Redaksiku.com – Bukti arkeologis terbaru mengungkapkan bahwa kebiasaan manusia mengonsumsi zat psikoaktif ternyata sudah dimulai jauh lebih awal daripada perkiraan para ahli sebelumnya. Temuan mutakhir menunjukkan bahwa praktik mengisap buah pinang telah dilakukan oleh manusia purba di wilayah Sulawesi sejak 25 ribu tahun lalu. Penemuan ini mematahkan teori lama yang menyatakan bahwa penggunaan zat pengubah kesadaran baru muncul setelah manusia mengenal sistem bercocok tanam pada periode neolitikum.
Selama ini, para peneliti meyakini bahwa tradisi memanfaatkan bahan-bahan yang memengaruhi fungsi otak berkembang seiring dengan menetapnya manusia dan dimulainya era pertanian. Zat-zat rekreasi seperti tembakau, alkohol, atau pinang diyakini lahir dari peradaban yang lebih maju. Namun, riset terbaru memberikan sudut pandang yang sama sekali berbeda mengenai perilaku kelompok masyarakat masa lampau.
Kelompok pemburu-peramu prasejarah ternyata telah memanfaatkan kekayaan alam sekitar untuk mencari efek relaksasi, peningkatan fokus, serta penurunan stres. Mereka mengambil biji dari pohon pinang, memasukkannya ke dalam mulut, lalu mengisapnya secara rutin sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Aktivitas ini menunjukkan bahwa kebutuhan manusia terhadap zat psikoaktif sudah berakar sangat kuat sejak zaman prasejarah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jejak Fosil Gigi Manusia Purba di Sulawesi
Penelitian mendalam ini dipimpin oleh Adam Brumm bersama timnya dari Griffith University, Australia, yang melibatkan analisis sisa-sisa fosil langka. Fosil tersebut berasal dari dua individu manusia pemburu-peramu yang hidup di Sulawesi pada masa lalu, jauh sebelum era pertanian dikenal di Nusantara. Melalui pemeriksaan teliti pada struktur gigi kedua fosil tersebut, para peneliti menemukan kejanggalan fisik yang menarik perhatian.
Keduanya mengalami kelainan bentuk gigi yang ternyata bukan disebabkan oleh faktor genetik atau penyakit biasa. Kerusakan dan keausan khusus pada gigi tersebut merupakan akibat langsung dari kebiasaan mekanis dalam jangka panjang. Praktik kuno inilah yang diidentifikasi sebagai cikal bakal kebiasaan mengunyah pinang modern, yaitu kebiasaan mengisap buah pinang utuh secara terus-menerus.
Analisis pada fosil gigi membuktikan bahwa praktik mengisap pinang oleh manusia purba di Sulawesi terjadi sekitar 25 ribu tahun silam.
Hasil riset penting ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal ilmiah internasional Science Advances pada Rabu, 9 September 2026. Publikasi tersebut membuka lembaran baru dalam sejarah antropologi mengenai bagaimana manusia purba berinteraksi dengan flora di lingkungan tempat tinggal mereka.
Pergeseran Pemahaman tentang Zat Psikoaktif
Sebelum penemuan di Sulawesi ini terungkap, para arkeolog memperkirakan bahwa tradisi mengonsumsi buah pinang baru dimulai sekitar 3.500 tahun lalu. Angka tersebut terpaut sangat jauh dari temuan baru yang menunjukkan selisih waktu hingga puluhan ribu tahun lebih tua. Hal ini memaksa para ilmuwan untuk mengevaluasi kembali lini masa kebudayaan manusia purba di kawasan Asia Tenggara.
Teori umum yang mengaitkan konsumsi obat psikoaktif dengan dimulainya revolusi pertanian terbukti memiliki celah besar. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia purba memiliki pengetahuan mendalam mengenai sifat botani dari berbagai tanaman liar di sekitar mereka. Mereka tidak hanya memikirkan aspek nutrisi untuk bertahan hidup, tetapi juga mengenali tanaman yang dapat memberikan efek psikologis tertentu.
Berikut adalah beberapa implikasi penting dari temuan arkeologi terbaru di Sulawesi:
- Tradisi mengisap pinang dilakukan oleh kelompok masyarakat pemburu-peramu jauh sebelum era pertanian mengenal sistem bercocok tanam.
- Kelainan khas pada struktur gigi fosil manusia purba menjadi indikator utama adanya aktivitas fisik berulang akibat mengisap buah pinang keras.
- Penemuan ini memajukan estimasi sejarah penggunaan zat psikoaktif ribuan tahun lebih awal dari catatan literatur ilmiah sebelumnya.
- Kawasan Sulawesi terbukti memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan budaya dan interaksi manusia prasejarah dengan alam.
Riset mutakhir menggeser perkiraan awal tradisi pinang dari 3.500 tahun lalu menjadi sekitar 25.0u0 tahun yang lalu.
Penelitian lanjutan di masa depan dipastikan akan terus menggali lebih dalam mengenai bagaimana tradisi ini menyebar dan berkembang di antara kelompok manusia purba lainnya. Temuan di Sulawesi ini tidak hanya memperkaya catatan sejarah arkeologi Indonesia, tetapi juga memberikan kontribusi besar bagi pemahaman global tentang evolusi perilaku manusia modern.
Pertanyaan Umum
Kapan manusia purba di Sulawesi mulai mengisap pinang?
Berdasarkan bukti fosil gigi yang diteliti oleh para ahli, manusia purba di Sulawesi diperkirakan telah melakukan praktik mengisap buah pinang sejak sekitar 25 ribu tahun silam.
Siapa yang memimpin penelitian fosil gigi tersebut?
Penelitian ini dipimpin oleh Adam Brumm, seorang guru besar dari Griffith University, Australia, bersama tim penelitinya yang mempublikasikan hasil temuan mereka di jurnal Science Advances.
Mengapa gigi manusia purba tersebut mengalami kelainan?
Kelainan dan keausan pada gigi fosil tersebut terjadi akibat gesekan dan tekanan mekanis yang konstan dari kebiasaan mengisap buah pinang utuh secara rutin dalam jangka waktu yang sangat lama.
Ringkasan
Bukti arkeologis dari fosil gigi manusia purba di Sulawesi menunjukkan bahwa kebiasaan mengisap buah pinang telah dilakukan sejak 25 ribu tahun silam. Riset yang dipimpin oleh Adam Brumm dari Griffith University ini mematahkan teori lama yang menyatakan bahwa konsumsi zat psikoaktif baru dimulai pada era pertanian, sekaligus menggeser estimasi sejarah penggunaan pinang yang sebelumnya diperkirakan baru ada sejak 3.500 tahun lalu.












