Redaksiku.com – Fenomena semburan lumpur di Cirebon kembali menjadi sorotan publik setelah video kondisi di Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, viral di media sosial. Dalam rekaman yang beredar, terlihat lumpur berwarna abu-abu kecokelatan menyembur dari sebuah kubangan besar, disertai bau menyengat yang membuat siapa pun menutup hidung.
Viralnya video tersebut membuat banyak orang mengira kejadian itu baru terjadi. Padahal, bagi warga sekitar, semburan lumpur di Cirebon bukanlah peristiwa mendadak. Fenomena ini sudah berlangsung puluhan tahun dan menjadi bagian pahit dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Ironisnya, meski dampaknya dirasakan langsung oleh warga, kondisi ini seolah luput dari perhatian serius. Bau belerang, gangguan kesehatan, hingga kerugian ekonomi terus menghantui warga tanpa solusi yang jelas hingga kini.
Semburan Lumpur di Cirebon yang Disebut Warga sebagai Kawah
Lokasi semburan lumpur di Cirebon berada di sebuah area terbuka yang oleh warga setempat disebut sebagai kawah. Dari kejauhan, kubangan ini tampak seperti air yang mendidih, meski suhunya sebenarnya dingin. Lumpur terus bergerak dan menyembur secara masif, terutama saat musim hujan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Warna lumpur yang abu-abu kecokelatan menjadi ciri khas fenomena ini. Selain itu, bau belerang yang menyengat langsung menusuk indera penciuman, bahkan bisa membuat mata perih dan napas terasa berat jika terpapar terlalu lama.
Meski jaraknya sekitar satu kilometer dari permukiman warga, angin sering membawa bau tersebut hingga ke rumah-rumah warga di Blok Sawadeket dan Blok Gambir. Kondisi ini membuat warga tidak benar-benar bisa menghindar dari dampak semburan tersebut.
Warga Hirup Bau Menyengat Selama Puluhan Tahun
Ketua RW setempat, Yunus, mengungkapkan bahwa semburan lumpur di Cirebon sudah ada sejak zaman nenek moyang. Artinya, generasi demi generasi tumbuh dengan kondisi lingkungan yang sama tanpa perubahan berarti.
Ini bukan kejadian baru. Dari dulu sudah ada, ujar Yunus. Ia sendiri mengaku sawah miliknya berada cukup dekat dengan kubangan lumpur tersebut.
Selama bertahun-tahun, warga menghirup bau belerang hampir setiap hari. Akibatnya, tidak sedikit warga yang mengalami gangguan pernapasan ringan hingga kronis.
Meski jarang terdokumentasi secara medis, keluhan seperti sesak napas dan iritasi mata menjadi cerita yang berulang di lingkungan tersebut.
Dampak Serius Semburan Lumpur terhadap Pertanian Warga
Selain kesehatan, semburan lumpur di Cirebon memberikan dampak besar pada sektor pertanian. Sawah-sawah yang berada di sekitar lokasi semburan mengalami penurunan produktivitas yang signifikan akibat paparan gas belerang.
Yunus menjelaskan, sebelum dampak semburan semakin terasa, seperempat hektare sawah bisa menghasilkan tujuh hingga delapan kuintal padi. Namun kini, hasil panen menurun drastis hingga hanya tiga atau empat kuintal.
Penurunan produksi ini tentu berdampak langsung pada penghasilan petani. Sawah yang menjadi sumber penghidupan utama kini justru menjadi lahan penuh risiko, terutama saat musim hujan ketika semburan lumpur semakin aktif.
Elektronik Cepat Rusak, Kerugian Ekonomi Tak Terhindarkan
Dampak semburan lumpur di Cirebon tidak berhenti pada pertanian dan kesehatan. Warga juga mengeluhkan barang-barang elektronik yang cepat rusak akibat kandungan belerang di udara.
Biasanya elektronik bisa lima tahun, sekarang satu atau dua tahun sudah karatan, ungkap Yunus. Televisi, kipas angin, hingga peralatan rumah tangga lainnya menjadi lebih rentan rusak.
Kerugian ini memang terlihat kecil jika dilihat satu per satu, tetapi jika diakumulasi selama bertahun-tahun, nilainya menjadi sangat besar bagi warga. Terlebih, tidak ada kompensasi atau bantuan khusus yang diterima masyarakat atas kerusakan tersebut.
Semburan Lumpur Pernah Dimanfaatkan, Kini Dibiarkan Terbuka
Menariknya, semburan lumpur di Cirebon ini pernah dimanfaatkan secara industri. Pada era 1960-an, sebuah pabrik kapur menggunakan material dari semburan tersebut sebagai campuran untuk menetralisir zat beracun.
Namun setelah pabrik tersebut berhenti beroperasi, kawah lumpur dibiarkan terbuka tanpa pengelolaan lanjutan. Sejak saat itu, warga menjadi pihak yang paling terdampak, tanpa ada pemanfaatan atau pengamanan lingkungan yang memadai.
Kepala Desa Cipanas, Maman Sudirman, membenarkan bahwa sejak pabrik tutup, tidak ada lagi penanganan serius terhadap lokasi semburan tersebut.
Air Sumur Berbau dan Kondisi Memburuk Saat Musim Hujan
Selain udara, semburan lumpur di Cirebon juga memengaruhi kualitas air tanah. Warga mengeluhkan air sumur yang berbau, terutama bagi mereka yang tinggal tidak terlalu jauh dari lokasi semburan.
Saat musim hujan, kondisi menjadi lebih parah karena kubangan terisi air dan aktivitas semburan meningkat. Sementara di musim kemarau, meski tidak ada lumpur yang menyembur, gas tetap keluar dan menyebar ke udara sekitar.
Fenomena ini membuat warga harus hidup dalam ketidakpastian, karena dampaknya tidak pernah benar-benar hilang sepanjang tahun.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






