Redaksiku.com – Dalam video yang kini ramai beredar di berbagai platform media sosial, Wakil Ketua DPRD Pasangkayu tampak gagap dan terbata-bata saat membacakan teks Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 di sebuah acara resmi kenegaraan.
Video berdurasi kurang dari satu menit itu langsung menyita perhatian publik. Banyak warganet yang mempertanyakan profesionalitas dan kesiapan seorang pejabat publik yang mewakili rakyat namun terlihat kesulitan saat menyampaikan pidato formal yang seharusnya sederhana.
Kronologi Kejadian: Momen Canggung di Panggung Resmi
Dalam video yang viral tersebut, terlihat suasana acara berlangsung cukup khidmat. Deretan tamu undangan mengenakan pakaian formal, sementara di panggung, sang Wakil Ketua DPRD Pasangkayu berdiri dengan gagah di depan mikrofon. Namun, situasi berubah saat ia mulai membaca teks pidato.
Alih-alih membacanya dengan lancar, pria tersebut justru terlihat terbata-bata, mengeja kata per kata, bahkan terdiam beberapa kali seolah kehilangan fokus. Di sampingnya, tampak seseorang yang diduga ajudan atau staf protokol ikut membisikkan kalimat demi kalimat untuk membantu sang pejabat melanjutkan pidatonya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Momen tersebut membuat suasana yang awalnya khidmat berubah menjadi canggung. Beberapa tamu undangan bahkan terlihat menundukkan kepala, sementara penonton di belakang terdengar saling berbisik.
Tak butuh waktu lama, potongan video itu diunggah ke media sosial dan langsung viral. Dalam hitungan jam, unggahan tersebut diserbu ribuan komentar dari publik yang menyoroti minimnya kesiapan pejabat dalam menjalankan tugas simbolik seperti membacakan teks UUD 1945.
Kritik Publik: Malu, Wakil Rakyat Kok Kayak Gitu?
Reaksi warganet pun beragam, meski sebagian besar bernada kritik dan kekecewaan. Banyak yang menyayangkan bahwa seseorang yang menduduki posisi tinggi di lembaga legislatif daerah bisa tampil tanpa persiapan matang.
Ini bukan acara pribadi, ini mewakili institusi DPRD. Seharusnya dites dulu kemampuannya membaca naskah resmi sebelum tampil di podium. Kalau masih harus dituntun seperti anak sekolah, lebih baik nggak usah bicara. Malu banget, tulis Komarudin, salah satu warga Pasangkayu yang diwawancarai media lokal.
Komentar serupa juga membanjiri media sosial. Sebagian besar menganggap kejadian ini memperlihatkan lemahnya kualitas sumber daya manusia di kalangan pejabat publik daerah. Namun, tak sedikit juga yang mencoba bersikap netral dan berempati, dengan menilai mungkin sang pejabat sedang grogi.
Namanya juga manusia, mungkin grogi karena disorot banyak orang, tulis salah satu pengguna TikTok.
Kasihan juga sih, mungkin baru pertama kali tampil di acara sebesar itu. Tapi tetap aja, harusnya latihan dulu, komentar lainnya di kolom unggahan yang sama.
Analisis Akademisi: Masalah Ini Lebih Dalam dari Sekadar Grogi
Kasus viral ini ternyata juga mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Dosen Ilmu Politik di salah satu universitas di Sulawesi Barat menilai bahwa insiden ini bukan sekadar soal grogi atau kesalahan individu, melainkan mencerminkan masalah sistemik dalam proses rekrutmen politik di tingkat daerah.
Wakil rakyat bukan hanya dituntut bisa berbicara, tapi juga berbicara dengan isi, dengan wibawa, dan memahami konteks acara yang dihadiri. Ketika seorang pimpinan dewan tidak mampu membaca teks pidato dengan baik, apalagi sampai dituntun, itu menunjukkan lemahnya proses kaderisasi dan seleksi calon legislatif kita, tegasnya.
Menurutnya, kejadian ini bisa mengikis kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif, terutama di tingkat daerah. Dalam sistem demokrasi, anggota DPRD bukan hanya sekadar perwakilan rakyat, tapi juga simbol kecakapan politik dan intelektual masyarakat daerah.
Kalau yang tampil di depan publik saja tidak siap, bagaimana masyarakat bisa percaya pada kapasitas lembaga yang diwakilinya? ujarnya menambahkan.
Fenomena Viral Karena Salah Baca
Fenomena seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, publik juga sempat dihebohkan oleh beberapa kasus serupa, di mana pejabat publik baik di tingkat daerah maupun nasional melakukan kesalahan fatal saat membacakan teks upacara atau pidato resmi.
Peristiwa-peristiwa seperti ini sering kali viral karena dianggap menggambarkan kualitas kepemimpinan yang kurang profesional. Padahal, banyak ahli menilai bahwa kemampuan dasar seperti berbicara di depan publik dan membaca naskah resmi seharusnya menjadi kompetensi wajib bagi pejabat pemerintahan.
Bahkan, sebagian warganet menilai bahwa insiden ini memperlihatkan kurangnya pelatihan komunikasi publik di kalangan pejabat daerah. Setidaknya harus ada pembekalan public speaking sebelum duduk di jabatan penting, tulis seorang pengguna X (Twitter).
Antara Kritik dan Empati
Di sisi lain, tak semua komentar bernada sinis. Ada pula warganet yang berusaha memahami sisi manusiawi dari peristiwa tersebut. Mereka mengingatkan publik untuk tidak langsung menghakimi tanpa mengetahui kondisi sebenarnya.
Mungkin beliau lagi grogi. Kadang kalau udah di depan banyak orang, semua hafalan bisa hilang seketika, tulis seorang netizen di kolom komentar video viral itu.
Beberapa juga berpendapat bahwa tekanan sosial di era digital membuat siapa pun bisa menjadi korban viral tanpa sempat menjelaskan konteks yang sebenarnya terjadi.
Zaman sekarang salah ngomong dikit aja bisa viral. Apalagi kalau itu pejabat. Harusnya dikasih ruang untuk klarifikasi dulu sebelum dihujat rame-rame, tulis akun lainnya.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






