau ke mana, Rin? tanya Arka yang tiba-tiba muncul di depanku. Dia belum memakai baju, hanya selembar handuk putih yang membelit tubuhnya dari perut ke bawah. Aku terpaku beberapa saat. Dia sangat tampan.

Eh, kamar mandi. Mau pipis.

Aku bantu.

Aku mengangguk dan membiarkan Arka membantuku turun. Aku melipir ke kamar mandi dengan menahan diri sekuat tenaga. Saat di kamar mandi aku muntah, tapi aku tekan suaraku sampai tidak terdengar apa pun. Air kran juga aku nyalakan untuk mengantisipasi kalau ternyata suara muntahku tidak benar-benar bisa aku tahan.

Hari ini dia harus pergi ke kantor agar aku juga bisa pergi. Aku sudah menghubungi Nana. Dia akan membantuku merias wajah dan menyiapkan semuanya, lalu kami langsung ke rumah Bu Rhea. Pak Imam akan meluncur untuk menjemput kami. Acara di tempat Bu Rhea jam sepuluh. Dari sana aku akan makan siang sebentar, lalu pulang. Praktis, Arka tidak akan tahu.

Kalau pun pada akhirnya dia tahu setidaknya aku sudah tenang karena acara besar itu sudah tersusun dengan rapi. Uang dari Bu Rhea akan aku belikan banyak bubuk kopi untuk Arka. Kalau dia marah bisa sepuasnya menyeduh kopi. Aman.

Sebelum berangkat Arka membuat sarapan. Kami makan bersama. Arka terlihat bersemangat dan menghabiskan sarapannya dengan lahap. Aku melakukan hal yang sama, meski dengan cara memaksakan diri. Aku sampai hampir menangis karena tidak tahan menahan rasa mual yang mendorongku untuk muntah. Untung Arka menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Saat dia masuk ke kamar untuk merapikan pakaian dan mengambil keperluan lain, aku segera memasukkan sarapanku ke kantong plastik, mengikatnya, dan membuangnya ke tong sampah.

Sarapan habis, tidak ada muntahan, aku mengembuskan napas lega.

Kamu nggak apa-apa aku tinggal sendirian? Arka mengenakan kaus kaki dan sepatunya, tapi tetap dengan menatapku. Aku khawatir.

Nggak usah khawatir. Aku, kan, sudah sehat. Senyum merekah berusaha aku tunjukkan dengan seceria mungkin. Nih, makananku aja sudah habis.

Arka tersenyum puas. Dia berdiri dan mengambil ransel yang tergeletak di sebelahnya. Sebelum pergi dia membuka kembali tas ransel dan juga ponselnya. Dia mengetik pesan di ponselnya sebelum akhirnya menyandang tas di punggungnya.

Arka menatapku dari tempatnya. Dia terlihat khawatir, tapi aku berusaha menunjukkan keadaanku baik-baik saja. Aku tegakkan punggung, senyum terbaik, semangat, dan sehat. Semua harus terlihat baik, meski kepalaku bukan main sakitnya.

Baiklah, aku harus pergi sekarang. Sudah ditunggu klien. Arka mendekat dan mencium bibirku singkat.

Oke … Hati-hati. Aku akan mengabarimu nanti. Bye. Aku melambai kecil.

Aku hampir meletakkan kepalaku di atas meja, saat tiba-tiba Arka berbalik. Aku kembali tegak dan tersenyum. Dengan gerakan melambai dua tangan meminta Arka untuk segera berangkat. Nana sudah hampir sampai. Dia tidak boleh ketemu Arka atau semua rencana akan berantakan.

Sepuluh menit kemudian Nana sudah mengetuk pintu rumahku. Aku yang meringkuk di sofa ruang tamu berusaha untuk bangun dan membuka pintu. Gerakanku lambat karena aku merasa sangat lelah. Sebenarnya perutku juga lapar karena hanya setengah gelas susu hangat yang berhasil masuk ke perutku.

Mbak, Mbak Karin pucat banget. Nana menatapku dengan ekspresi khawatir. Aku segera tersenyum untuk membuatnya yakin aku baik-baik saja. Mbak Karin kurusan.

Iya, aku makan sedikit beberapa minggu ini. Aku kembali tersenyum. Tidak masalah, Na. Aku sudah tidak sabar melakukan banyak hal.

Aku melebarkan pintu untuk memberi akses jalan pada Nana. Masuk masuk.

Nana mengikuti langkahku ke kamar. Dia memilihkan pakaian yang pantas untukku selagi aku membersihkan diri di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi aku menggigil.

Boleh minta tolong balurkan minyak kayu putih ke punggungku, Na.

Mbak? Nana mengerutkan keningnya. Aman, ya?

Nggak apa-apa. Minyak kayu putih boleh kok dipakai ibu hamil.

Tapi, Mbak.

Nggak apa-apa, Na. Cepetan biar aku juga bisa segera berpakaian.

Kalau terjadi apa-apa.

Nggak akan. Semakin cepat kamu membaluri punggung dengan minyak ini akan semakin cepat kita siap. Kamu mau membuang waktu hanya untuk membahas masalah minyak? Aku menatap Nana dengan gigi bergemeletuk.

Nana akhirnya menuruti permintaanku. Aku tahu dia melakukan dengan berat hati, tapi dia tidak punya pilihan. Aku hargai itu. Setelah selesai mengolesi minyak di punggungku, Nana menyuruhku duduk di depan meja rias

Semoga tidak terjadi apa-apa, gumam Nana yang bisa aku dengar dengan jelas karena jarak kami yang cukup dekat

Nana mulai meriasku dengan hati-hati. Sebenarnya dia tidak perlu begitu. Tapi, aku membiarkannya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk meriasku, karena aku meminta Nana menyapukan eyeshadow, blush on, dan lipstik tipis saja. Aku hanya tidak mau terlihat pucat, tapi untuk melakukan sendiri aku sedikit kesulitan dengan rasa mual yang mendera.

Setelah selesai dengan riasannya, Nana menyuruhku mengganti pakaian. Aku sudah akan berdiri saat tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali. Aku merasakan jarum kasat mata di seluruh bagian kepalaku. Sekelilingku menjadi berputar-putar. Aku merasa tubuhku seperti kincir yang bergerak cepat. Lalu, mual itu datang.

Iya, Pak Imam. Tunggu sebentar. Mbak Karin sebentar lagi siap.

Aku mengerjap. Pinggulku nyeri dan sakit sekali. Aku mau pipis.

Mbak Karin, Pak Imam sudah sampai.

Aku mengangguk dan meminta Nana untuk menungguku sebentar. Aku harus ke kamar mandi untuk pipis dan mengganti pakaian.

Aaaa! Aku berteriak tanpa sadar saat menemukan bercak darah di celana dalamku.

Mbak! Mbak Karin! Mbak Karin kenapa?

Sebelum aku menjawab, suara benturan keras daun pintu menatap dinding kamar mandi membuatku mendongak. Awalnya aku pikir itu Nana, tapi kemudian setelah aku melihat wajah yang muncul di hadapanku, kepanikan itu pun datang.

Kok balik?

Ponselku ketinggalan. Arka berjongkok dan menatapku dengan bingung. Ada apa?

Lidahku kelu. Aku tidak bisa menjawab. Tapi, kemudian Arka melihat celana dalam yang aku pegang.

 

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Profil dan Biodata Mierul Aiman, Aktor Malaysia
Mengenal Cameron Fuller, Suami Phoebe Dynevor
Sinopsis Film Resident Evil 2026: Teror Kurir Medis
Legenda Srimulat Nunung, Kadir, dan Kirun Hadir di Jatim Park 1
Wawancara Matt Griffin tentang The Three-Body Problem Folio Society
Wawancara Clover Press: Hank Kanalz Bahas Marvel Masterworks Baru
Profil dan Biodata Dai Fuad, Aktor dan Penyanyi Malaysia
Profil dan Biodata Zarif Ghazzi, Aktor Muda Malaysia

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 12:31 WIB

Profil dan Biodata Mierul Aiman, Aktor Malaysia

Jumat, 18 September 2026 - 11:39 WIB

Mengenal Cameron Fuller, Suami Phoebe Dynevor

Jumat, 18 September 2026 - 10:08 WIB

Sinopsis Film Resident Evil 2026: Teror Kurir Medis

Jumat, 18 September 2026 - 09:30 WIB

Legenda Srimulat Nunung, Kadir, dan Kirun Hadir di Jatim Park 1

Jumat, 18 September 2026 - 04:40 WIB

Wawancara Matt Griffin tentang The Three-Body Problem Folio Society

Berita Terbaru

Dinas Pemadam Kebakaran Bondowoso menghadapi krisis armada yang menghambat penanganan darurat di wilayah yang luas.

Kebebasan Pers

Damkar Bondowoso Krisis Armada dan Butuh Tambahan Mobil Pemadam

Jumat, 18 Sep 2026 - 16:31 WIB

error: Content is protected !!