Novel : Bertahan di Atas Luka Part 42
Jadi, kalau aku mengikuti semua yang kamu sebutkan tadi, kamu nggak akan minta cerai, kan? tanya Mas Bayu sambil menyeruput kuah sotonya dengan nikmat.
Aku membisu. Pelan kuaduk kuah soto dan nasi di piring, sambil pikiranku menerawang mengingat semua kejadian dalam pernikahan kami. Keraguan kembali menghampiriku. Jujur, aku mulai meragukan keinginan untuk berpisah dari Mas Bayu karena melihat kesungguhannya mempertahankan pernikahan kami. Aku bahagia, kalau ia memang benar-benar akan mengubah semua sifatnya. Aku pun akan berusaha keras untuk mengurangi sifat manja dan sensitif yang selama ini membuatku mudah tersinggung.
Apakah kami bisa mewujudkan keinginan untuk tetap bersama?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mir? Teguran Mas Bayu memutus lamunanku.
Eh, iya, Mas?
Kamu ngelamun apa, sih?
Nggak, kok. Aku lagi menikmati masakan kamu. Enak banget, seperti biasa! jawabku berbohong.
Kamu nggak akan minta pisah kan, kalau kita sama-sama nyoba untuk memperbaiki diri?
Aku nggak tahu, Mas, jawabku ragu.
Mendengar itu wajah Mas Bayu menegang. Senyum manisnya tiba-tiba hilang. Ia menatapku tajam.
Mau kamu apa sih, Amira! Plin-plan banget. Tadi katanya kamu juga mau berjuang supaya kita nggak jadi cerai, sekarang kamu ragu-ragu lagi. Aku nggak ngerti mesti gimana lagi kalau kayak gini! Mas Bayu meletakkan sendok dengan kasar di piring dan meneguk air putihnya.
Apa kamu masih mikirin Pras? Masih berharap bisa hidup sama dia? Itu mau kamu? Iya? Bilang aja, Mir! Nggak usah nyari-nyari kesalahanku kalau kayak gitu!
Astaghfirullah! Kok kamu jadi nuduh aku lagi? tanyaku keras, tidak terima dituduh seperti ini.
Kalau nggak mau dituduh, ya yang tegas, dong! Jangan kayak gini, nggak jelas!
Kamu nggak bisa minta aku langsung mutusin nggak jadi pisah, Mas. Aku perlu waktu untuk berpikir, perlu waktu untuk meyakinkan diriku apa yang aku mau. Kalau kamu mau sabar nunggu, aku terima kasih sekali, tapi kalau kamu capek seperti ini terus, silakan aja Mas ceraikan aku! teriakku gusar.
Itu lagi yang kamu minta. Bosan aku, Mir! Mas Bayu membereskan piring makannya dan beranjak pergi.
Mas! Jangan pergi dulu. Kita belum selesai. Aku pun mengejar langkahnya ke dapur.
Percuma! Kayaknya yang ingin tetap mempertahankan rumah tangga kita hanya aku aja. Aku berjuang sendirian, sementara kamu selalu meragukan kesungguhanku, selalu menganggap aku nggak serius. Ya sudah, kalau kamu tetap mau pisah …,terserah!
Aku mengatupkan mulut. Ingin sekali rasanya berteriak.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






