Setelah membersihkan muka, aku bergegas ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar. 30 menit kuhabiskan untuk berendam di bak mandi besar, seolah ingin meleburkan rasa gundah di dada. Aku teringat kalau belum menghubungi suamiku. Di sana masih jam 7 malam. Selesai memanjakan diri, aku duduk di tempat tidur, meraih ponsel, dan mulai mengetik chat ke Mas Bayu.
Assalamualaikum, Mas! Aku udah di rumah Ibu. Tadi sampai Jakarta jam tiga sore, dijemput Marisa. Kamu lagi apa?
Centrang dua, tapi belum terbaca.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sambil membereskan baju-bajuku, berkali-kali kulirik layar ponsel, berharap ada notifikasi masuk. Namun, satu jam berlalu, belum ada tanda-tanda Mas Bayu membaca chat-ku. Rasa kecewa kembali mendera, tapi segera kutepis. Mungkin Mas Bayu lagi di jalan atau salat di masjid, batinku menghibur diri.
Selesai melaksanakan salat Magrib dan Isya secara jamak, aku berbaring di kasur. Rasa nyaman menyentuh lembutnya sprei membuat mataku terasa berat, padahal biasanya di Riyadh, jam segini aku masih menonton televisi. Tak lama, aku pun terbuai ke alam mimpi, membuatku lupa sejenak pada rasa yang sering menyesakkan dada. Menjelang pukul 03.00 dini hari, aku terbangun untuk melaksanakan salat Tahajud. Kubasuh wajah dengan air wudu lalu menggelar sajadah. Kuadukan semua kegundahan dan kesedihan dalam sujud panjang.
Di kesunyian malam ini, di tengah derai air mata, aku memohon kepada Sang Pemilik Cinta agar selalu menjaga suamiku dan mengembalikan cinta dalam kehidupan kami. Doa tulus yang menembus langit. Hatiku terasa lebih lega setelah melakukan salat. Segera kulanjutkan mimpiku sambil menunggu waktu subuh tiba.
Ingin rasanya aku terus hidup di dalam mimpi, tanpa pernah merasakan lagi sakitnya mencintai dan lelahnya berjuang sendiri.
-bersambung-
Halaman : 1 2






