Redaksiku.com – Semakin banyak anak muda dari gen Z yang mulai merenungkan ulang soal pentingnya kuliah di tengah realita hidup yang makin kompleks.
Di satu sisi, dunia mengajarkan bahwa pendidikan tinggi adalah kunci kesuksesan. Tapi di sisi lain, faktanya, banyak Gen Z yang justru merasa bingung dan kecewa setelah lulus kuliah.
Masalahnya bukan karena malas atau gak mau berjuang, tapi karena kondisi lapangan kerja sekarang makin ketat. Banyak perusahaan melakukan PHK massal, sementara lowongan baru gak sebanding dengan jumlah lulusan yang terus bertambah tiap tahun. Akhirnya, banyak yang merasa sudah menghabiskan waktu, tenaga, dan dana besar tapi hasilnya gak sesuai ekspektasi.
Riset Ungkap: Banyak yang Menyesal Sudah Kuliah
Data terbaru dari 2025 Gen Z Career Prospects Report yang dirilis Resume Genius memperkuat keresahan ini. Dalam laporan tersebut, sekitar 23% pekerja Gen Z terang-terangan menyatakan penyesalan mereka setelah kuliah. Sementara 19% lainnya merasa bahwa gelar yang dimiliki gak terlalu berdampak positif terhadap karier yang mereka jalani saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pernyataan yang tertulis dalam laporan itu cukup mencolok: banyak dari mereka merasa apa yang dipelajari di bangku kuliah gak nyambung sama sekali dengan dunia kerja. Akibatnya, banyak yang akhirnya harus bekerja di bidang yang gak sesuai jurusan atau menerima gaji yang jauh di bawah harapan.
Gagal Fokus? Banyak yang Salah Pilih Jurusan
Kesalahan dalam memilih jurusan juga jadi salah satu penyebab utama penyesalan ini. Waktu awal kuliah, banyak yang asal ambil jurusan karena ikut-ikutan, tuntutan orang tua, atau sekadar biar keren. Tapi setelah lulus dan masuk ke dunia kerja, baru sadar kalau jurusan yang mereka pilih ternyata minim peluang.
Gak sedikit dari responden yang bilang, kalau bisa balik ke masa lalu, mereka bakal milih jurusan yang lebih menjanjikan secara finansial dan karier. Teknologi, keuangan, dan bisnis digital jadi tiga pilihan populer yang sering disebut sebagai jalur aman buat masa depan.
Selain itu, ada juga yang menyesal karena terlalu fokus ke teori. Mereka sekarang lebih tertarik sama kuliah vokasi atau pelatihan praktis yang langsung bisa dipakai di dunia kerja. Bahkan, ada yang bilang lebih baik langsung buka usaha kecil-kecilan daripada kuliah mahal tapi ujung-ujungnya kerja serabutan.

Tapi Gak Semua Gen Z Kecewa
Walau banyak yang merasa zonk, gak sedikit juga Gen Z yang puas dengan pilihan pendidikan mereka. Masih dari laporan yang sama, sekitar 32% responden menyatakan mereka bahagia dengan jalur kuliah yang diambil. Kepuasan ini bahkan meningkat di kalangan mereka yang menempuh pendidikan lebih tinggi seperti S2 atau program profesional.
Mereka merasa kuliah tetap memberi banyak manfaat, bukan cuma soal kerja tapi juga pengembangan diri, jejaring, dan soft skill yang berguna buat kehidupan secara umum.
Punya Banyak Job, Bukan Buat Gaya-gayaan
Satu tren lain yang mencuri perhatian adalah banyaknya Gen Z yang punya lebih dari satu pekerjaan. Sekitar 58% responden mengaku punya side job, dan 25% lainnya bilang mereka tertarik mencoba hal serupa dalam waktu dekat. Tapi motivasinya bukan buat pamer atau gaya-gayaan, melainkan kebutuhan hidup dan cita-cita jangka panjang.
Ada yang kerja sampingan sebagai content creator, freelancer, tutor, bahkan buka toko online. Sebagian juga menggunakan skill yang dipelajari secara otodidak untuk jadi desainer grafis, programmer lepas, atau admin sosial media.
Kerja sampingan ini kadang jadi pelarian dari pekerjaan utama yang gak sesuai passion. Tapi buat sebagian lainnya, justru dari sinilah mereka bisa berkembang lebih cepat, belajar bisnis, dan merintis usaha mandiri.
Realita Baru: Gelar Gak Lagi Jadi Satu-satunya Kunci
Fakta bahwa banyak Gen Z yang menyesal kuliah bikin kita harus mulai terbuka dengan pandangan baru. Dunia kerja sekarang lebih menghargai skill dan pengalaman ketimbang gelar semata. Banyak perusahaan bahkan mulai melirik portofolio, project pribadi, atau hasil kerja nyata dibanding sekadar nilai IPK.
Itu sebabnya, sekarang banyak platform belajar online dan bootcamp yang makin dilirik. Mereka kasih pelatihan cepat, langsung praktik, dan bisa langsung digunakan buat cari cuan. Gen Z jadi lebih fleksibel, mau belajar dari mana aja, asal bisa kasih hasil yang konkret.
Orang Tua dan Sekolah Harus Lebih Adaptif
Fenomena ini seharusnya jadi alarm buat para orang tua dan institusi pendidikan. Gak bisa lagi memaksakan narasi lama bahwa kuliah di universitas besar adalah satu-satunya jalan menuju sukses. Yang harus ditekankan sekarang adalah pentingnya mengenali minat, potensi, dan kebutuhan pasar.
Sekolah dan guru juga harus lebih siap membekali siswa dengan wawasan karier yang realistis. Bukan cuma dorong anak buat masuk PTN ternama, tapi juga bantu mereka ngerti dunia kerja, tren industri, dan peluang yang tersedia.
Gen Z Punya Semangat, Tapi Dunia Kerja Butuh Reformasi
Meskipun banyak Gen Z yang kecewa dengan dunia perkuliahan, bukan berarti mereka kurang semangat. Justru sebaliknya, mereka terus mencari jalan, berani mencoba hal baru, dan aktif beradaptasi. Tapi semua usaha itu akan sulit berhasil kalau ekosistem dunia kerja gak ikut berubah.
Dunia kerja perlu lebih terbuka dengan fresh graduate, memberi ruang belajar, dan menciptakan peluang baru yang lebih luas. Pemerintah, perusahaan, dan dunia pendidikan harus kerja bareng buat bangun sistem yang adil dan relevan.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






