Amira Dzakiya
Suara azan Subuh membuatku terjaga. Ya Allah, tidurku terlalu lelap, hingga aku melewatkan salat malam. Ada rasa menyesal yang dalam. Bergegas aku mengambil wudu dan melaksanakan salat Subuh. Masih mengenakan mukena, aku meraih ponsel untuk melihat pesan yang mungkin terlewat tadi malam. Sejujurnya, aku menantikan balasan chat dari suamiku.
Mataku berbinar saat membaca balasan chat Mas Bayu. Ternyata benar, ia baru mengecek pesan saat sudah berada di rumah. Aku bisa memakluminya karena peraturan lalu lintas di Saudi sangat ketat. Larangan menggunakan ponsel saat mengemudi mobil, pelanggaran tidak menggunakan sabuk pengaman, hingga melanggar lampu merah akan dikenakan denda yang tidak kecil. Maka dari itu, suamiku baru membaca dan membalas semua pesan saat sudah berada di rumah. Perbedaan waktu empat jam juga membuat komunikasi kami agak terhambat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku sedikit terhibur oleh pesan Mas Bayu. Ia mengakui kalau merasa kesepian karena kepergianku. Ia memang masih mencintaiku dan tidak ingin berpisah. Sambil tersenyum, aku melipat mukena dan meraih Al-Qur™an untuk membacanya. Kegiatanku selanjutnya, menyiapkan sarapan dan menghubungi Marisa untuk janji bertemu.
Ketika aku sedang membuat orak arik telur sosis, Ibu menghampiri dan menemaniku.
Si kembar belum bangun, Bu? tanyaku sambil mengaduk telur di wajan.
Shanaz udah bangun dari tadi. Selesai salat Subuh biasanya dia olahraga jalan pagi. Kalau Sasha, kamu tahu sendiri, jam berapa ia pulang tadi malam. Untung sekarang libur, jadi dia bisa tidur lagi abis salat Subuh. Ibu duduk di kursi makan sambil memerhatikanku.
Apa Sasha biasa pulang malam begitu, Bu?
Sering juga. Katanya urusan kantor.
Masa urusan kantor sampai malam kayak gitu? Dia anak perempuan, nggak baik kalau sering pulang malam. Bahaya juga, kan, Bu? Aku meletakkan piring besar berisi telur orak arik di meja lalu duduk di hadapan Ibu. Kutatap wajah teduh yang masih menyisakan kecantikan di masa mudanya.
Ibu memalingkan wajah, menghindari tatapanku. Sempat kulihat sekilas luka di matanya.
Naluriku berkata ada sesuatu yang tidak beres dengan salah satu adik kembarku itu. Namun, aku tidak mau mendesak Ibu, tidak mau menambah bebannya. Biarlah nanti Ibu bercerita sendiri. Selain itu, aku belum siap kalau Ibu tiba-tiba bertanya tentang masalah rumah tanggaku.
Aku dan Ibu berbincang sambil menikmati sarapan. Aku banyak bercerita tentang Riyadh dan rencanaku mengajak Ibu untuk umroh kembali. Ibu sudah pernah datang ke Riyadh ketika aku dan Mas Bayu baru dua tahun di sana. Ibu lalu bercerita tentang kedua adik kembarku.
Ibu agak khawatir dengan pergaulan Sasha, Mir. Tapi kalau Ibu tegur, nanti dia marah. Ibu sudah tua, malas untuk berdebat. Wajah tua itu terlihat muram.
Nanti coba aku bicara sama Sasha, ya, Bu? ujarku lembut.
Tapi jangan bilang kalau Ibu yang minta, ya?
Aku mengangguk.
Kamu sama Bayu baik-baik saja, kan, Nduk? Tiba-tiba Ibu bertanya seraya menyentuh tanganku.
Aku tergagap, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Naluri seorang Ibu yang merasa ada yang tidak beres dengan putrinya.
Aku ¦ kami nggak ada masalah apa-apa, Bu. Mas Bayu memang lagi sibuk banget sekarang ini, jadi aku pulang sendiri. Kangen sama Ibu dan si kembar. Ibu tenang aja, sahutku hati-hati, berusaha menjaga suaraku agar terdengar biasa.
Ibu memandangku tak percaya, tapi tidak bertanya lebih lanjut.
Oya, nanti Marisa mau ke sini, jemput aku. Kami mau jalan-jalan. Aku berdiri, mengambilkan teh hangat untuk Ibu.
Ibu menerima dan menyesapnya perlahan.
Ibu nggak papa aku tinggal?
Nggak apa-apa. Kamu kan masih lama di sini, masih ada waktu untuk ngobrol sama Ibu, jawab perempuan mulia itu.
Dua jam kemudian aku dan Marisa tiba di sebuah restoran tradisional Indonesia yang mewah di sebuah mall di Jakarta Selatan. Restoran ini terkenal karena kelezatan makanan dan nuansanya yang nyaman. Desainnya menggunakan barang-barang dari berbagai daerah di Indonesia. Ada meja kayu jati rendah dengan hamparan karpet lembut di bawahnya untuk duduk lesehan, hiasan dinding dari bambu, juga kursi yang dibungkus dengan kain batik. Aku sengaja mengajak Marisa ke sini karena rindu masakan khas Indonesia. Di Riyadh juga ada restoran yang menyajikan masakan-masakan Indonesia, tetapi tetap saja rasanya tidak sama dengan yang di sini.
Lo udah siap cerita? tanya Marisa sambil membolak balik buku menu.
Aku mengangguk.
Marisa segera memanggil pelayan dan menyampaikan pesanan kami.
Baiklah, gue siap mendengarkan, ujarnya memandangku lekat.
Sebenarnya gue sama Mas Bayu masih saling cinta. Dia bahkan menolak untuk berpisah. Aku memulai kisah rumah tanggaku.
Lalu, kenapa lo minta pisah? Bayu belum jatuhin talak, kan?
Belum. Dia nggak mau cerai. Dia ingin kami memperbaiki pernikahan, saling bicara secara terbuka.
Nah, itu bagus, kan? Lalu apa masalahnya? Dahi sahabatku itu berkerut, tanda ia tidak mengerti.
Masalahnya, setiap kami akan bicara, Mas Bayu selalu mengelak dan akhirnya bertengkar. Ia selalu menghindar, seperti menyembunyikan sesuatu. Gimana mau selesai masalahnya kalau kayak gitu terus?
Kapan lo mulai ngerasa ada yang nggak beres?
Aku belum menjawab karena pelayan datang menghantarkan makanan kami.
Kalau rasa kecewa, gue ngerasain sejak awal nikah. Hanya aja, gue diam karena nikah itu ya saling nerima kekurangan dan kelebihan pasangan. Saling mengerti dan menghargai. Mengalah. Makanya sakit hati gue, gue simpan rapat-rapat.
Aku meneguk es lemon pesananku sebelum melanjutkan.
Jadi, selama delapan tahun lo nikah, lo pendam semua rasa sakit hati? Nggak ngomong sama Bayu? Mata indah Marisa terbelalak. Gila lo, Mir! Tahan banget sih!
Aku tersenyum.
Kalau gue coba ngomong, dia pasti mengelak dan bilang kalau gue terlalu sensitif. Dia bilang gue terlalu banyak mikirin hal sepele. Aku menghela napas, ingin melepaskan beban dalam hati. Atau jangan-jangan ¦
Marisa menunggu aku menyelesaikan kata-kataku.
Jangan-jangan kenapa? Apa yang terjadi, Mir? Marisa mendesakku.
Mungkin karena gue belum bisa hamil juga sampai sekarang. Mungkin sebenarnya Mas Bayu kecewa karena gue belum hamil juga sampai sekarang. Aku mennduga-duga.
Bisa juga, Mir. Siapa tahu dia didesak keluarga besarnya karena belum juga punya anak, padahal kalian sudah menikah cukup lama. Berapa tahun? Delapan, ya?
Aku mengiyakan.
Apa lo berdua udah coba cek ke dokter, Mir? tanya Marisa hati-hati.
Mas Bayu nggak mau. Dia bilang emang Allah belum kasih. Aku tersenyum pahit.
Lo nggak boleh nuduh juga. Emang harus diomongin semuanya. Jangan lo pendam karena takut Bayu marah. Akhirnya sekarang, lo yang sedih sendiri.
Tanganku yang sedang menyuap nasi bakar terhenti di udara. Marisa benar.
Iya, kayaknya emang gue harus ngomong.
Ngomongnya ya harus ketemu, Mir. Masalah kayak gini nggak bisa dibahas lewat video call. Bayu harus pulang.
Nggak tahu, deh. Mana mungkin juga dia mau pulang, orang kerjaannya banyak banget. Sibuk dia, Sa.
Kalau mau rumah tangga lo selamat, ya harus ngalah salah satu. Lagian lo ngapain pake minta pulang?
Lho, kok jadi gue lagi yang salah? tanyaku dengan suara tinggi, tidak terima dengan kata-kata Marisa. Lo nggak tahu apa yang gue rasakan, apa yang gue alamin karena lo nggak di posisi gue. Rumah tangga lo aman, suami perhatian. Jadi, jangan pernah nyalahin gue! ujarku ketus.
Marisa menyentuh lenganku lembut. Bukan gitu maksud gue, Amira. Maaf deh kalau lo nggak terima apa yang gue bilang tadi. Maaf, ya?
Aku mengembuskan napas kencang. Rasa kesal masih menguasai hatiku.
Mir, maaf, ya? Sekali lagi Marisa memohon.
Akhirnya dengan berat hati aku mengangguk.
Lo coba bujuk Bayu supaya pulang, minta cuti beberapa waktu buat menyelesaikan masalah kalian. Sekalian nengok rumah. Udah lama kosong, kan? Nggak ada yang ngontrak?
Coba deh, meski gue nggak janji dia mau, ucapku lirih.
Terus apa lagi yang bikin lo minta pisah?
Maka mengalirlah cerita kehidupan rumah tanggaku yang harmonis, tetapi juga penuh kerikil tajam.
-bersambung-






