Mir?
Nggak ada yang salah dari rasa cinta, Pras, tapi jadi salah kalau ditujukan ke orang yang tidak tepat, ucapku mencoba bersikap tenang.
Maksudmu? Apa aku salah kalau mulai mencintaimu? tanya langsung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pras, aku nggak bilang kamu salah, tapi kamu cinta sama perempuan yang kurang tepat. Kamu kan sudah tunangan dan sebentar lagi akan nikah. Gimana bisa kamu nyimpan cinta buat aku? Itu bukan cinta, Pras, hanya sayang antara sahabat. Kamu lagi bingung aja karena sebentar lagi akan jadi suami, ujarku lancar meski dengan menahan rasa perih di dada.
Kamu nggak ada rasa apa-apa ke aku? Jujur, Mir! Pras menatapku tak percaya.
Aku tergagap. Untunglah, pelayan datang mengantarkan pesanan kami, sehingga aku tertolong sesaat.
Apa yang kamu harapkan, Pras? Kalau pun aku misalnya mencintaimu, apa akan mengubah keadaan? Nggak, kan?
Pras terdiam. Ia mengaduk jus strawberry-nya, lalu menarik napas dalam.
Kamu benar, Mir. Semua nggak akan berubah, tapi paling tidak, aku lega karena ternyata perasaanku nggak bertepuk sebelah tangan.
Aku terpana. Sebegitu pentingnyakah Pras mengetahui isi hatiku?
Untuk apa, Pras? Bukannya malah akan menyakiti perasaanmu sendiri?
Nggak apa-apa. Aku siap. Sebetulnya aku nggak mencintai Safira. Semua kulakukan demi Ibu, demi baktiku padanya. Pras memandang air mancur di depan kami. Saat kulihat matanya, seperti ada goresan luka yang mendalam.
Lalu kamu butuh sekali pengakuanku?
Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang apakah perlu aku mengutarakan perasaanku sebenarnya? Bagaimana kalau ternyata nanti Pras membatalkan pernikahannya dengan Safira? Aku akan menjadi makhluk paling berdosa. Tidak! Aku tidak bisa mengatakannya. Aku tidak mau menorehkan luka di hati perempuan lain, meskipun untuk itu aku harus terluka.
Mir! Udah selesai ngobrolnya? Pulang, yuk! Suara Mas Bayu membawaku kembali dari lamunan masa lalu yang panjang.
Aku terkejut. Kulihat Marisa menertawakan kebingunganku.
Kamu ngelamun dari tadi. Tuh, liat minuman cuma diaduk-aduk aja, nggak diminum, ujar Marisa memandangku geli. Mikirin siapa? bisiknya lagi.
Aku mendelik dan menempelkan telunjuk di bibirku. Cepat kurapikan jilbab dan gamis, lalu berdiri menghampiri Mas Bayu.
Eh, iya, Mas. Udah mau pulang?
Kulihat Pras masih asyik ngobrol dengan Arga.
Iya. Kita masih harus cari oleh-oleh buat teman-teman di Riyadh.
Aku pun menghampiri Marisa dan memeluknya dengan sayang.
Aku pulang dulu, Sa! Gantian nanti main ke rumah, ya?
Siap, Bos. Lo jangan kayak orang bingung gitu, Mir. Semuanya udah masa lalu, antara lo sama Pras. Dia juga nggak tahu perasaan lo ke dia. Sekarang, fokus selesain masalah lo sama Bayu, ya? Marisa berbisik di telingaku.
Ayo, ngapain sih bisik-bisik? Mas Bayu memandang aku dan Marisa penuh tanda tanya.
Nggak ada apa-apa. Urusan perempuan, kata Marisa lancar lalu mengedipkan matanya padaku.
Sejak pertemuan di rumah Marisa, bayang wajah Prasetya kembali menghantuiku. Cinta lama itu seakan muncul lagi, memenuhi rongga hati. Apalagi sekarang Safira sudah tidak ada.
-bersambung-
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






